Akhir-akhir ini lini masa media sosial saya berisi penggeledahan toko buku, perampasan, serta disitanya buku-buku yang dianggap berideologi kiri. “Komunisme sudah mati,” ujar orang-orang di kolom komentar yang diamini oleh puluhan atau ratusan orang lain.

Orang-orang ramai membahas fenomena ganjil ini dari berbagai sisi, mulai dari meneliti aspek historis yang membuat beberapa orang kepanasan dengan buku-buku ‘kiri’ ini sampai aspek-aspek spiritual dan antropologi. Saya juga, sebagai seorang yang hidup di lingkungan akademis, lembaga pendidikan bernama Sekolah Menengah Atas ,merasa memang tidak perlu adanya kasus buku-buku dibredel.

Bukan karena saya seorang kutu buku yang menghabiskan waktu untuk membaca, saya tidak merasa dirugikan. Toh, saya sudah paham setidaknya bagaimana ideologi kiri, tulisan-tulisan Tan Malaka atau gagasan-gagasan Marx. Saya merasa kasihan, yang dirugikan sejujurnya adalah mereka yang blas tidak mengenal sama sekali ideologi kiri.

Mereka yang tidak paham apa itu komunisme, marxisme, atau sosialisme akan lantas berpikir jika kadar keharaman dari ideologi ini setara dengan liur anjing atau menduakan Tuhan. Melihat buku-buku bersampul merah menyala dari toko buku dicabut dari rak-raknya oleh petugas berpangkat komandan atau letnan tentu akan menimbulkan stigma negatif.

Untung kalau orang-orang awam berpikir komunisme itu haram, bagaimana jika mereka malah menganggap kalau segala buku berakhiran -isme itu haram? Bagaimana jika lantas mereka berpikir bahwa segala macam buku yang nonfiksi dan membahas tema-tema ‘berat’ itu haram?

Sejak dulu ‘perang pemikiran’ lewat buku sudah digaungkan. Pemikiran-pemikiran kiri sendiri sudah ditentang oleh beberapa penulis, seperti Taufik Ismail yang menulis Katastrofi mendunia: Marxisma, Leninisma, Stalinisma, Maoisma, narkoba’ yang menyatakan jika ideologi itu sama berbahayanya dengan narkoba.

Publik senang, buku-buku dikritik lewat buku, lewat opini sampai artikel bersambung. Ideologi-ideologi dikritik dari ruangan debat sampai seminar tingkat nasional. Tapi membelenggu buku dengan cara digeledah secara serampangan tanpa tahu buku apa yang mereka geledah adalah hal ceroboh.

Dalam percakapan di sebuah grup pecinta buku yang saya ikuti, semua menyayangkan aksi ini terjadi. Karena bagaimanapun juga, sungguh tidak bijaksana membredel buku-buku yang dihasilkan dengan pemikiran yang sungguh-sungguh, dengan menganalisis berbagai macam sejarah dan observasi yang bukan main-main. Intelektual lawan dengan intelektual, seperti itulah yang dikatakan anak-anak muda zaman sekarang.

Dari beberapa sumber berita daring, saya menemukan fakta bahwa ternyata salah satu buku yang disita justru peluncurannya direstui oleh Megawati Soekarnoputri dan Jendral TNI (Purn.) Try Sutrisno, berjudul Mengincar Bung Besar: Tujuh Upaya Pembunuhan Presiden Sukarno.

Buku yang berisikan rekam jejak sejarah itu ditarik, menyisakan tanda tanya di benak pembaca buku, pengunjung toko buku, pelayan toko dan orang-orang yang terlibat dalam pembuatan buku. Sebagian mungkin mengumpat yang menyita buku, sebagian lagi mengumpat ke arah yang berbeda.

Lagi, selain buku itu juga dua buku karya Soe Hok Gie Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan dan Di Bawah Lentera Merah ikut disita. Gilanya, buku berjudul Empat Karya Filsafat juga ditarik di Kediri. Jadi sasaran utama operasi ini apa?

Jika operasi ini didasarkan pada TAP MPRS nomor XXV tahun 1966 yang berusaha untuk membubarkan segala bentuk kegiatan dan penyebaran komunisme, marxisme dan leninisme, sudah salah langkah jauh mereka berjalan. Seolah segala macam buku dengan sampul merah, berbau isme, dan menyinggung-nyinggung pak tua jenggotan Marx adalah auto-kuminis.

Apalagi setelah buku filsafat yang konon ikut ditarik, saya jadi takut, jangan-jangan buku filsafat lain ikut dibredel dengan dalih penyebaran ideologi kiri. Lha, memang buku-buku filsafat membahas ideologi, buku-buku sejarah sudah tentu ada yang membahas perkembangan ideologi kiri ini pula.

Melarang buku-buku terindikasi berideologi kiri beredar sama halnya dengan memaksa masyarakat untuk paham ideologi ini hanya dengan satu pemahaman absolut : bahwa komunisme, sosialisme, dan ideologi kidal ini berbahaya, diharamkan untuk disentuh, dibaca atau dicicipi.

Saya jadi ingat dengan lagu Jason Ranti berjudul Bahaya Komunis, lagu yang menjadi dagelan atas phobia masyarakat dengan komunisme ini menjadi pas jika harus diputar saat ini.

Kini curiga waktu kulihat
istri tercinta rambutnya merah
Bibirnya merah, 
behanya merah,
kukunya merah,
sepatunya merah

Oh, istriku mengapa kau merah?
Mungkin ia agen rahasia?

….

aku membaca mulai dari kiri
oh ini buku pasti buku kiri, 

Demikian yang terjadi, seperti yang disenandungkan Jeje Boy (nama akrab Jason Ranti) bahwa orang-orang menjadi ketakutan setengah mati atas ideologi yang sudah angkat kaki dari bumi dan galaksi ini. Jika buku-buku sumber dimana kita bisa membaca dunia dari berbagai sudut pandang ditarik dan dimusnahkan, artinya kita memang dipaksa untuk memahami dunia dari satu sudut pandang.

Buku tidak bisa dibelenggu begitu saja. Justru hal-hal seperti ini akan membuat puncak kemarahan luar biasa dari berbagai pihak yang memang bergerak dan beraksi di bidang intelektual. Akademisi-akademisi dengan peluru teori, kutu buku yang menggerutu cemburu karena buku dianggap sama dengan batu, hingga penulis dan penerbit yang akan bersama-sama turun menentang hal yang dianggap anti-intelektualisme ini.

Saya jadi ingat sebuah pesan yang pernah dibaca di lini masa media sosial saya, begini bunyinya “Jika kau merasa bodoh, bacalah buku, jika kau merasa pintar, baca lebih banyak buku.” 

Nah, kalau buku-bukunya sudah ditarik dan dibumihanguskan, buku mana yang mau kita baca? Kalau suatu ideologi dianggap salah, tumbangkan dengan ideologi lain. Begitu yang dilakukan para filsuf besar dunia, istilahnya, sekali lagi ‘intelektual versus intelektual’. 

Nah, setelah sejauh ini tentu saya berharap sahabat pembaca sekalian paham, kenapa ini bukan hanya urusan kutu buku saja, tetapi kita semua agar kepala kita tidak membeku seperti batu. Mbok ya jangan berharap kita bisa perang intelektual jika ternyata intelektualitas saja masih dilawan dengan anti-intelektual.