Aku mungkin adalah bagian dari kertas. Seperti yang diketahui banyak orang bahwa manusia terlahir seperti kertas putih. Mungkin aku yang masih menjadi kertas putih itu hanya dalam bentuk kalimat tanya tentang seperti apa aku disuatu saat nanti dan jawaban dari pertanyaan itu masih mengambang sampai saat ini dimana aku sudah menjadi kertas buram yang kusam dan penuh coretan.

sebelum aku ada, sudah ada kertas

setelah aku ada, masih ada kertas

Mungkin aku tidak menemui waktu dimana kertas bisa mendekatkan yang jauh. Yaitu ketika Ayah dan Bunda bertemu dan menjelaskan arti sebuah cinta, yang artinya cinta yang terselip dalam kehidupanku datang dengan bantuan kertas. Bukankah kertas telah menjadi objek terpenting dalam kehidupanku? Sehingga aku terlahir di dunia ini dan bisa menjalani hidup sampai sekarang.

Kertas menjadi penolong yang setia. Dia membantu ku mengenal Allah, Sang Pencipta. Melalui Firman Allah yang tertulis dalam lembaran kertas, aku sangat yakin para khilafah sangat bersyukur kepada Allah dengan kehadiran kertas. Maka Allah menjadikan kemudahan bagi manusia dan membuat kemajuan dalam segala hal hanya dengan selembar kertas.

Bukankah kita kadang tidak menyadari nya? Atau memang tidak menyadari nya? Sangat ajaib kertas bisa membangun rumah dan bangunan tinggi, pesawat, kapal dan alat transportasi lain, ilmu pengetahuan dan teknologi. Kertas menjadi objek terpenting sejak awal diciptakan jagad raya. Dari mana kita tahu definisi, awal mula, dan sebab jika tidak berasal dari sebuah buku. Memangnya buku itu apa? Jika tidak melainkan berlembar-lembar kertas. 

Kertas mengajari ku banyak hal. Dia berusaha membantuku menyelesaikan suatu masalah dan tugas yang belum selesai, dia menjadi pendengar yang baik saat aku mulai bisa menuliskan perasaan ku dalam bentuk kalimat panjang, dan dia telah membantu para peneliti dan ilmuwan yang membuatku paham akan ilmu pengetahuan yang tidak pernah habis  walau pun dicari seluas alam semesta ini.