Orhan Pamuk, dalam obituari tentang kotanya yang indah –Istanbul- pernah berkata kurang lebih begini, “pendidikan ada untuk menunjukkan realitas”.  Hal ini ia dasari pada opininya di masa kecilnya yang mengalami masa-masa kelam dalam pendidikan di Turki.

Menghadapi guru dengan rotan dan murid-murid yang dipaksa menghafal adalah hal yang wajar, karena bagi Orhan, Istanbul pada masa itu tak kalah tak seimbangnya – pula dilanda kemurungan setelah jatuh-sejatuh-jatuhnya pasca PD II.

Hal yang dikatakan Orhan jelas menarik, terutama jikalau kita kini hanya memandang sistem pendidikan dari satu sisi: sisi menyamaratakan dan jam yang terlalu berat. Di masa lampau bahkan seramnya sama dengan apa yang diceritakan Orhan. Sebagai Gen-Y, saya bersyukur pula pernah merasakan hal seperti itu.

Saya kemudian mengingat apa yang dikatakan ayah saya dulu, “dunia ini bukan untuk orang lembek, dan kalau kamu lembek, maka seseorang akan menjatuhkan kamu”. Jika berangkat dari sini – dari argumentasi Orhan ataupun apa yang dikatakan ayah saya, sistem pendidikan kita sudah sempurna.

Kesampingkan dulu kutipan Einstein yang masih saya ragukan darinya hingga kini perihal ikan itu jenius, kecuali disuruh berenang. Pada opini Orhan, ia mengajarkan bahwa di dunia nyata, tempat kita kini berpijak, tak baik-baik saja setelah lulus. Bahkan, seseorang harus siap terhadap kemungkinan terburuk dalam hidup.

Kalau kamu berbeda, di masa lampau, kamu bisa saja dipukul dengan rotan oleh gurumu. Atau setidaknya diomeli dan dipanggil orangtuamu. Belum lagi murid yang menertawai opinimu yang berbeda dan lalu kau dianggap bodoh ataupun sotoy hingga sampai pada tindakan yang membuatmu risih.

Menambah bebanmu yang pergi pagi dan pulang sampai jam 2 (sangat bersyukur betul, anak sekolah tak lagi ada les sampai jam 4 yang diwajibkan sekolahnya). Setelah diajari menjadi mesin, pulang ia bisa saja stres dan merasa depresi, lalu, kalau tak kuat, ia mencoba membaur dan menjadi biasa.

Hal ini baru perihal berbeda, belum lagi perihal kasus JIS yang pelakunya melakukan hal yang sangat menjijikkan itu. Ataupun guru yang diganggu oleh anak murid yang rese dan kemudian sang guru marah lalu sang anak melaporkannya ke orangtuanya sehingga menimbulkan kekacauan setara perang badar. Ataupun perihal kesejahteraan guru yang sangat timpang antara yang di kota ataupun di daerah. Atau bahkan perihal murid yang dianggap harus bisa berbagai macam hal.

Hal ini menggambarkan jelas perihal realitas yang dikatakan Orhan: bahwa masyarakat kita berisi dengan orang-orang yang tak siap menerima perbedaan. Maka, segala perbedaan akan diperangi atau akan dimusuhi, dengan ikhtiar semaksimal mungkin.

Tak semudah itu menjadi diri sendiri, dan menjalani pilihan yang dijalani sendiri. Atau bahkan, saat kita berpikir baik-baik saja, sesuatu secara tak terduga bisa datang dan mengacaukan segalanya. Semua diajarkan sejak dini, dan menurut spekulasi saya, mungkin semuanya diajarkan agar kita siap mengubah apa yang salah di masyarakat kita secara sadar.

Kendati demikian, saya sadar, tentu akan sangat jahat kemudian membela sistem pendidikan macam ini. Sistem pendidikan kita melahirkan mesin, dengan lulusan yang orientasinya untuk kerja. Termasuk saya. Bukan melahirkan seorang pembeda yang seperti lampu ditemani ngengat di malam hari.

Maka dari itu, takkan saya akhiri tulisan ini dengan sebuah kesimpulan, karena sistem pendidikan kita memang seakan bingung dan tak memiliki kesimpulan bagaimana wujud generasi bangsa yang cerah yang mereka inginkan. Selamat hari pendidikan!