Lampu-lampu di sepanjang jalan mulai menyala. Angin lembut. Sekali-kali angin menyepoi, meniupkan debu ke udara. Nampak sisa-sisa senja masih berkilau di kaca-kaca toko. Orang-orang bergerombol menunggu angkot.

Kuberhentikan sebuah angkot jurusan Siteba. Angkot yang hanya menyisakan satu bangku kosong. Sesak rasanya ketika aku sudah duduk, membuatku ingin cepat sampai di rumah kos. 

Seorang anak laki-laki dengan seragam putih abu-abu, duduk paling belakang, membuka lebar kaca angkot.

Aku memandang kaca yang terbuka itu. Menyaksikan kantor-kantor sudah tidak ada mobil parkir di halamannya. Pohon-pohon berlari meninggalkan angkot. Kurasakan angin begitu sejuk di wajahku.

Mungkinkah aku salah. Tapi benar itu tokonya. Biasanya mereka tutup jam delapan malam. Sengaja aku dari Pasar Raya mampir ke sana. Ada buku yang ingin aku cari. 

Tentu saja bisa bertemu Lusi. Sudah rindu aku padanya. Berbulan-bulan aku tak ke toko buku. Berbulan-bulan itu pula aku tak bertemu Lusi, membuat aku sering membayangkannya. Keinginan untuk mengobrol dengannya membuncah.

Biasa aku ngobrol dengannya setelah mendapat buku yang kucari.

“Pemilik toko masih ada hubungan keluarga denganku,” ketika kutanya ia mengapa tertarik bekerja di toko buku itu.

Aku hanya memandang wajahnya.

“Sudah berapa lama kerja di sini,” kataku, setelah sama-sama diam beberapa jenak.

“Semenjak aku sampai di kota ini. Empat tahun lebihlah.”

Sewaktu kami ngobrol di kafe hari Senin, tiga bulan lalu, ia seakan tak sanggup menyembunyikan senyumnya yang memukau dariku.

Ia bertanya padaku:”Masih menulis puisi.”

Sementara malam mulai turun di kafe itu. Lampu-lampu sudah dari tadi dinyalakan. Satu-satu orang masuk dan keluar kafe.

“Sesekali,” kataku. “Tapi pekerjaan pokokku sebagai penjilid makalah. Di toko kawan. Di Siteba.”

“Kamu suka ke kafe. Dengan seseorang begitu?”

Dadaku sedikit kaget. Sengaja kuajak dia ke sini untuk tahu hal-hal lebih pribadi dari dirinya. Tapi sekarang ialah yang ingin tahu sisi lain dari diriku.

“Tidak,” kataku. “Terus sendiri. Mengopi sambil merokok. Terus nulis puisi.”

Aku tak menjawab pernyataannya. Namun, kunikmati pandang matanya yang dalam padaku.

Mungkinkah aku sudah sayang pada Lusi. Mungkinkah aku sudah cinta padanya. Sebab begitu dalam rasa kehilanganku ketika kusaksikan toko tempat dia bekerja tutup.

Ah, begitu kukagumi senyumnya. Jidatnya, rambutnya, kerling matanya. Ingin kuajak dia jalan-jalan menikmati suasana kota. Di senja yang riuh atau pada malam yang temaram dan damai.

Selepas RSU M. Djamil angkot melaju begitu kencang. Anak sekolah berseragam putih abu-abu itu masih di sana. Ia menikmati hembusan angin yang mengangkat helai-helai rambutnya. Lalu mulai kuhapal kantor-kantor yang dilalui angkot. Seketika aku menyetop angkot ketika sampai di persimpangan menuju rumah kos.

***

Jalan menuju rumah kosku selebar empat meter. Sekali-kali mobil lewat dengan cahayanya yang menerangi sampai ke pagar-pagar rumah yang berderet sambung-menyambung. 

Ketika aku membuka pintu pagar rumah kos, darahku berdesir--sekaligus senang. Kudapati Lusi sedang duduk di kursi depan kamarku.

Aku tersenyum dan dia membalasnya.

“Sudah lima belas menit aku sini. Menunggumu. Aku tanya teman sebelah kamarmu. Biasanya sore sudah pulang, katanya. Paling telat Magrib. Aku tahu rumah kosmu di sini. Sebab pernah melihatmu di sini sewaktu aku lewat untuk mengantarkan buku pembeli.”

Sekali lagi darahku berdesir. Bisa-bisanya Lusi tahu rumah kosku. Padahal nomor hp pun kami tidak saling tahu. Apakah ini kebetulan atau sesuatu yang disengaja.

Aku memandang wajah Lusi. Memerhatikan dandanannya yang sederhana. Sekarang rambutnya dikuncir.

Ia mengenakan kaos oblong dengan celana jins ketat.

“Toko buku tempat aku kerja sudah tutup. Dua hari lalu.”

“Kok bisa.”

“Bisa. Sudah tidak mampu bayar biaya operasional. Ya, aku sudah wisuda dua bulan lalu. Cuma D3 kok. Rencana aku balik ke Semarang. Mencari kerja di sana.”

Aku tahu Lusi bukan orang sini. Aku tahu dia di Padang semenjak kelas II SMA, numpang tinggal di rumah tantenya. Tapi pernyataannya barusan, itu yang tidak ingin aku dengar.

“Ini pertemuan terakhir kita,” katanya.

Kupandang lagi wajahnya. Kupandang bulan, yang jelas-jelas tahu isi hatiku. Kuperhatikan pekarangan rumah kos yang kosong. Sekosong hatiku.

***

Hari-hari tanpa Lusi di kota ini kulalui dengan rasa sepi. Kadang, ketika pulang dari tempat penjilidan, malam hari, aku melamun sendiri di kamar. Membuat kopi dan menghabiskan sebatang dua batang rokok, dengan pikiran terus-menerus tertuju pada Lusi.

Kukunjungi juga kedai kopi tak jauh dari rumah kos, seringnya tengah malam. Duduk di sana, sekedar berleha sebentar. Mencari inspirasi untuk puisi, sambil minum kopi susu, mengabiskan sebatang dua batang rokok.

Terasa ada sesuatu yang menganjal. Terasa ada harapan yang belum tersemai. Terasa ada kata-kata yang belum sempat kuucapkan untuk Lusi.

Walau kami sudah bertukar nomor hp dan WA, tetap saja tak cukup mengobati kehilanganku padanya. Sekali-kali memang kutelepon dia lewat WA. Menanyakan kabarnya, kesibukannya, dan tentu saja: masihkah ia suka membaca buku-buku novel.

“Masih kok,” katanya. “Nggak ada yang berubah.”

Aku masih saja belum mendapatkan pekerjaan yang kuidamkan. Tetap bekerja di toko penjilidan makalah. Di waktu luang kusempatkan menulis puisi dan kukirim ke media online.

Jarak mementang sedemikian jauh yang memisahkan aku dan Lusi. Juga sedemikian sibuknya dia akhir-akhir ini, coba kuperpendek dengan menge-like status-status Lusi di fesbuk.

Juga ber-coment semenyenang mungkin. Namun, jarak itu tetap saja menghamparkan kekosongan yang semakin menjadi-jadi di hatiku.

***

Waktu pun berjalan dengan segala hukumnya. Memberi kita tempat untuk mengenang dan melupakan. Tak terasa sudah dua tahun kami berpisah. Rumah kosku masih itu saja, pekerjaan, dan kegemaranku masih itu saja. Tak ada yang berubah--juga perasaanku pada Lusi.

Suatu malam masuk panggilan ke hpku--dari Lusi. Betapa girangnya aku. Sudah dua bulan kami tak ada kontak. Memang biasanya aku yang duluan menelepon dia. Tapi sekarang keadaannya berbalik. Lusi meneleponku. Kugesek hp-ku. Kudengar lagi suara dari kota nun jauh tersebut.

“Aku senang. Sengaja tak kuceritan ini padamu sebelumnya. Tiga bulan lalu, aku dipindahkan hotel tempat aku bekerja ke Jakarta. Tiga bulan lamanya aku kerja di Jakarta,” di sini Lusi berhenti. 

Dan jantungku mulai berdegup, begitu ingin tahu kelanjutan ceritanya. “Kemarin aku dapat surat dari atasan, bahwa aku dipindahkan lagi.”

“Dipindahkan lagi?” kataku.

“Dipindahkan ke mana lagi coba,” katanya sambil tertawa.

Aku diam. Kuteguk kopiku sedikit.

“Mulai bulan depan aku pindah ke Padang,” ia tertawa lagi. Bahkan terbahak.

Sejenak tumpah segala kegembiraan yang ada di dunia ini ke dadaku. Berhenti rasanya waktu. Meluapkan bosan dan penat.

Kupandang halaman lewat pintu yang terbuka. Aku berdiri. Beranjak ke teras. Memandang bulan sebentar. Juga bintang-bintang. Terasa semilir angin malam. Masih mendengar cerita Lusi.

“Aku senang,” katanya.