Indonesia adalah negara demokrasi. Negara yang menjunjung tinggi musyawarah mufakat. Meski harus kita akui sistem demokrasi di Indonesia setelah 71 tahun merdeka banyak mengalami perubahan, dan masih saja belum optimal. Demokrasi erat kaitannya dengan partai politik. Apa itu partai politik? Seperti yang kita ketahui banyak partai politik yang beredar di negeri ini seperti Partai Demokrat, Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai PDI, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan masih banyak lainnya.

Namun tahukah kita arti dari partai politik itu sendiri? Menurut UU No.2 Tahun 2008 tentang partai politik, Partai Politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita- cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. 

Dari pengertian itu partai politik merupakan wadah bagi seluruh rakyat Indonesia untuk mewujudkan aspirasi dan pemikiran-pemikiran untuk kemajuan bangsa Indonesia. Namun semua ini tergeser seiring berjalannya waktu. Partai politik dipandang sebelah mata, karena banyaknya kasus korupsi. Sungguh miris sekali mendengarnya, wadah penampung aspirasi masyarakat umum telah ternodai oleh hal-hal yang disebut korupsi. Kepercayaan masyarakat menurun, bahkan beberapa merasa anti partai politik.

Seperti kasus Anas Urbaningrum, mantan ketua umum partai politik Demokrat terjerat kasus Hambalang, hingga akhirnya divonis 14 tahun penjara mengganti aset negara berpuluh-puluh miliar dan hak politiknya dicabut. Dan beberapa kasus lain yang juga menyeret partai politik.

Karena ulah-ulah kader tak bertanggung jawab dan rendah iman itu kualitas partai politik ternodai. Kepercayaan masyarakat menurun karena hal ini. Meski sebenarnya bukan salah partai politik. Mengapa saya ungkapkan demikian? Kembali ke awal, partai politik adalah wadah dari orang-orang dengan sukarela untuk kemajuan bangsa Indonesia. Partai politik hanyalah wadah dan orang-orang di dalamnya yang menjalankannya.

Orang-orang yang korupsi itulah yang desbut oknum. Jadi tak selayaknya kita memandang sebelah mata partai politik dan orang-orang yang ada di dalamnya. Tak semua yang terjun dalam politik itu korupsi dan kita sebagai masyarakat awam harus percaya akan hal itu. Orang-orang yang korupsi memang harus diberantas sampai akar-akarnya.

Saya sangat setuju akan hal ini, karena mereka hanya parasit yang mengeruk harta negara, mencekik masyarakat dengan pajak yang tinggi tapi mereka yang berdasi korupsi. Mengenyangkan perut sendiri. Mereka pantas mati, jika saja hukuman mati bukan hanya bagi pengedar narkoba. Namun bukan partai politik, jika partai politik tak ada lalu bagaimana masyarakat bisa menyalurkan aspirasinya? 

Sebagai warga yang baik, terutama kaum muda. Seharusnya kita mendukung adanya partai politik, turut berpartisipasi bahkan lebih-lebih terjun dalam politik. Dan mengubah budaya korupsi di Indonesia. Partai politik sekarang ini memang rendah kepercayaan dari masyarakat. Anggota partai politik dicap oleh masyarakat hanya mementingkan diri sendiri dan koruptor.

Padahal tidak semua begitu, masih ada kader-kader jujur yang memegang iman dengan teguh. Mentaati perintah agama dan menjauhi larangannya. Jadi partai politik itu dipandang buruk karena orang-orang di dalamnya yang berbuat buruk. Sebaliknya partai politik dianggap baik dan dipercaya juga karena orang-orang di dalamnya berbuat baik.

Kita semua selalu berharap yang terbaik bagi negeri ini. Semoga saja para kader-kader partai politik masih memiliki iman, dan tentu saja masih memiliki tanggung jawab untuk tidak melakukan korupsi dan sebagainya yang dilarang undang-undang maupun agama. Seharusnya mereka bisa membenahi diri sebagi pejabat tinggi yang merupakan panutan dan teladan bagi rakyat Indonesia.

Mereka harus bisa memberi teladan yang baik dan sikap yang gentlemen sesuai dengan jabatan tinggi yang diperolehnya. Mereka ada karena rakyat percaya, jika rakyat sudah benar-benar tak percaya. Mereka bukanlah apa-apa, karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga semua yang terjun di bidang politik dan kita semua yang kelak turut terjun tidak terjebak dalam godaan setan, tetap teguh pada perintah agama.

Sebagai pemuda-pemudi penerus bangsa, pemegang tongkat estafet pembangunan selanjutnya. Janganlah kita menjauh dari apa yang disebut politik, karena hidup ini tanpa kita sadari adalah politik. Yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri membangun negeri ini, lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Jangan takut untuk terjun ke dunia politik, sebab politik bukanlah neraka dunia. Neraka yang sesungguhnya adalah ketika kita berbuat dosa dan tak pernah menyesalinya. Neraka yang sesungguhnya adalah ketika kita berbuat dosa dan terus begitu untuk selamanya. 

Tapi aku seorang perempuan? Jangan jadikan itu sebagai alasan, kini perempuan dan laki-laki itu memiliki derajad yang sama. R. A. Kartini telah memperjuangan hak setiap wanita di negeri ini. Sebut saja Megawati, ia adalah satu-satu wanita yang pernah memimpin negeri ini, dan turut terjun dalam dunia politik namun tidak melupakan kodratnya sebagai wanita. Mengurus rumah, anak, dan hal-hal lain masih tetap dilakukan. Wanita itu tangguh, so jangan takut untuk terjun ke dunia politik. 

Kita memang rakyat kecil, tapi kita bisa turut berpartisipasi. Jika da partai politik yang memberi amplop sakti untuk memilih calon pemi pin yang diusungnya. Janganlah diterima, pilih pemimpin sesuai hati nuranimu dan pemimpin yang sanggup menjalankan tanggung jawabnya. Dengan begitu kita juga telah turut sedikit membenahi politik di negeri ini. Itu hanya hal kecil, tapi jika seluruh rakyat Indonesia bisa melakukannya.

Percayalah! Tak ada lagi suap-menyuap. Tak ada lagi kader-kader yang korupsi. Mengapa? Mereka akan malu pada kita yang hanya rakyat biasa tapi bersih. Sementara mereka pejabat tinggi yang kotor. Itupun jika oknum-oknum masih memiliki urat malu.

Maaf tulisan ini jadi ngelantur kemana-mana. Sejujurnya saya bukan penulis artikel/esai yang handal. Saya hanya mencoba mencurahkan pemikiran saya tentang politik di negeri ini. Tentu masih banyak kekurangan dari apa yang saya tulis di sini. Kritik dan saran sangat saya harapkan. Bila ada salah tulis yang tidak berkenan saya mohon maaf, terutama bagi nama-nama yang dengan sangat jelas saya sebutkan.

#LombaEsaiPolitik