Tulisan Ulil Abshar-Abdalla, Juni 2016 mengenai keajaiban teks klasik ini membuat saya iri. Beliau tidak hanya bisa membaca teks klasik sekelas Nahjul Balaghah dan al-Shahifah al-Sajjadiyyah dalam bahasa aslinya, namun juga bisa mendapatkan pengalaman spritual dari dua karya klasik ini. Dua hal yang rasanya tidak akan pernah bisa saya lakukan.

Dalam tulisannya, beliau menyampaikan betapa luar biasanya pengalaman yang didapatkan dari membaca karya-karya yang dihasilkan oleh pemikir klasik terdahulu. Apalagi jika melihat konteks bagaimana karya tersebut dihasilkan, pada zaman apa, dalam situasi apa. Saya sepakat dengan ide mengenai keajaiban teks klasik yang diutarakan beliau ditulisannya. Menginspirasi.

Namun bagi saya, keajaiban teks klasik bukan hanya sekedar kekuatan sejarah penulisan dan pesan yang disampaikan. Buat saya, yang paling ajaib dari teks klasik itu adalah ketika saya bisa mengakses teks klasik tersebut dengan hanya menekan beberapa tombol, dan mendapatkan versi lengkap Nahjul Balaghah dalam bahasa Inggris -dengan versi The Peak of Eloquence-nya. Sama dengan versi lengkap bahasa Inggrisnya al-Shahifah al-Sajjadiyyah.

Buat saya, yang lebih menakjubkan lagi adalah ketika saya bisa mengakses daftar teks klasik yang disampaikan oleh beliau dari Republic-nya Plato (428-348BC), Nicomachean Ethics-nya Aristotle (384-322BC), Confessions-nya Augustine of Hippo (354-430) hingga Summa Theologica-nya Thomas Aquinas (1225-1274). Memiliki daftar teks klasik atau bibliography ini di era digital seperti ini layaknya memiliki Baitul Hikmah dalam genggaman tangan.

Keajaiban teks klasik sesungguhnya ini baru bisa kita rasakan ketika orang bisa mengakses Fathul Bari-nya Ibnu Hajar Al-Asqalani (1372-1449) atau Revival Of Religious Sciences-nya Al Ghazzali (1058-1111) dengan mudah. Keajaiban sesungguhnya dari The Virtuous City-nya Al-Farabi (872-950), The Book of Healing-nya Ibn Sina (980–1037) atau The Incoherence of the Incoherence-nya Ibn Rushd (1126–1198) adalah kita mengetahui bahwa ada tradisi berpikir kritis yang sudah dikembangkan secara sistematis sejak beratus-ratus tahun yang lalu.

Saya tahu, bahwa mungkin saya tidak akan pernah bisa mempunyai kelebihan dan kesempatan seperti beliau mengakses teks ini lebih dalam, tapi saya tahu bahwa review populer dari karya klasik tersebut bisa saya dapatkan dengan mudah dari Goodreads.com. Kritik ilmiah terhadap karya teks klasik itu pun bisa saya dapatkan lewat Google Scholar atau Scopus, bahkan naskah apa saja yang terkait dengan karya klasik tersebut bisa saya dapatkan lewat Zotero atau Mendeley.

Saya seharusnya tidak boleh iri, toh ketika beliau menyebut nama Martha C. Nussbaum, saya bisa segera mengetahui karya apa yang dihasilkannya dan bagaimana tanggapan orang terhadap karya tersebut. Not for Profit: Why Democracy Needs the Humanities misalnya.

Tapi, entah kenapa saya tetap merasa iri dengan beliau. Mungkin, karena saya belum pada tahap untuk bisa mengamalkanya. Seperti kata orang bahwa ilmu pengetahuan itu bukan setinggi-tingginya, tapi bagaimana mengamalkannya sebanyak-banyaknya. Mengamalkan dalam hal ini menulis, mempraktekkan dan lebih lanjut menyampaikan karyanya, sebuah siklus ilmu pengetahuan yang berlangsung terus menerus.

Terimakasih untuk tulisannya Mas.