Masih ingatkah kita mengenai pemblokiran salah satu platform media sosial berbasis video kreatif bernama Tik-Tok? Aplikasi yang memudahkan setiap orang untuk merekam video seru berdurasi 15 detik di ponsel ini diluncurkan pada akhir 2016 lalu. 

Tik-tok telah menjadi fenomena aplikasi ponsel di Asia, termasuk Tiongkok, Indonesia, Korea Selatan, dan Thailand. Pengguna Tik-Tok dapat membuat video selfie dengan latar belakang musik dan aksi lainnya, sekaligus menambahkan beragam efek dan stiker virtual yang berbasis kecerdasan buatan (artificial intelegence/AI).

Pada 3 Juli 2018 lalu, aplikasi yang banyak digandrungi kaum muda ini kemudian mendapat sangsi berupa pemblokiran akses di wilayah Indonesia dengan alasan dinilai negatif untuk anak-anak. Kominfo melakukan pemblokiran didasari hasil pemantauan tim AIS Kominfo, pelaporan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Kemen PPA), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), serta masyarakat luas yang beramai-ramai me-report di Playstore. 

Bahkan akibat report serentak ini muncul kata kunci baru di kolom pencarian Playstore yang mengarah ke Tik-Tok dengan keyword “Aplikasi Goblok”. Namun sangsi pemblokiran ini hanya berlaku sehari saja, di mana pada hari berikutnya perwakilan dari Tik-Tok akhirnya mendatangi Kominfo dan sepakat untuk memenuhi syarat dan ketentuan dari Kominfo agar aplikasi ini dapat aktif kembali di Indonesia.

Pemblokiran ini bermula sejak mencuatnya kasus seorang anak dengan akun Tik-Tok yang lebih dikenal dengan nama Bowo Alpenliebe. Ia disebut-sebut menggelar meet and greet berbayar dan menuai protes karena memungut biaya yang terlalu mahal. Kendati acara yang digelar atas nama Bowo itu sejatinya merupakan acara yang dibuat oleh sekumpulan remaja yang mengklaim sebagai fans Bowo. 

Puncaknya pada saat muncul sebuah postingan di halaman Fanspage milik fansbase Bowo yang mengklaim Bowo adalah Tuhan yang disembah-sembah oleh anak muda pengawal Tik-Tok. Hal ini tak pelak akhirnya mengundang banyak kritik dan bully yang ditujukan kepada Bowo hingga membuat ia dan keluarga diteror oleh masyarakat pengguna internet atau netizen. Kasus ini pun berujung pada kebijakan Kominfo untuk memblokir Tik-Tok.

Kasus bowo di atas adalah salah satu dari sekian kasus yang muncul sejak maraknya budaya pamer kita di media sosial. Sudah tidak terhitung lagi banyaknya kasus yang berakhir dengan bulliying yang bermula dari sebuah postingan. Kasus serupa semisal Nuraini atau kemudian yang dialami Afi Nihaya yang terkenal melalui postingan-postingan status Facebook yang dianggap “kritis” namun berakhir “tragis” karena terbukti melakukan plagiasi dalam tulisan-tulisannya tersebut.

Toksiknya Budaya Pamer dan Menjamurnya Aplikasi Video Instan

Pamor media sosial memang tengah mengalami era keemasan dengan berpusat pada generasi milenial kini. Kecenderungan untuk dapat selalu update dan terlihat glamor hingga terkenal merupakan toksik yang menjangkiti seluruh lapisan masyarakat kita. Segala cara dilakukan agar terlihat "wah" dan dapat terkenal, baik dengan memproduksi “video seru” hingga berujung “video saru”. 

Tidak tanggung-tanggung video-video macam ini kemudian dikumpulkan lalu diunggah kembali oleh beberapa akun iInstagram semisal @Drama Tik-Tok. Isinya tak jauh-jauh dari konten video yang menunjukkan kemerosotan moral anak-anak kita. 

Selain Tik-Tok, beberapa aplikasi video serupa Biggo Live, misalnya, sudah menjadi rahasia umum kerap menampilkan konten-konten tak pantas. Itu dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa.

Mirisnya, satu akun saja ternyata tak cukup untuk menampung segala kekreatifan dan imajinasi yang dibutuhkan untuk eksis. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Brian A. Primack dari Pusat Penelitian Media Teknologi dan Kesehatan,Universitas of Pittsburgh sejak tahun 2014, mengungkapkan bahwa setiap orang hampir memiliki lebih dari akun media sosial yang menyebabkan meningkatnya kemungkinan risiko gangguan kecemasan. Hal inilah yang mengakibatkan secara tak langsung setiap orang menghalalkan segala cara agar terus tetap eksis di dunia maya.

Kini kebutuhan untuk pamer sedapat mungkin akan masuk dalam hierarki kebutuhan ekonomi kita yang selama ini hanya terdiri dari kebutuhan primer, sekunder, dan tersier—kini bertambah kebutuhan pamer. 

Pada zaman ini, setiap orang ingin menyandang status “viral” yang berakhir diundang ke acara-acara “ngerumpi” berfaedah ala industri media kita. Sehingga menemukan seorang yang hidup tanpa toksik akan budaya pamer sangatlah langka. Sebab salah satu sifat dasar manusia adalah mencari eksistensi.

Krisis Keteladanan

Di tengah kemerosotan moral akibat toksiknya budaya pamer ini, kita juga ternyata mengalami permasalahan lain, yakni krisis keteladanan. Bagaimana tidak, sebagai yang semestinya menjadi kontrol sosial bagi anak-anak dan remaja orang tua—semestinya bisa menjadi teladan bagi anaknya. 

Contohnya saja, mereka berkontribusi dalam pembuatan konten video yang melibatkan anak-anak bahkan balita mereka, baik yang bermuatan positif maupun negatif. Ibarat kata, merekalah yang agaknya “gatal” ingin anaknya terkenal. Hal ini tentu membutuhkan kebijakan sebagai orangtua mengingat adanya batasan usia untuk mengakses dan membuat konten di platform media sosial kita.

Fenomena pamer ini pun tak hanya giat dilakukan oleh anak-anak saja—orangtua ikut tergerus zaman. Tak jarang kita bahkan menemukan video lansia yang yang sedang kasmaran dengan aplikasi-aplikasi unik nan “saru” ini. Bahkan sedang dalam perjalanan di rumah sakit, hendak melakukan operasi gawat darurat, masih sempat berstatus ria demi sebuah prestise yang entah dalam bentuk apa.

Lalu apa gunanya selama ini kampanye pentingnya generasi muda sebagai penerus bangsa kita ini, sedang kita sebagai orang tua tak dapat membimbing dan mengarahkan anak-anak kita? Sebab sejatinya menjaga generasi muda sama dengan menjaga Indonesia di masa depan. Atau barangkali kita sebagai orang tua kerap diam-diam menikmati video-video seru nan saru yang diproduksi oleh anak-anak kita sendiri di bilik-bilik gelap ruang tunggu pagi?