Bandi biasa berangkat ke sekolah pukul 06.00. Sebagai siswa yang paling pintar di kelasnya, sudah selazimnya Bandi juga menjadi siswa yang paling rajin. Termasuk menjadi siswa yang paling pagi berangkat ke sekolah.

Selain pintar, Bandi juga memiliki jiwa kompetitif yang sangat tinggi. Jangankan ada yang mengalahkannya meraih peringkat pertama, ada siswa lain yang berangkat lebih pagi saja dia jengkelnya luar biasa. Jika hal tersebut terjadi, Bandi bisa berangkat 15 menit bahkan 30 menit lebih awal dari biasanya. Pokoknya tidak boleh ada seorang pun yang lebih pagi dari dirinya, bahkan tukang kebun atau satpam sekalipun.

Dalam perkara akademis,  Bandi dapat dikatakan sempurna. Dalam rapornya sejak SMP sampai sekarang dia duduk di kelas XI, hampir tidak ada nilai di bawah 9. Hanya sekali Bandi mendapatkan nilai 8 di pelajaran Bahasa Indonesia dan itu benar-benar membuatnya tidak mau berbicara dengan siapa pun selama seminggu.

Nilai adalah tujuan utama. Main goal dari setiap kegiatan belajar di sekolah, kursus, dan les privat yang dikuti Bandi. Begitu pula bagi Ibu Bandi. Ketika insiden nilai 8 itu terjadi beberapa bulan yang lalu, guru les Bandi dimarahinya habis-habisan. Dan tentu saja, tidak dipakai lagi di minggu berikutnya.

Guru favorit Bandi adalah Bu Lastri. Beliau masih sangat muda. Baru saja menikah 2 tahun yang lalu dan belum dikaruniai anak, atau memang sengaja kehamilanya ditunda. Sebenarnya cara beliau mengajar tidak jauh berbeda dengan guru yang lain. Menyuruh anak-anak mencatat sesuatu, menerangkan dengan nada yang datar dan tanpa humor namun luga, dan sesekali memberikan soal untuk dikerjakan.

Tapi bu Lastri adalah guru yang sangat dermawan terhadap nilai dan selalu memberikan apresiasi yang tinggi terhadap siswa yang berprestasi. Itulah yang benar-benar membedakan bu Lastri dengan guru-guru yang lain. Jika ada siswa yang nakal atau bodoh, selalu dinasehatin tak henti-hentinya oleh Bu Lastri dengan tidak sekalipun lupa menyinggung nama Bandi.

"Masak PR sudah seminggu yang lalu kok belum dikerjakan. Itu lho lihat Bandi. Baru dikasih PR pagi sorenya sudah selesai."

"Saya sudah dua kali menerangkan tapi kok hanya Bandi yang benar-benar faham."

"Kalian harus banyak-banyak belajar dari Bandi, supaya ketularan rajin dan pintar."

Jika bu Lastri sudah berkata begitu, Bandi hanya tertunduk malu. Tapi bahagia dan sedikit sombong juga sebenarnya.

Meskipun banyak yang dibilangnya kurang pintar, toh bu Lastri tetap dermawan dalam memberikan nilai. Jika nilai minimum untuk lulus adalah 6, maka anak terbodoh di kelas biasanya mendapat nilai 7. Dan yang paling tinggi tentu saja Bandi. Siswa kesayangan bu Lastri, dan bu Lastri juga guru kesayangan Bandi.

Bandi benar-benar menikmati hari-harinya di sekolah. Sampai ketika datanglah seorang guru baru. Beliau menggantikan pak Imam, guru Bahasa Indonesia yang dimutasi ke kota kelahirannya di Sumatera.

Namanya bu Midah. Perawakan tinggi dan langsing, tidak begitu cantik, tapi manis juga dipandang. Tidak seperti guru lain, beliau jarang sekali tersenyum ketika di luar kelas. Pandangannya seperti selalu berpikir. Dan setiap kali ada yang memanggil, Bu, Midah. Beliau tidak menoleh, haya melirikkan matanya ke arah orang yang memanggilnya. Singkat kata beliau adalah guru yang terbilang judes.

Tapi meskipun demikian, tidak ada siswa yang tidak melongo setiap kali beliau memberikan penjelasan. Sesekali beliau juga menyisipkan humor di dalam kelas, tanpa senyum, tapi benar-benar membuat seisi kelas tertawa riang,. Tidak seperti bu Lastri, bu Midah seperti tidak begitu peduli apakah di kelasnya ada anak yang sangat pintar atau anak yang sangat bodoh. Tidak pernah dia menasehat-nasehati anak-anak yang malas belajar atau anak-anak yang susah paham. Tidak pernah juga dia menyinggung-nyinggung nama Bandi.

Bandi sendiri awalnya biasa saja dengan perlakuan bu Midah. Ia pun tidak masalah namanya tidak pernah disebut-sebut olehnya sebagai siswa yang rajin, pintar atau yang lainnya. Bahkan sesekali bu Midah sering memojokkan Bandi ketika Bandi memberikan pertanyaan-pertanyyan yang kurang bermutu. Pertanyaan yang paling tidak bermutu bagi bu Midah adalah ketika Bandi menanyakan istilah-istilah yang tidak dia pahami di dalam buku. Seperti. Apa itu sintaks?, Bu, apa yang dimaksud dengan satire?, atau ketika Bu Lastri menjelaskan tentang materi menggali informasi dari beberapa narasumber, sekonyong-konyong Badi bertanya, Bu, apa itu cover both side?. Padahal, belum sekalipun bu Lastri menyinggung istilah itu.

Jika sedang berbaik hati, beliau akan menjawab singkat. Tapi jarang sekali bu Latri berbaik hati semacam itu. Paling sering beliau menyuruh anak-anak membaca lagi dan mencarinya di buku, atau kalau sedang jengkel hanya dilirik saja oleh beliau tanpa memberikan sepatah kata pun. Tanda bahwa belum waktunya siswa-siswa untuk bertanya.

Bandi tentu saja jengkel diperlakukan demikian. Guru-guru yang lain sangat menekankan agar para siswanya aktif di dalam kelas, bertanya tentang apa saja. Semakin banya bertanya, maka semakin pintarlah ia. Itulah prinsip yang dipegang Bandi selama ini, dan diamini oleh hampir semua guru yang pernah mengajarnya. Tapi bu Midah ini nampaknya punya prinsip yang berkebalikan. Baginya, semakin banyak bertanya, semakin bodohlah ia. Karena sedikit-sedikit harus mengandalkan orang lain untuk menjawab sesuatu yang menjadi pertanyaannya sendiri.

Dalam masalah itu, Bandi pernah melaporakannya pada bu Lastri. Sebagai guru yang perhatian luar biasa kepada siswa-siwinya, tidak butuh waktu lama bagi bu Lastri untuk menindaklanjutinya. Dengan sopan dan bahasa yang santun, beliau mengajak bu Midah berbicara saat mereka berdua kebetulan sedang makan siang di kantin sekolah.

Bu Midah sudah ada di sana terlebih dahulu. Setelah mengambil nasi dan lauk pauk, segera saja bu Lastri duduk di samping bu Midah di pojokan kantin.

"Sendirian, bu?;

"Iya, bu Lastri. Balas bu Midah dengan sedikit senyum sambil menggeser pantatnya agar memberikan tempat yang cukup untuk bu Lastri."

"Bagaimana bu mengajar di sini? Betah?"

"Alhamdulillah, bu. Hanya saya sedikit jengkel dengan anak-anak yang banyak bertanya."

"Loh, bukannya itu bagus? Pemerintah kan memang sedang gencar-gencarnya menekankan pendidikan yang mengajak siswa untuk aktif."

"Tapi, bu. Mereka tidak seharusnya menanyakan sesuatu yang bisa mereka cari di buku. Jika mereka melakukan itu, berarti mereka adalah anak-anak yang malas. Ingin mengetahui segala sesuatu secara instan dengan bertanya pada gurunya."

"Oh, tentu tidak. Anak yang malas adalah anak yang tidak pernah bersuara di dalam kelas. Kalau bersuara paling-paling mereka hanya bergurau atau mengejek temannya."

Merasa tidak mungkin menyatukan pikiran di antara keduanya, bu Midah memilih diam. Mendebat guru yang jelas-jelas memiliki perbedaan prinsip dengan dirinya, sama menjengkelkannya dengan menjawab pertanyaan anak-anak di kelas. Mereka kembali fokus pada piringnya masing-masing dan tak sepatah kata pun keluar sampai mereka menuntaskan suapan terkahirnya masing-masing. Bu Lastri sendiri, masih merasa canggung dengan guru baru tersebut.

Esok harinya, bu Midah kembali masuk ke kelas Bandi. Kali ini dia tidak akan menjelaskan apapun. Hanya meminta anak-anak untuk mengerjakan tugas di halaman 30 : Menulis essay.

Bu Midah memberikan waktu 45 menit bagi anak-anak untuk menuliskan essay dengan tema apa saja yang mereka suka. Ada yang kemudian memilih tema keindahan desa, fenomena percintaan remaja, keluarga, tapu tidak ada satu pun yang menulis tentang politik.

Setelah semua selesai, seperti laiknya pembelajaran pada umumnya, anak-anak mengumpulkan tugas mereka di atas meja guru. Bu Midah lantas mengoreksinya saat itu juga. Anak-anak diperkenankan untuk istirahat.

Pekerjaan-pekerjaan yang telah dikoreksi ditaruhnya di ujung sebelah kanan meja. Anak-anak dipersilahkan saja mengambilnya.

Bandi, begitu melihat pekerjaannya selesai dikoreksi langsung menghampiri meja guru dan mengambilnya. Dibukanya buku tulis itu dengan rasa penasaran. Betapa terkejutnya, Bandi tidak melihat satu pun angka diberikan oleh bu Midah. Hanya catatan-catatan perbaikan seperti kesalahan penggunaan huruf besar, kalimat yang kurang dapat dipahami, paragragf yang terlalu panjang, dan beliau menambahkan sedikit catatan di bawah tulisan Bandi tentang apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas tulisannya. Itu semua, sama sekali tidak bermanfaat. Bagaimana Bandi bisa tahu posisinya di kelas jika tidak ada nilai yang dapat dibandingkan? Bagaimana pula ia nanti menjawab pertanyaan ibunya rumah yang selalu rutin menanyakan, "berapa nilai latihan harianmu, sayang?"

Seketika itu pula Bandi mengampiri bu Midah dan sekonyong-konying bertanya, "Bu, kok tidak ada nilainya?"

Bu Midah menghela napas sambil memandangi muridnya itu. Ia seperti memikirkan sesuatu. Tanpa memberikan satu pun penjelasan, bu Midah bertanya balik kepada Bandi.

"Kamu minta nilai?"

"Tentu"

Diambilnya kembali kertas  dari tangan bandi dan diberikannya nilai yang sesuai. Bandi pun langsung mengambilnya kembali, membawanya keluar kelas, dan sebagai seorang anak yang pintar dan sopan, tentu Bandi tidak lupa mengucapkan terima kasih.

Di luar kelas, ia buka pekerjaannya itu. Ia lihat sekejap lalu ia remas-remas kertas tersebut dan dibuangnya ke tempat sampah. Ia benar-benar benci dengan angka 79. Dan lebih-lebih, ia benci dengan bu Midah.