Moropant (Manish Wadhwa) membawa bayinya kepada Brahmana. Ia diberi nama Manikarnika. Brahmana meramalkan bayi perempuan tersebut akan diingat selamanya oleh orang banyak. Namun, Brahmana tersebut tidak tahu nasib usia Manikarnika.

Manu remaja, panggilan Manikarnika (Kangana Ranaut), memperlihatkan keahliannya sebagai kesatria. Keterampilan memanah dan berpedangnya melebihi kemampuan laki-laki pada umumnya. Menit-menit pertama Manikarnika (2018) sangat meyakinkan mengantar kelahiran seorang pahlawan perempuan India, Rani Lakshmibai.

Setelah menikah dengan Gangadhar Rao (Jisshu Sengupta), maharaja Janshi, Manikarnika, segera mengalami langsung cengkeraman kolonialisme East Indies Company (EIC) Inggris. Cengkeraman imperialisme pada tanah dan bangsa India yang ia cintai.

Manikarnika, yang kini bergelar Ratu Lakshmibai, dengan cerdas dan tegas membela rakyat dan kedaulatan bangsa. Ia menantang arogansi EIC di India. Walaupun, di sisi lain, suaminya dalam posisi sulit.

Setelah Ganggadhar Rao meninggal, penolakannya terhadap EIC semakin jelas. Akhirnya, ia terusir dari istana. 

Beberapa tahun setelah terusir dari istana, pemberontakan massal tahun 1857 menjalar sampai Janshi. Sebelumnya, pemberontakan yang dimulai oleh para tentara pribumi India itu telah menang di beberapa daerah. Tentara pemberontak tersebut tadinya dipekerjakan EIC.

Rani Lakshmibai yang awalnya bersikap pasif kemudian kembali ke istana. Ia lalu mengobarkan pemberontakan melawan EIC. 

Sebelum menonton film ini, akhir nasib Rani Lakshmibai sudah bisa dibaca lewat Wikipedia. Namun dramatisasi film ini cukup menggugah.

Plot cerita film ini terkonsentrasi pada Manikarnika alias Rani Lakshmibai. Rancangan jalinan kisah seperti itu memudahkan penonton memahami proses pertumbuhan serta perkembangan pesona kecerdasan dan ketangguhan Rani Lakshmibai.

Namun ternyata desain cerita yang sederhana telah menjebak film ini ke dalam simplifikasi. Beberapa peristiwa dan alur cerita tidak terjelaskan dengan baik, terutama bagi penonton yang tidak terlalu memahami sejarah serta kultur India.

Di tengah cengkeraman budaya patriarki, penonton akan tetap bertanya mengapa Manikarnika bisa mengakses keterampilan maskulin seperti berpedang, memanah, dan seni berperang. Alasan sikap Ganggadhar Rao yang mengakomodasi peran aktif istrinya juga tidak dijelaskan latar belakangnya mengingat raja-raja pada zaman itu umumnya mendomestifikasi istri-istrinya.

Pemberontakan India tahun 1857 adalah sebuah perlawanan besar terhadap kolonialisme Inggris. Sikap Rani Lakshmibai mengangkat senjata menentang kekuasaan EIC hanya satu bagian dari pemberontakan besar tersebut.

Namun pemicu utama pemberontakan tidak dinarasikan. Penonton hanya bisa menebak kekejaman EIC sebagai alasan besar pemberontakan tersebut. Demikian pula, pengambilalihan banteng Janshi oleh Rani Lakshmibai dan menyerahnya raja Gwalior. Semua terlihat terlalu mudah. 

Sebagai film epik kolosal, garis besar plot sangat klise. Klise tentang segitiga cerita kepahlawanan. Ada pahlawan, pengkhianat, serta penjajah yang sangat jahat dan keji. Tidak ada dilema moral yang harus dihadapi para karakter dalam film ini.

Si pahlawan bisa saja dihadapkan dengan keputusan yang bertentangan dengan prinsip moralnya. Namun harus dilanggar demi kemaslahatan orang banyak. Di sepanjang film, si pahlawan digambarkan mengambil tindakan sejalan dengan prinsip moral.

Sebagai perbandingan, Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta (Sultan Agung, 2018) menampilkan pertentangan moral karakter pahlawan. Sultan Agung, sebelum dan sesudah serangan Batavia, harus menjawab pertanyaan, apakah serangan tersebut hanya memenuhi hasrat ekspansi kerajaan yang akan merugikan rakyat atau memang untuk kepentingan kedaulatan negara?

Karakter pengkhianat juga ditampilkan dalam deskirpsi yang biasa sekali. Tipe orang yang tidak setia pada negara demi memuaskan hasrat pribadi. Tidak ada pertentangan nurani si pengkhianat setelah mengorbankan negaranya. Tidak ada juga penjelasan latar belakang pengkhianatan yang membuat pilihan tindakan tersebut menjadi lebih manusiawi sekalipun tetap salah.

Masih dalam Sultan Agung, pengkhianatan Tumenggung Notoprojo dapat dimengerti penonton bila melihat alasan-alasan wajarnya. Penonton juga mudah memaklumi ketidaksetiaan Kelana pada Sultan Agung bila melihat latar belakangnya. Sekalipun tindakan tersebut melanggar nilai-nilai moral.

Penjajah, dalam Manikarnika, pun ditampilkan secara simplistis. Hanya digambarkan sebagai sekelompok orang asing yang bengis dan jahat. Padahal, sangat mungkin terjadi konflik nilai. Bukan tidak mungkin juga ada individu-individu yang masih memegang nilai-nilai keadilan dan sifat-sifat kesatria.

Karakter Letnan Sandrini dalam film klasik Lion of the Dessert (1981), menggambarkan kompleksitas kelompok tentara penjajah. Ia menolak menjalankan eksekusi hukuman gantung pada perempuan sipil Libya. 

Menurut prinsipnya, tentara tidak dilatih untuk membunuh perempuan sipil. Tokoh antagonis utama, Rodolfo Graziani, pun diperlihatkan memuji ketangguhan Omar Mukhtar, tokoh protagonis utama.

Kangana Ranaut berperan cukup mengesankan. Ia mampu memaksimalkan cerita yang berpusat padanya. Rentang emosi dari ceria, sedih, sampai tegas mampu disajikan dengan mulus meyakinkan. Aktor dan aktris lain cukup aman mendukung peran Kangana Ranaut. Sekalipun mereka tidak terlalu mengesankan.

Sinematografi film ini sungguh memikat. Penataan adegan laga film ini juga sangat indah. Sekalipun Manikarnika berisi adegan perang, tiap babak-babak perang tidak dipenuhi darah dan adegan kekerasan. Aksi Rani Lakshmibai mengayunkan pedang bisa dinikmati bagai tarian.

Manikarnika layak disebut sebagai Braveheart versi Bollywood. Braveheart (1995) adalah film epik kolosal Hollywood. Film tersebut menceritakan kisah patriotik pahlawan Skotlandia, William Wallace, menentang Inggris. Braveheart yang dibintangi dan disutradari Mel Gibson memenangkan berbagai penghargaan film.

Walaupun, dari segi kompleksitas jalinan cerita, Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, dan Cinta (2018) jauh lebih menarik. Sultan Agung mampu menampilkan sosok manusiawi seorang pahlawan besar. Sedang Manikarnika rentan terjebak simplifikasi dan glorifikasi Rani Lakshmibai.

Secara umum, Manikarnika adalah film yang sangat layak ditonton. Kekuatan peran Kangana Ranaut, sinematografi yang memikat akan mengesankan penonton. Demikian pula penataan adegan laga yang luwes dan artistik.  Semua akan membayar lunas tiket bioskop Anda.

Cuplikan Resmi Manikarnika

https://www.youtube.com/watch?v=tKmkMVaNu9g