Dua tuduhan tak berdasar muncul pekan lalu, berturut-turut, membuat dahi kita mengkerut. Pertama, tentang pengurus Teman Ahok Amalia Ayuningtyas yang dituduh bertemu Kapolri dan melepas kerudungnya – padahal orang itu adalah aktivis Ulin Yusron. Kedua, tentang botol minum di meja Ahok yang dituduh sebagai minuman keras padahal merupakan air mineral alami.

Kita menyaksikan banyaknya meme yang membantah tuduhan itu dengan mudah, sambil menyindir balik dengan cara yang renyah. Seperti foto bersama antara Amalia dan Ulin yang face-swap. Kemudian meme botol kecap dan botol minuman keras berwarna hitam berbincang menunggu giliran jadi korban.

Kita tentu boleh tertawa dan merasa terhibur. Namun kita juga tidak bisa melupakan suatu hal penting dan mendasar. Bahwa kebencian telah membutakan pikiran orang. Bahwa ketidaktahuan adalah sumber kesalahpahaman. Dan bahwa ketidakpedulian akan selalu memperburuk keadaan.

Dengan kebencian, orang merasa tuduhan selalu otomatis benar. Cukup dengan kebencian, orang tidak merasa perlu melakukan pengecekan. Sekali lagi, cukup dengan kebencian, orang tidak bisa membedakan mana fakta dan mana rekaan.

Orang dengan perspektif ini akan selalu memakai kacamata kuda. Dia menilai dan memutuskan dengan bias-bias prasangka. Kemudian merasa tidak perlu membuka dialog karena dia merasa di pihak yang benar. Dan ketika orang sudah bersikap demikian, kebencian akan menyebar lewat jalur bebas hambatan.

Lihat saja, betapa pun sudah jelas bahwa Amalia dan Ulin bukan orang kembar, dan botol itu merupakan air mineral, tetap ada orang yang enggan menerima kenyataan.  Hal yang menyedihkan adalah mereka tidak mengeluarkan argumen balasan, melainkan merespon dengan hujatan yang diikuti dengan ayat-ayat suci supaya seolah benar.

Kemudian ada pihak yang dalam penyangkalannya berusaha secara kreatif menghubung-hubungkan merk air mineral itu dengan tequila. Intinya, argumen dan fakta apapun yang diajukan, selalu ada pihak yang mencari dalih pembenaran. Selalu ada orang yang menutupi kebodohan dengan kebodohan baru, yang semakin lama semakin jelas ketidaktahuannya.

Tentu setiap orang boleh tidak suka Basuki Tjahaja Purnama karena dianggap telah menista Al-Quran, boleh tidak memilihnya dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta Februari mendatang, boleh memprotes segala kebijakannya, tapi tidak dengan kebohongan.  Tidak dengan berita dusta dan informasi sesat lagi menyesatkan.

Kebencian tidak membuat siapapun berhak membuat hoax dan menyebarkannya. Kebencian tidak mengizinkan siapapun berbuat tidak adil kepadanya. Kebencian tidak membolehkan siapapun tunduk pada kebodohan.

Ingat, menuduh Ahok pesta minuman keras tidak akan mempercepat proses hukum kasus penistaan agama. Pun menuduh Amalia tidak membuat siapapun lebih mulia. Dan menyalahkan orang tidak otomatis membuat siapapun jadi benar pendapatnya. Kembali, benci boleh bodoh jangan.