Sebagai makhluk sosial (homo socius), manusia senantiasa tergerak untuk hidup dan menggantungkan dirinya pada orang lain. Tak seorang pun manusia mampu bekerja sendirian untuk dapat memenuhi setiap kebutuhan dalam hidupnya sehari-hari. 

Setiap individu tak mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Kehidupan sebuah masyarakat tentu memiliki hubungan satu sama lain, karena itulah setiap individu membutuhkan individu lainnya untuk melancarkan kehidupannya. 

Jalan yang harus ditempuh untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sebagai makhluk sosial ialah dengan berkumpul dalam masyarakat, kelompok, atau komunitas. Hal ini bertujuan supaya dapat membentuk sebuah cita-cita atau visi, yakni untuk dapat mencapai kebaikan bersama (bonum commnune) sebagai makhluk sosial.

Kehidupan sosial masyarakat selalu mengacu pada kepentingan bersama. Kepentingan bersama ini tak semata dan tak sekadar hidup bersama tanpa secara bebas begitu saja, melainkan pula bebas dan bertanggung jawab. Kehidupan bersama dalam sosial masyarakat haruslah mengarah pada kebaikan bersama. 

Hal ini mengandaikan bahwasanya setiap pribadi dalam masyarakat memiliki satu visi dan cita-cita yang sama, yakni membentuk masyarakat atau polis kepada kebaikan yang dapat dirasakan oleh semua orang. Ada banyak hal menarik apabila berbincang mengenai kehidupan sosial masyarakat sedari zaman Yunani kuno hingga zaman now. 

Segala aturan telah diperbincangkan. Segala konsep telah dirumuskan. Segala pemikiran telah disumbangkan. Semuanya itu mengarah pada satu cita-cita, yakni membentuk kehidupan sosial masyarakat yang harmonis dan untuk kebaikan bersama (bonum commune) pada suatu polis.

Bonum Commune sebagai Pijakan Kaki

Plato sebagai seorang filsuf terkemuka dari zaman Yunani Kuno telah merumuskan pelbagai pemikiran dengan pelbagi bidang. Semuanya itu ia arahkan supaya dapat membentuk masyarakat baik yakni setiap individu yang mampu untuk hidup dengan baik dalam polis sehingga dapat membentuk kebaikan bersama (bonum commune) dalam polis. 

Menurut Plato sebuah masyarakat dengan pelbagai dinamika kehidupannya dapat terbentuk karena alasan tertentu. Alasan inilah yang menjadi landasan dasar dan juga sebagai kerangka dan pola kehidupan bersama dalam suatu masyarakat. 

Hal ini menurut saya sangatlah baik sebab dengan pijakan alsan ini, suatu masyarakat dapat bersama-sama membentuk sebuah visi dan arah bagi kehidupan mereka bersama. Arah inilah yang sangat penting bagi masyarakat sebab dengan adanya arah yang jelas dan baik, maka akan membuahkan hasil yang baik pula. 

Apabila sejak awal mulanya sebuah masyarakat dibentuk dengan visi kebaikan bersama (bonum commune), maka dengan demikian setiap individu dalam masyarakat tersebut dapat mengarahkan dirinya pada visi tersebut, yakni kebaikan bersama (bonum commune) dalam masyarakat. Oleh sebab itu, kebaikan bersama (bonum commune) dapat digunakan sebagai pijakan kaki untuk melangkah bersama dengan pasti.

Menurut Plato, dalam kehidupan masyarakat dibagi menjadi tiga bagian, yakni golongan pemimpin, tentara, dan rakyat biasa. Hal ini merupakan pembagian yang kerapkali disalahgunakan. Sebab dengan pembagian kasta dalam masyarakat ini membuat ketimpangan sosial dalam masyarakat. 

Acapkali setiap golongan ini memiliki kekuatannya masing-masing, namun yang lebih diuntungkan ialah golongan pemimpin. Golongan pemimpin atau pejabat seringkali memiliki kekuatan yang besar dan pengaruh dalam hidup masyarakat. Tak jarang kekuatan yang besar ini disalahgunakan. 

Kekuatan tertentu yang besar justru malah menggoda mereka untuk berbuat tidak adil. Perbuatan tidak adil demikian kerapkali menodai nilai yang ingin dicapai bersama, yakni kebaikan bersama (bonum commune). Melalui pembagian kasta dalam masyarakat inilah seringkali rakyat biasa menjadi korban dari mereka yang memiliki kekuatan besar. 

Namun, kembali lagi betapa pentingnya nilai kebaikan bersama (bonum commune) sebagai cita-cita dan visi untuk terus digalakkan. Sebab apabila tidak demikian, maka ketidakadilan akan senantiasa merajalela. Pertanyaannya siapa yang menggalakkan cita-cita dan visi kebaikan bersama? Tak lain dan tak bukan ialah para warga masyarakat (polis) sendiri.

Setiap pribadi individu pastilah memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-masing dalam kehidupan sosial masyarakat. 

Menurut Plato keadilan dapat terwujud apabila setiap orang dapat menjalankan setiap tugasnya tanpa mencampuri urusan kelompok lain. Hal ini mengandaikan bahwa segala tugas dan tanggung jawab yang dilakukan senantiasa mengarah pada satu visi dan cita-cita yakni kebaikan bersama dalam masyarakat (polis). 

Menurut Aristoteles, sebuah masyarakat sangatlah berharga dibandingkan keluarga atau individu. Baginya keseluruhan lebih utama dari bagian-bagian parsial lainnya. 

Setiap individu tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya dan tujuannya tanpa adanya masyarakat sosial (polis). Hal ini mengacu pada hakikat manusia sebagai makhluk sosial (homo socius). 

Hal ini ia andaikan sebagai satu kesatuan tubuh. Menurutnya, masyarakat keseluruhan ialah tubuh yang utuh dan setiap individu ialah bagian organ tubuh lainnya. 

Apabila setiap individu bergerak sendiri-sendiri maka yang terjadi ialah saling terpisah satu sama lain dan tak membentuk tubuh yang utuh. Oleh karena itu, untuk dapat membentuk tubuh yang utuh ialah membentuk sebuah masyarakat.

Harga Sebuah Cita-cita Bersama

Sebuah masyarakat dapat terbentuk karena adanya suatu kesatuan. Kesatuan yang dapat menyatukan setiap individu menjadi masyarakat tak lain dan tak bukan ialah cita-cita dan visi dalam masyarakat itu sendiri. 

Visi dan cita-cita tersebut ialah kebaikan bersama (bonum commune). Cita-cita dan visi sebuah masyarakat (polis) bukan sekadar mencegah kejahatan. 

Cita-cita dan visi sebuah masyarakat (polis) bukan sekadar kerangka dan aturan yang mengekang. Namun cita-cita dan visi sebuah masyarakat (polis) ialah kehidupan bersama yang baik dan harmonis.

Suatu masyarakat yang memiliki pemerintahan yang baik ialah jika memiliki cita-cita dan visi untuk mencapai kebikan bagi seluruh masyarakat. Namun apabila sebuah masyarakat dan pemerintahan hanya menginginkan kebutuhannya sendiri maka hal itu dinamakan sebagai masyarakat dan pemerintahan yang cacat. 

Demikianlah menurut Aristoteles bahawa suatu pemerintahan dalam masyarakat yang berpihak pada kebaikan bersama, maka ia akan dibentuk dengan prinsip keadilan yang ketat dan dengan prinsip masyarakat merupakan komunitas orang-orang bebas dan bertanggung jawab. 

Oleh karena itu, ia menyebutkan bahwasanya suatu masyarakat yang buruk ialah masyarakat yang dipimpin oleh penguasa yang hanya mementingkan dirinya sendiri. 

Kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh para pejabat negeri Nusantara ini merupakan bukti bahwasanya, pemerintahan Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Di tengah bencana pandemi yang melanda tiada henti, masih banyak para penguasa negeri yang ditangkap korupsi. 

Perih sekali apabila melihat realita kehidupan sosial masyarakat demikian. Namun kembali lagi, bahwasanya betapa pentingnya harga sebuah cita-cita. Cita-cita bersama yang telah dibuat oleh para pendiri bangsa. 

Cita-cita bersama yang mengarahkan setiap pribadi masyarakatnya kepada kebaikan bersama. Kebaikan bersama (bonum commune) merupakan harga mati yang harus terus-menerus disemarakkan oleh setiap masyarakat negeri Indonesia ini. 

Oleh karena itulah, betapa pentingnya sebuah cita-cita yang senantiasa membingkai dan mengarahkan setiap anggota dan warga untuk kebaikan bersama.