Indonesia terdiri dari puluhan ribu gugus pulau-pulau. Dimulai dari Sabang yang berada di ujung barat dan Marauke yang berada di ujung timur Indonesia. Syahdan, sebagai sebuah bangsa yang besar, Indonesia juga memiliki peradaban besar yang sering kita ingat sebagai peradaban Nusantara.

Selayaknya, sebagai Negara kepulauan yang besar, Indonesia dengan peradaban Nusantara adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Di dalam tubuh peradaban Nusantara, kita mengenal keberagaman bahasa, suku, dan bahkan agama. Secara primordialisme, kita dibuat terbiasa dengan perbedaan itu, untuk kemudian disatukan oleh ideologi Pancasila yang berdasarkan atas asas ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kepemimpinan, dan keadilan.

Hanya saja, terlepas dari asas-asas di atas, seberapa pentingkah bagi kita pulau-pulau, sebagai gugusan peradaban jika dilihat secara teritorial? Dengan kata lain, seberapa jauhkah kita sebagai anak bangsa dan pelanjut generasi, mengetahui setidaknya sepuluh atau lebih pulau-pulau kecil di Nusantara? Juga seberapa pentingkah kebudayaan bagi kita?

Saya hanya salah dari ratusan atau bahkan ribuan anak yang terlahir sebagai anak kepulauan, yang secara teritorial luas wilayahnya tidak sampai setengah wilayah Ibukota Indonesia. Saya lahir di pulau Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan.

Luas pulau Bonerate, menurut sumber terbatas yang saya ambil di Google, sekitar 16.32 km. Anda bisa membayangkan, dengan luas wilayah seperti itu, bagaimana mungkin kami tidak saling mengenal satu sama lain, meski hanya sebatas muka.

Dalam hal kebudayaan, kami di Bonerate dihadapkan pada dilema antara mengakui Sulawesi Selatan sebagai wilayah atau menjadi Buton yang adalah salah satu suku di Sulawesi Tenggara. Kami yang secara wilayah berada di Provinsi Sulawesi Selatan, secara bahasa dan adat istiadat harus mengaku sebagai Buton. Tetapi itulah bentuk keragaman yang ada di pulau Bonerate. Begitulah cara kami menghargai perbedaan.

Kami percaya bahwa kearifan lokal (Local Wisdom) bukan hanya milik satu kelompok atau golongan. Sebab, dalam kenyataannya kita berada dalam satu peradaban yang sama, peradaban Nusantara.

Masyarakat Bonerate mengenal satu istilah yang harus di hormati yaitu Padangga (pendatang). Nah, padangga inilah, dengan membawa kebudayaannya masing-masing dari daerahnya, baik yang nantinya menetap maupun tidak, memperkenalkan kebiasaan baru yang diterima dengan baik oleh masyarakat.

Masyarakat Bonerate mengenal sejarah—meminjam istilah Arnold Toynbee—sebagai bayang-bayang keabadian. Tidak hanya itu, sejarah bagi kami juga sebuah landasan hidup. Kami percaya bahwa mitos—dalam hal ini dikaitkan dengan sejarah—bukan hanya cerita yang dikisahkan tetapi juga adalah kenyataan yang di hayati. Maka dari itu, kami tidak hanya menghargai yang kongkrit, tetapi juga yang abstrak.

Budaya animisme belum sepenuhnya hilang di tubuh masyarakat Bonerate. Seperti sejatinya pulau-pulau kecil dan terpencil, budaya animisme, utamanya di bagian timur Indonesia, telah menjadi ciri khas yang melekat. Memang tidak semuanya, tetapi kebanyakan begitu.

Maka dari itu, dengan berkunjung ke Bonerate, anda akan merasakan wajah lain dari Indonesia. Wajah yang penuh kesejukan, yang menghargai perbedaan dan rasa saling hormat-menghormati. Sebuah ciri lain yang melekat erat sebagai khas masyarakat kepulauan.

Saya tidak mencoba menuntut atau mengharuskan siapa pun yang belum mengenal Bonerate untuk berkunjung ke sana. Itu hanya sebuah penawaran sekaligus pemberitahuan bahwa dalam tubuh peradaban Nusantara, ada sebuah pulau dengan nama Bonerate. Mungkin ada yang mengaitkan Bonerate dengan Taka Bonerate, perlu dicatat bahwa Taka Bonerate itu bukan Bonerate. Hanya saja memang agak berdekatan.

Sebuah peradaban besar di bangun atas dasar kepercayaan. Kita tahu bersama bahwa untuk sebuah kemajuan, maka harapan dibangkitkan. Persatuan jangan hanya lahir oleh kesamaan, sebab dalam perbedaan harapan itu justru kadang terasa kuat untuk dibangkitkan. Sama halnya dengan pembangunan. Nusantara justru menemukan keutuhannya ketika kita tidak melihat Indonesia dari satu sisi saja. Dari barat saja.

Dalam paradigma pembangunan, dikenal tiga landasan khusus, yakni konsep, nilai, dan implementasi. Saya rasa dalam konsep kita tidak butuh penjelasan yang mendalam, tetapi dalam hal nilai dan implementasi, sudah selayaknya dipertanyakan intensitasnya. Apa nilai yang tertanam dalam masyarakat yang belum bisa menikmati pencahayaan secara total? Bagaimana memandang implementasi sebagai perwujudan kesejahteraan?

Dengan merujuk pada asas keadilan, penting kiranya bagi kita untuk tidak luput dari hal-hal yang bisa melunturkan kekudusan paradigma pembangunan. Pulau Bonerate hanya sebesar titik jika dilihat dari peta indonesia, hanya sebagian kecil dari peradaban Nusantara, permasalahanya memang tak sekompleks Ibukota. Hanya saja, sebagai bagian dari peradaban Nusantara yang besar ini, kami juga ingin diingat.

Jika anda tidak sempat merasakan kesejukan di sana, setidaknya bisalah untuk anda menyempatkan sejenak waktu anda untuk membuka Google. Paling tidak untuk mengetahui salah satu kecamatan yang ada di sana. Sebab apa yang terasa penting bagi kami adalah secuil penghargaan.