Mata tajam  berwarna merah muncul tepat di hadapan bocah tujuh tahun bernama Rani. Spontan bulu kuduknya berdiri, badannya gemetar, dan kedua tangannya menutupi mata.

Angin masuk dari jendela kamar—kebetulan lupa ditutup oleh kedua orang tuanya—menyusup masuk ke pori-pori. Melengkapi ketakutannya di penghujung hari. Malam ini menjadi malam yang suram untuk Rani.

Boneka perempuan usang melebarkan matanya. Menatap Rani bak makanan ringan siap santap. Rani tak dapat berkata apapun. Mulutnya terkunci rapat-rapat, begitu pun dengan kakinya yang kaku. Pelan-pelan boneka itu mengangkat kedua tangannya. Berniat mencekik leher halus perempuan polos berambut pirang.

Keanehan itu spontan membuat Rani bertambah takut. Tak kuasa menahan takut, akhirnya Rani berteriak kencang. Membuat rambut panjangnya berkipas—karena kepalanya tak kuasa berdiam diri. Mulut Rani terbuka lebar. Dia benar-benar berteriak malam itu, “Aaahhhhh, setaaannn!”

Teriakannya membuat Pak Ujang dan Bu Karni terbangun dari tidur malamnya. Mereka mendatangi Rani di ruang keluarga dengan TV yang masih menyala. Jam dinding berdentang; tepat pukul dua belas malam. Bu Karni yang mengenakan daster tiba di ruang keluarga. Dia mengikal rambut, lalu mematikan TV. Setelah itu mendekati anaknya sambil berkata, “Kamu kenapa, kok teriak-teriak?”

“Rani takut,” ucap Rani dengan hiasan ketakutan di mukanya—kaku akibat trauma yang memaksanya untuk memelototkan mata. Kelucuannya pelan-pelan mulai menghilang. Berhembus pelan seperti angin dari jendela yang memenuhi ruang keluarga. Pak Ujang menutupnya.

“Makanya, kamu jangan suka nonton film horor terus. Jadinya seperti ini, kan? Kamu sering teriak-teriak terus dan tidur larut malam.” timpal Bu Karni dengan raut muka membekas tikar di atas dipan. Bu Karni meletakan remote kontrol di atas TV. Pak Ujang dengan kantuk yang masih menimpa berupaya menggendong Rani untuk tidur bertiga di atas dipan tua warisan kakek-nenek.

Malam ini menjadi malam yang panjang baginya. Kebiasannya menonton film horor serasa tak bisa diobati dengan obat apapun. Semasa kecil, Pak Ujang sering mengajak Rani menonton film horor di rumah. Koleksi kasetnya sudah mencapai puluhan keping.

Menurut bapak satu anak ini, menonton film horor merupakan tantangan tersendiri. Tak hayal, apabila dia tak pernah takut ketika pulang terlalu larut malam. Baginya, setan sudah menjadi teman akrab. Tetapi, nampaknya hal ini belum berlaku bagi Rani.

***

Keesokan harinya, Rani harus berada di rumah sendirian. Pak Ujang dan Bu Karni bergegas berangkat bekerja. Pak Ujang memasukan mainan-mainan ala-ala anak sekolah dasar ke dalam kardus. Dia meletakannya di atas jok motor bagian depan. Motor butut—yang berisi mainan—melaju lamban, seperti seorang kakek yang sudah tak kuasa bergerak.

Sementara itu, Bu Karni mengayuh sepeda ontel guna menuju ke rumah Pak Sampan; tempatnya bekerja sebagai pembantu serabutan dengan upah per hari sepuluh ribu.

Jam dinding menunjukan pukul dua belas siang. Matahari telah duduk di tahta tertinggi bumi. Bu Karni sudah menyiapkan makan siang untuk Rani; nasi bungkusan yang dia beli di dekat rumah. Ketika rasa lapar sudah mengetuk perut, dengan segera, Rani memakan nasi bungkus tersebut sambil menirukan kebiasaan bapaknya; nonton film horor.

Kesepian membuat Rani kerap kali menghabiskan waktu menonton TV dengan satu genre kaset yang setia memenuhi rak kaset. Anak tunggal dari pasangan Ujang-Karni ini tidak memiliki teman di kampungnya. Rumah Rani terletak jauh dari kota. Di kanan dan kirinya hanya terlihat persawahan.

Rupanya, Rani masih penasaran dengan film Annabelle yang membuatnya berteriak cukup keras malam kemarin. Boneka perempuan usang menemani Rani menikmati hari. Boneka itu nampak kumuh, seperti disekap cukup lama di gudang. Mata sebelahnya sudah rusak, rambut warna hitam terurai berantakan, pakaiannya kotor; sudah tak terawat.

Tetapi, semua itu tak menjadi masalah baginya. Boneka—temuan di gudang—sudah seperti adiknya sendiri. Rani memperlakukannya seperti manusia; tapi tak pernah memandikannya.

Tepat pada malam Jumat, Rani tak menemukan boneka itu di samping tempat tidurnya. Pada saat itu, jam dinding menunjukan angka dua belas malam; ditandai dengan dentuman jam dinding. Rani keluar dari tempat tidur untuk mencari bonekanya. Rani berjalan menuju dapur—mungkin dia meletakannya saat selesai makan. Tetapi, dia tak menemukannya di sana. Rani kaget setelah melihat TV rumah menyala dan boneka kesayangannya sedang duduk menonton layaknya manusia yang sedang menikmati drama.

Pak Ujang dan Bu Karni kembali mempergoki Rani setelah teriakan kencangnya menghunus kuping mereka. Tak tahan dengan kelakuan aneh anaknya, Pak Ujang memanggil Mbak Lili ke rumah malam itu juga. Keprofesionalan Mbak Lili mengantarkannya ke rumah kecil yang terletak tak jauh dari rumahnya. 

Kebetulan, malam itu Mbak Lili masih terjaga. Drama asal Negeri Gingseng membuatnya masih dapat melihat rembulan yang jelita. Secangkir kopi membuat matanya sulit terpejam, hingga dia harus memanjangkan malamnya.

Mbak Lili memeriksa Rani. Jantungnya berdetak cepat, badannya panas, tubuhnya bergetar. Psikolog muda itu menanyakan kepada Pak Ujang dan Bu Karni tentang kebiasaan Rani. Dengan kompak, mereka menceritakan kebiasaan Rani yang suka menonton film horor.

Mbak Lilik berdehem, “Ehm, putri bapak ini mengalami traumatis karena kebiasaannya sering menonton film horor. Barang-barang di sekitarnya terasa hidup layaknya manusia. Padahal, sebenarnya itu hanyalah halusinasinya belaka. Rani hanya perlu diterapi dengan keceriaan, seperti anak-anak yang lain; hidup dengan kebahagiaan.”

Kecemasan mulai meredup di wajah Pak Ujang dan Bu Karni. Mereka sepakat untuk membakar semua kaset yang telah dikoleksi Pak Ujang sejak dulu, dan menggantinya dengan kaset film animasi ala anak-anak. Rani tak dapat memprotes. Usia tujuh tahun membuat pikirannya hanya setinggi pohon semangka. 

Malam ini, Pak Ujang dan Bu Karni berusaha untuk tidur, begitu pula dengan Rani. Mbak Lili telah pergi menggandeng kecemasan untuk diterbangkan bersama angin malam. Sebuah malam kedua yang menyayat mata. Membuatnya harus bekerja ekstra keras. Bulu kuduk perlahan menunduk terbawa angin menuju mentari.

***

Seminggu sejak pembakaran kaset horor itu, tak ada keanehan yang terjadi. Rani sudah lega dengan animasi kartun baru penghempas kesepian sejak Pak Ujang dan Bu Karni pergi bekerja. Boneka perempuan masih menemani harinya—beserta nasi bungkus setengah dingin di atas meja dapur.

Biasanya, Rani memakannya setelah matahari menjadi raja, dan rembulan masih bersembunyi di balik keringat orang-orang dengan tulang punggung yang menonjol keluar.

Seperti biasanya, Bu Karni pulang sehabis isyak. Kemudian disusul Pak Ujang satu jam kemudian; saat memutuskan untuk pulang dari pasar malam. Malam telah mengantarkan mereka menuju dipan penghuni rumah. Jendela terbuka tiba-tiba. Bau amis pelan-pelan masuk ke dalam kamar. Dentuman jam dinding mengagetkan Pak Ujang dan Bu Karni. Suara jam tak seperti biasanya karena disertai dengan jeritan bocah perempuan kecil.

Pak Ujang dan Bu Karni melihat TV masih menyala. Di kursi rotan panjang nampak terlihat boneka perempuan kesayangan Rani dengan kedua tangan yang mencekik leher anaknya. Malam itu, menjadi malam terpanjang bagi mereka. Karena pada malam itu, Pak Ujang tak hanya kehilangan koleksi kaset horor kesayangannya. Mereka berdua mulai menarik napas panjang dan berniat untuk membakar kesayangannya yang lain.