Aneh. Terlalu banyak warna putih di tempat ini. Berbeda-beda wajah. Setengah mereka tersenyum dan sebagian lainnya datar saja. Setiap hari lalu-lalang di koridor yang sama. Kerap terdengar derap itu. Iramanya tak tentu. Terkadang berjalan terlalu pelan, tapi lebih banyak mengalun dengan tempo cepat, seperti berlari. Membuat kepalaku semakin pusing. Namun, yang paling dibenci hati adalah wajah itu. Rupa yang mula-mula tersenyum, datar, lalu tiba-tiba menyeringai ganas. Berubah beringas. Aku benci! Arrgghhh …!

Terdengar lagi banyak derap kaki . Mereka berlari. Kali ini terdengar lebih cepat. Kepalaku sakit! 

*****

“Ah, betapa beruntung ibumu memilikimu, Nak. Cantik, baik hati, cerdas, berbakat dan tumbuh besar dari keluarga terhormat.” Tante Winda menatap wajah ovalku penuh kekaguman. Lalu sesekali berpindah membelai lembut rambut panjangku. Jika sudah begitu, mama yang melihat akan menarik garis bibirnya begitu lebar. Semanis mungkin seperti biasanya. Senyuman bangga.

Ya, ia adalah ratu dan aku putri jelitanya. Hujan pujian bahwa manusia paling beruntung di muka bumi adalah aku sudah menjadi hal biasa di telinga. Sudah dibisikkan sejak kecil dan aku bertumbuh dalam bisikan-bisikan itu. Orang-orang bahkan sering sekali mengajak bercermin. Begitu senang mereka membelai pipi--halus bening ucapnya. Kemudian berakhir memainkan rambut. Rambut yang hanya boleh dipotong sedikit saat melewati pinggang--indah katanya.

“Gak boleh dipotong pendek!” hardik mama ketika suatu siang aku mengeluh tak bebas berlari-lari dan bermain dengan kawan-kawan. Rambut ini bikin gerah, panas. "Nanti kamu berubah tomboy seperti anak laki-laki. Gak cantik lagi. Mama tidak suka!”

Akibat setelahnya justru menjadi penyesalan panjang. Mama benar-benar takut anaknya nekat. Lalu tak ada lagi langkah riang keluar rumah atau sekedar bermain rumah-rumahan dengan teman. Setelah sekolah langsung pulang. Layaknya tawanan, hari-hari berubah begitu membosankan. Jadilah aku hidup di antara para tetua keluarga. Dengan gaun putih bersih atau sesekali dengan corak bunga warna-warni, duduk manis dan harus wangi. Tampak jelas mama akan gelisah dan membetulkan cara dudukku atau menyibak anak rambut jika terlihat mulai berantakan. Tidak peduli suara cekikikan dan wajah yang mulai cemberut, malu jadi tontonan. Ah, Mama, aku bukan boneka.

Dan pada akhirnya setiap orang akan membawa hari-hari membosankan pada pelarian. Dihadapkan pada berbagai pilihan tentang masa depan. Pilihan-pilihan yang akan mengubah gambaran hidup kemudian. Menjadi gemilang atau berakhir kasihan.

Mungkin itulah yang sedang terjadi sekarang. Di antara bimbang tetap jadi anak baik atau melawan untuk sekadar mencari hiburan. Aku sudah beranjak remaja. Tumbuh semakin jelita sejalan rasa ingin tahu yang terus menggebu pinta. Namun, mamaku tidak. Baginya aku tetaplah boneka mainan yang terus dipertontonkan untuk menarik perhatian. Harus tetap duduk manis dengan baju yang tak boleh kotor. Mama … aku ini anakmu.

****

Untuk pertama kalinya hati begitu senang dipanggil cantik. Kali ini bukan hanya senyum simpul, tapi ada semburat merah malu-malu pada ronanya. Denny, orang yang selalu berhasil melakukan itu. Pemilik dada bidang dengan tubuh tinggi atletis dihiasi wajah menawan dan mata elang tajam yang sangat indah. Ia ketua eskul fotografi. Sering kedapatan mengambil fotoku diam-diam.

Singkat cerita, ia menyatakan rasa itu. Rasa yang selalu kuimpikan setiap malam. Tentu saja tanpa sepengetahuan mama. Kami jadian diam-diam. Seperti kebanyakan pasangan yang baru dimabuk cinta, semua selalu tampak indah. Lalu lama-lama menyebalkan dan membosankan. Denny mulai berubah seperti mama dan semua orang. Banyak aturan. Tidak boleh pulang terlalu malam kecuali jika sedang jalan sama dia. Jalan yang tentu saja kulakukan setelah membujuk ijin mama dengan alasan klise, ada tugas sekolah.

Denny pun mulai cerewet dengan caraku berpakaian, lalu mulai mengeluhkan dandananku. Semua harus seperti maunya. Jangan berteman dan menerima telepon dari pria lain--ia cemburu. Katanya, semua karena ia cinta, tapi bagiku hidup jadi seperti neraka. Pada akhirnya, aku hanyalah manusia biasa. Lelah. Hanya tiga bulan hubungan, aku minta putus.

Terlihat jelas wajah Denny berubah merah. Ia membujuk, tapi aku bertahan. Lalu, diluar dugaan ia menamparku. Dibantingnya tubuhku ke tanah. Aku meronta, tapi tubuh kekarnya terlalu kuat. Aku ingin menjerit. Namun, tangannya membekap sangat keras, membungkam mulut. 

Malam itu, tangannya menjelma seribu. Ia menyeringai seperti binatang rakus. Sia-sia melawan. Tubuhnya terus menimpaku, memukuli tanpa peduli air mataku. Dunia tiba-tiba gelap. Lalu seperti anak kecil bermain boneka baru, ia mulai melucuti pakaianku satu-satu. Mama … tolong anakmu.

****

 “Mama, aku masih cantik, kan? Bagaimana dengan bajuku? Masih bagus? Aku bisa duduk manis, Mama. Lihat, lihat! Aku akan diam tidak banyak bicara.”

Ah, aku bingung kenapa belakangan ini mama sering menangis. Ia juga semakin sering memeluk sambil sesenggukan, hal yang jarang ia lakukan bila didekatku. Kupandangi wajah di cermin. Sedikit aneh dengan hidung bengkok dan mata kanan yang lebam. Ada apa dengan bibir ini? Ah, perih! Ini benar-benar mengherankan.

Untungnya, selalu kubalas pelukan mama dengan tetap tersenyum manis. Aku tahu mama senang jika sikapku seperti itu. Sekarang ia tak pernah marah lagi. Rasanya, aku sudah berhasil jadi anak mama yang membanggakan.

Kabar Denny? Ia anak orang kaya dan polisi tak pernah berhasil menemukannya. Entah di belahan dunia mana ia bersembunyi. Namun kata mereka, setidaknya di sini aku aman. Bukan hanya mama yang mengurus. Sekarang, banyak tangan malaikat berpakaian putih yang memanjakan. Masih seperti mama dan orang-orang dulu. Mereka menyuapi, memandikan, membawaku jalan-jalan keliling taman. Sabar dan baik sekali. Bahkan saat aku mulai berteriak-teriak, mereka akan segera berlari dan menenangkanku. Lucu sekali sampai membuatku tertawa. Ah, mau di sini saja. Selamanya.

“Mama, berhentilah menangis. Lihat, kali ini aku menurut, kok. Janji tidak akan kemana-mana lagi. Selalu langsung pulang ke rumah. Aku masih anakmu yang anggun dan cantik ‘kan, Ma?”