Pasca-sukses menyelenggarakan acara Board Game for Peace (BGFP) di 5 kota pada tahun 2017 lalu, Peace Generation Indonesia pada tanggal 10-12 Agustus kemarin kembali bekerja sama dengan PPiM, UNDP, Convey, dan Kummara untuk mengadakan Training of Facilitator (ToF) BGFP 2.0 di Hotel Cassadua Bandung.

Event ToF ini merupakan tindak lanjut dari BGFP pertama. Sekaligus perencanaan Peace Generation Indonesia kepada para peserta program yang kelak akan menjadi fasilitator event di bulan-bulan terakhir tahun 2018 ini. Tentunya dengan model board game baru yang tidak kalah seru.

Harapan kepada calon fasilitator setelah menempuh ToF ialah agar terlaksananya akselerasi penyebaran nilai-nilai perdamaian ke daerah masing-masing dengan membawa misi dan local-wisdom sesuai keunikan aspek kedaerahannya.

Solusi Asyik bagi Generasi Merunduk

Sedikit berbeda dengan program yang pertama, BGFP 2.0 mendatang ini akan merambah masuk ke kota-kota baru; Aceh, Ambon, Bima, Samarinda, Palembang, Cirebon, dan Palu, sebagaimana telah diinformasikan dalam situs resmi Peace Generation Indonesia.

Kedatangan BGFP 2.0 di beberapa kota baru nanti merupakan suatu kabar baik yang cukup menggembirakan. Mengingat jarang sekali komunitas atau organisasi yang mengampanyekan perdamaian melalui inovasi game. Apalagi yang jenis Board Game.

Hal tersebut sudah dan akan menjadi “titik unikum” yang urgen lantaran dibutuhkan oleh kids zaman now di tengah menanjaknya angka pengguna game online—yang kerap berdampak negatif terhadap kemampuan bersosial seseorang.

Terlebih jika menilik laporan yang dirilis oleh Kelompok Peneliti Konsumen, Newzoo, terdata sejumlah 43,7 juta gamers di Indonesia yang menghabiskan sekitar 880 juta U$D pada tahun 2017 silam. Angka pengguna yang menakjubkan.

Sedangkan ulasan yang diunggah Kumparan.com, secara spesifik diungkap oleh Fendy Tan dari Country Manager Moonton Indonesia (Pengembang Game Mobile Legend), bahwa Indonesia memiliki 8 juta pengguna aktif game Mobile Legend di tahun 2017.

Game-online ber-genre MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) ini masih jadi Top Free Game di Google Playstore hingga sekarang. Dan ini didominasi oleh para pengguna yang berusia muda. Belum yang para pengguna game lain dan belum pula ditambah dengan jumlah pengguna akun sosmed.

Data di atas menekankan fakta sosial, tentang betapa sebagian besar anak muda Indonesia, generasi milenial, dijangkit internet-addict. Utamanya soal game—untuk tidak menyebut “kecanduan kolektif”.

Akan sangat memprihatinkan apabila realitas maraknya “generasi merunduk” tersebut tidak diimbangi oleh sesuatu yang tetap menjaga kehidupan bersosial secara nyata.

Maka kehadiran board game, seperti Galaxy Obscurio dan The Rampung yang dibawakan Peace Generation ini, berperan penting sebagai stabilizer kondisi zaman yang semakin bertambah jauh dari interaksi sosial.

Upaya Preventif Aksi Radikalisme dan Violent Extremism

BBC News Indonesia pernah mempublikasikan informasi bahwa Badan Intelijen Nasional telah menemukan 39% mahasiswa Indonesia berideologi radikal. Jejak ini sesuai dengan angka statistik yang diperoleh BNPT tahun 2017 tentang 39% mahasiswa di 15 provinsi tertarik pada paham radikal.

Kemudian data bulan Agustus 2017 dari Wahid Institute menyebutkan 11 juta orang “bersedia” melakukan aksi radikal, 0,4% penduduk Indonesia “pernah” bertindak radikal dan 7,7% mau bertindak radikal “jika memungkinkan”.

Dari serangkaian hasil survey valid yang cukup mengagetkan di atas, mengindikasikan bahwa situasi Indonesia tengah mengalami “krisis toleransi” dan “darurat radikalisme”. Bahkan diperkuat secara memilukan dengan tragedi bom 4 titik di Surabaya 13 Mei 2018, tepat pada hari Istighosah Akbar di Polda Jatim di malam harinya.

Atas dasar tersebut, otomatis diperlukan adanya pencegahan dini dan upaya deradikalisasi secara ideologis, khususnya terhadap penduduk Indonesia, untuk meng-counter penularan ‘paham berbahaya’ bernama radikalisme—yang kelak bisa berkembang menjadi violent extremism.

Seluruh generasi muda, mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa, elit-intelektual, pejalan spiritual, pejabat pemerintahan, hingga para warga biasa, sangat penting untuk mengambil peran masing-masing dalam membendung proses penyebaran paham radikalisme demi menangkal aksi kekerasan sedini mungkin.

Dari kegelisahan kolektif akan senarai konflik inilah, barangkali menurut saya pribadi, Peace Generation Indonesia beserta mitra-mitranya memberikan tawaran upaya baru sebagai counter-culture dan tindakan preventif terhadap tumbuhnya benih radikalisme lewat sarana Board Game for Peace.

Permainan ini, misalnya Galaxy Obscurio yang dirancang oleh Rio dari Kummara, secara implisit menyisipkan nilai-nilai perdamaian dan mengajarkan prinsip-prinsip kolaboratif di dalamnya.

Pada Galaxy Obscurio terdapat beberapa karakter player berupa planet-planet yang dilengkapi token-token sesuai fungsi seperti token virus dan token pemain beserta komponen kartu-kartu lainnya.

Game akan berakhir di saat ada salah satu pemain yang berhasil mengumpulkan 20 poin, atau ketika ada satu orang yang dijangkit 3 token virus sekaligus. Bisa juga karena semua token virus telah habis menyebar kepada para pemain.

Dalam sistematika permainannya, player masing-masing dipancing untuk menjadi planet yang paling sejahtera dan terkece dengan mengumpulkan poin dari kartu misi. 

Ada juga kartu virus yang nanti dapat dipakai menyerang pemain lain, bisa pula menjangkit planet sendiri, sesuai dengan karakter kartu virus yang muncul. Tentu seperti lazimnya game pada umumnya, ghiroh persaingan antar-pemain tentu masih tinggi. Mengusung egonya masing-masing. 

Namun ketika mengalami yang namanya kehancuran (game over) akibat token virus yang telah habis menjangkit players, maka para pemain pun mulai dibuat berfikir. Sampai para pemain tiba kepada kesadaran tentang “keseimbangan kosmik” dalam game yang memerlukan kerjasama satu sama lain, dan bukannya saling serang. 

Persis seperti dilansir Liputan 6 pada 23 Mei 2018, Irfan Amalee berujar, “Sebenarnya permainan ini konsepnya sederhana saja. Ketika permainan gagal, itu karena pemainnya fokus untuk mengumpulkan poin bagi diri sendiri. Bukan melihat kolaborasi dengan pemain lain.”

Kemudian Taufik Nurhidayatulloh, Program Manager Peace Generation, mengungkapkan, “Jadi fokus utamanya selain nilai-nilai perdamaian ada juga sosialisasinya. Selama proses bermain, terjalin komunikasi atau dialog.”

Beruntung sekali bagi yang telah berkesempatan mencicipi permainan ini, dan memperoleh benefit yang sekaligus menyadarkan kembali tentang semangat kerja sama tim. Gotong royong. Nilai yang menjadi jawaban atas kondisi peradaban yang kian hari kian bangkrut sikap altruisme-nya. 

Di tengah krisis kebersamaan dan minimnya aksi mementingkan kebutuhan orang lain dibanding egoisme personal, ternyata masih ada sodoran solusi kreatif, yaitu salah satunya board game.

Suatu pelajaran yang agaknya mampu secara halus, dan perlahan tetapi pasti, menangkal proses penjamuran ideologi radikalisme yang kini semakin mengancam senyum di wajah keharmonisan bangsa kita.

Penasaran dengan board game ini? Tunggu kabarnya di kotamu segera.