Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW merupakan tradisi yang di amalkan para ulama sejak zaman dahulu setelah sepeninggalnya Rasulullah SAW, hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan rasa cinta para pengikut Rasulullah Saw. Yang hingga sampai zaman sekarang tradisi tersebut selalu rutin dilaksanakan setiap bulan Rabiul awal atau yang masyhur di masyarakat dengan sebutan bulan maulid.

Namun peringatan maulid Nabi Muhammad saw ini tak luput dari tudingan “bid’ah” yang dianggap sesat oleh sebagian kelompok, yang disebut sebagai “kelompok pemurnian tauhid”. Padahal, peringatan maulid Nabi Muhammad Saw merupakan perbuatan yang dipandang baik “mustahab”, dan tidak bertentangan dengan ajaran agama islam, bahkan mengandung banyak manfaat, faedah dan khasiat. Perayaan maulid Nabi saw, memang tidak pernah diadakan di masa Nabi saw, dan sesuatu yang bid’ah, namun itu tergolong bid’ah hasanah.

Apabila di pandang dari bentuk sosial kemasyarakatan umat islam memang bisa dianggap bid’ah sebab tidak pernah terjadi pada zaman Nabi Saw. Tapi bila dilihat dari satu persatu isi kandugan acara maulid tersebut seperti berkumpul untuk berzikir, mendengarkan riwayat kehidupan Nabi Muhammad saw, membaca shalawat dan pujian-pujian kepada baginda Rasul saw, bergembira sebagai ungkapan rasa syukur atas wujudnya beliau di muka bumi ini, kemudian diakhiri dengan bersedekah dan memberi jamuan makan.

Maka semua itu masuk dalam perangkat dalil-dalil syara dan kaidah-kaidah kulliah yang sudah ada di zaman Nabi Muhammad saw, oleh sebab itu tidak tergolong bid’ah. Sebab tidak semua aktifitas yang tidak pernah dikerjakan oleh para ulama salaf atau dalam periode awal islam dianggap bid’ah yang munkar, jelek atau diharamkan sehingga wajib diingkari. Tetapi hal tersebut terlebih dahulu di arahkan kepada dalil-dalil syar’i, jika mengandung suatu maslahat maka hukumnya bisa menjadi wajib, makruh, haram, mubah, sesuai arahan hukumnya sebagaimana kaidah fiqhiyah: 

washilah (perantara) mempunyai hukum yang sama dengan hukum tujuan”. Semua perkara yang memuat dalil-dalil syara’ yang tidak dimaksudkan untuk menyalahi syari’at dan tidak ada unsur kemungkaran termasuk bagian dari agama. Apabila ada seoraang berkomentar, “ini tidak pernah dikerjakan oleh ulama salaf” pernyataan tersebut sama sekaali tidak argumentatif.

Perkara bid’ah tidak semuanya haram, sebab jika memang haram, otomatis haram pula usaha kondifikasi Alquran yang dirintis sayyidina Abu Bakar, Umar dan Zaid bin Tsabit r.a. yang ditulis dalam bentuk mushaf karena khawatir akan hilangnya Alquran disebabkan meninggalnya para sahabat yang populer dengan julukan Qurra.

Begitu pula adzan diatas menara, mendirikan pesantren, mesjid, rumah sakit, poliklinik, pamti asuhan dan penjara, apakah hal tersebut bisa dikatakan bid’ah? Karena itulah para ulama memberikan ikatan hukum akan hadist yang berbunyi “Kullu bid’atin dhalalatun” dengan bid’ah Sayi ah atau buruk. Maka dengan ikatan hukum tersebut semua aktifitas yang beum pernah diadakan pada masa Rasulullah Saw, kemudian dilakukan oleh para sahabat dan tabi’in tidak bisa di sebut bid’ah.

Imam Syafi’i berkata: “perkara yang baru dan menyalahi Alquran, sunah, ijma’ dan atsar adalah bid’ah dhalalah (sesat). Namun suatu hal yang pada dasarnya baik maka hal itu terpuji.” Didalam peringatan maulid dibacakan tentang kelahiran dan sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw. Dalam Alquran surah Hud ayat 120 Allah swt berfirman: “Dan sebuah kisah para rasul kamu ceritakan padamu yang dengannya kami teguhkan hatimu.”

Jelaslah bahwa hikmah mendengarkan kisah-kisah para rasul adalah sebagai acara pemantapan qalbu, maka sudah pasti dengan kita mendengarkan kisah sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw adalah untuk memantapkan hati sebagai salah seorang umat Nabi saw. Dalam perayaan maulid diterangkan peristiwa kelahiran mukjizat, biografi, dan pengenalan pribadi Nabi saw. Kita memang diperintahkan untuk mengenal, mengikuti, menapaktilasi jalan hidupnya dan beriman dengan mukjizatnya.

Mendengar dan mengenal sifat Nabi saw, mengetahui mukjizat dan irhashat (tanda-tanda kenabian sebelum turunnya wahyu) itu membuat iman kita kian sempurna dan bertambah cinta kepadanya. Sebab karakter jiwa manusia itu menyukai sesuatu yang memiliki unsur estetika, baik dari sisi akhlak, bentuk tubuh, ilmu perbutan, identitas diri dan keyakinan.

Maka siapa gerangan yang lebih utama dari Rasululah saw? Usaha yang dilakukan untuk menambah kecintaan dan kesempurnaan iman itu dianjurkan syariat, jadi hal-hal yang mengarahkan kesanapun seperti merayakan maulid ini dianjurkan pula dalam syariat agama. Perayaan maulid bisa menjadikan sebagai motivasi bagi kita untuk memperbanyak membaca shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw yang keduanya memang dianjurkan.

Sebagaimana firman Allah swt dalam Alquran surah Al-ahzab ayat 56: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya itu bershalawat atas Nabi, wahai orang-orang beriman bershalawat dan ucapkan salam baginya.” Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menerangkan bahwa ayat di atas merupakan suatu penghormatan dari Allah swt terhadap Rasulullah saw, baik di waktu hidup beliau maupun setelah wafatnya, jua menjelaskan tentang ketinggian martabat beliau disisi Allah swt.

Membaca shalaawat, zikir serta ceramah-ceramah agama dalam peringatan maulid Nabi Muhammad saw memiliki banyak manfaat diantaranya. Diantaranya dapat membuat hati terasa tenang dan damai juga dapat mempererat hubungan kekeluargaan antara umat muslim, bahkan di sebutkan dalam sebuah hadist “Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, maka karena shalawatnya tersebut Allah akan bershalawat kepadanya sepuliuh kali”.

Sedangkan shalawat dari Allah Swt merupakan rahmat, pengampunan dan ridha-Nya, jadi Allah swt akan membalas siapapun hambanya yang bershalawat kepada Nabi saw. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa perayaan maulid merupakan perbuatan yang dipandang baik dalam agama bahkan sunnah. Karena sesuai dengan dalil-dalil Alquran, as-Sunnah, maupun Atsar dan bukan merupakan bid’ah dhalalah.

Adapun yang melakukannya akan mendapatkan pahala, karena pelaksaan maulid banyak mengandung manfaat serta khasiat. Dan juga dalam hal maulid Nabi juga tidak memaksa dan mewajibkan untuk dijalani oleh seseorang sampai orang yang tidak melakukannya di hukum haram (tidak). Oleh sebab itu, yang ingin melaksanakan maulid silahkan, dan yang tidak ingin melakukan maulid silahkan.