Awal tahun 2016 silam saya diberi kesempatan berdiskusi dengan  Prof. Endang Sukara salah satu pakar Bioteknologi LIPI di Bogor,  Jawa Barat. Di usia yang menginjak 65 tahun, beliau masih gigih dan optimis terhadap potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh bangsa indonesia. 

Meskipun beliau memiliki perasaan pesimis terhadap kemajuan riset bangsa ini.“Selama indonesia merdeka 71 tahun, serasa bangsa ini belum memiliki inovasi yang bisa dibanggakan, lihat India ada semangat  swadesi untuk mendorong inovasi, kita apa-apa impor” tutur beliau. 

Bukan rahasia lagi bahwa perkembangan bioteknologi ditunjang oleh peralatan dan bahan-bahan penunjang misalkan enzim yang digunakan dalam eksperimen di laboratorium, sayangnya bahan-bahan tersebut mayoritas merupakan produk impor dari negara lain. 

Peralatan laboratorium di impor juga dari China, Jepang, Jerman, dan sebagainya. “kamu tahu nggak, paling sepele saja,  NaCl itu impor, kan lucu” kelakar beliau. 

Peneliti LIPI ini juga mengeluhkan semakin banyaknya produk-produk pangan yang diimpor dari hasil pertanian bangsa lain, misalnya kedelai, jagung, hingga padi. “tepung tapioka juga di impor dek, kita sudah habis. Diperkirakan juga petani akan berkurang pada tahun 2020.

Faktor seperti alih fungsi lahan dan berpindahnya minat pada industri mengubah negara kita. Pada kesempatan ini beliau menekankan bahwa pengembangan bioteknologi harus mengacu pada bioetika, human dignity dan bio-safety protocols

Ship handle yang terdapat pada Cartagena tidak mengatur pada kepentingan bangsa Indonesia, selain itu fenomena konversi lahan yang tidak bertanggung jawab terhadap habitat makhluk hidup lain dan local wisdom sangat mencemaskan. 

Hutan alam merupakan kekayaaan alam yang berharga. Selain itu, merupakan aset alokasi geografis dan memiliki fungsi sebagai perpustakaan pengetahuan tradisional (perpustakaan alam). 

Prof. Endang Sukara memaparkan bahwa potensi tumbuhan seperti Putri malu (Mimosa pudica) dan Tapak liman (Elephanthopus scaber L.) seharusnya menjadi perhatian, karena mereka memiliki metabolit yang menarik untuk dijadikan bahan riset. 

Di Indonesia sedikit sekali pakar metabolite profiling. Negara maju mempunyai banyak pakar yang bisa mengungkap aplikasinya.  

Kita seharusnya tidak hanya menjadikan keanekaragaman tumbuhan sebagai artefak herbarium saja, namun memanfaatkan kemajuan computer science untuk mengetahui komponen yang terkandung didalamnya. 

Prof.  Endang Sukara mengklasifikasikan kekuatan dunia dalam lingkup penguasaan sains menjadi tiga, yaitu negara yang sedikit sumber daya alam tetapi memiliki sumber daya manusia yang handal seperti negera-negara Eropa, Amerika serikat, Singapura. 

Mereka mendorong para ilmuwan untuk berdikari secara IPTEK sehingga memacu perekonomian negara. 

Kemudian negara yang yang sedikit sumber daya alam maupun manusia seperti negara-negara Afrika sub-sahara (bahkan pertambangannya pun dikuasai Perusahaan China) akan susah mengejar ketertinggalan.

Dan yang terakhir adalah negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam tetapi sedikit sumber daya manusia yang handal seperti Indonesia, kondisinya diperkirakan stagnan.

“Masalah di Indonesia itu klasik, sedikit orang yang passion di bidang riset, sedikit ahli, dana penelitian dari pemerintah pun hanya nol koma nol sekian dari APBN, pemerintah kita hanya berfokus pada politik dan investasi, tidak memperhatikan hal fundamental seperti ini" ujar beliau.  

"Coba kita belajar pada primata, menurut saya apa yang dimakan primata seharusnya juga bisa dimakan manusia karena perbedaan kita dengan mereka sedikit kan, kita tidak belajar hal-hal seperti itu”. 

Kemajuan teknologi memungkinkan kita secara cepat membaca gen sehingga dapat mengetahui produk apa yang akan dihasilkan, kita juga dapat memproteksi gen. Namun, perkembangannya sekarang peneliti indonesia masih belum khatam dalam membaca gen. 

Padahal membaca gen, adalah basic untuk melakukan sesuatu yang lebih. Riset dunia telah berhasil mengembangkan cabang ilmu baru  di Biologi yaitu Synthetic Biology yang memungkinkan manusia untuk membuat DNA Sintetis. 

“Bayangkan jenis metabolit seperti steviosida yang diambil dari tanaman Stevia (Rebaudiana Bertoni) sekarang bisa dibuat sendiri dengan kemajuan synthetic biology, orang Uruguay mau impor stevia akan kalah dalam perang dagang, lha steviosida saja sudah bisa dibikin sintetiknya"

Ilmuwan sekarang tidak cuma bisa membaca gen, tetapi menulis gen.  "Synthetic biology itu ya menulis gen seperti apa yang mereka inginkan dan hasilnya presisi.” Tutur ahli bioteknologi tersebut.

Baca Juga: Gen yang Egois

Misal Indonesia ingin impor Jahe, ekstrak jahe dengan kemajuan synthetic biology orang bisa membuat sintetiknya, menyusun gen yang  mirip dengan gen jahe.

Prof. Endang Sukara menyarankan kita belajar dari penelitian J. Craig Venter yang sudah mampu membuat sel minimum dengan sekitar 400 gen saja. 

“kalau kamu bisa ikut riset Craig Venter di masa depan itu menarik, belajarlah dari dia yang sudah memiliki pencapaian yang mengagumkan”. J. Craig Venter adalah salah satu inisiator Human Genome Project, proyek fantastis yang bertujuan memetakan gen-gen yang terdapat pada tubuh manusia. 

Selain perbincangan mengenai Synbio beliau juga sharing mengenai pencapaian LIPI. Riset-riset bioteknologi LIPI yang berhasil contohnya adalah tagging dan activation gene pada padi. 

Sebagian gen pada padi tidak teraktivasi padahal kemungkinan memiliki potensi luar biasa jika diaktifkan, maka para ilmuwan LIPI mengadakan riset agar gen-gen yang tidak aktif menjadi aktif. 

Hasilnya adalah 6000 galur harapan padi yang berbeda ditemukan, tetapi usaha tersebut kurang mendapatkan apresiasi dari kementerian pertanian yang menginginkan proses penemuan varietas baru secara cepat. 

Di akhir diskusi beliau berpesan bahwa kemajuan IPTEK membutuhkan radar. Radarnya ialah sumber daya manusia dan kesediaan dana yang cukup. Jumlah peneliti kita kurang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia, negara lain seperti Singapura justru lebih banyak. 

Mereka rela membayar orang asing untuk transfer llmu, mengadakan riset untuk kepentingan negara Singapura. Kalau di Indonesia kebanyakan peneliti asing di persilakan masuk, tetapi hasil risetnya dipakai negara mereka bukan untuk kepentingan kita. 

Kualitas riset kita juga masih dipertanyakan. "Saya tahun ini (2016) akan pensiun, kalian yang muda yang punya kesempatan banyak, yang punya jangka waktu yang masih panjang perlu mengubah itu” ungkap beliau.