Hari ini, menjadi sangat penting bagi kita untuk mengetahui asal-usul alam semesta dan dari mana kita berasal. Bertahun-tahun para ilmuwan mencari bagaimana proses terbentuknya alam semesta kita. Dan untuk saat ini teori yang mendekati kebenaran atau setidaknya yang paling relevan adalah teori Big Bang.

Big Bang adalah sebuah ledakan kosmis yang terjadi pada masa lampau dan selanjutnya materi dari ledakan tersebut membentuk  galaksi, memadat menjadi bintang-bintang, serta benda-benda luar angkasa yang lain termasuk planet bumi. 

Seorang matematikawan dari Belgia yang bernama Abbe Georger Lemaitre menyatakan bahwa Big Bang berawal dari sebuah kesatuan seluruh atom, dan dia lah orang  yang dianggap pertama kali mencetuskan teori Big Bang

Pada tahun 1929, Edwin Hubble melakukan observasi yang sampai pada kesimpulan bahwa alam semesta kita terus mengembang, yang berarti pada awalnya benda-benda langit ini berada pada jarak yang sangat dekat dan berada pada suatu tempat sehingga alam semesta berada dalam kerapatan yang tak terhingga. Penemuan tersebut yang akhirnya membawa asal-usul alam semesta ke dalam dunia sains.

Sebelum Edwin Hubble mencetuskan bahwa alam semesta mengembang, Stephen Hawking dalam bukunya yang berjudul The Theory of Everything (2002) menyebutkan bahwa seorang bernama Alexander Friedmann dari Rusia membuat dua asumsi sederhana tentang alam semesta. 

Pertama, bahwa alam semesta terlihat identik dalam arah manapun kita mengamatinya. Kedua, hal ini juga akan benar jika kita mengamati alam semesta dari berbagai tempat. Dengan dasar-dasar yang ada pada relativitas umum dan dua asumsi ini, Friedmann menunjukan bahwa alam semesta tidak statis. Hal ini sesuai dengan penemuan Edwin Hubble mengenai alam semesta yang mengembang. 

Stephen hawking mengatakan seluruh galakasi bergerak saling menjauhi. Situasi ini lebih mirip seperti kita meniup sebuah balon yang mempunyai sejumlah titik di permukaannya. Sebagaimana balon mengembang, jarak antara dua titik membesar, namun tidak ada titik yang dapat dikatakan sebagai titik pusat ekspansi. 

Big Bang diprediksi terjadi sekitar 14 milliar tahun yang lalu, para ilmuwan memperkirakan terjadinya Big Bang dengan rumus yang sederhana yaitu membagi jarak beberapa galaksi dengan kecepatan menjauhnya. Menurut buku The Big Bang Theory karya Heru Apriyono (2013) ini menjadi sangat penting sebagai dasar penjelasan evolusi kosmis kita. 

Dengan menggabungkan teleskop raksasa dan spektroskop, dan mengarahkannya untuk menganalisis cahaya dari spiral jauh dan galaksi lain, para ilmuwan menemukan fakta mengejutkan. Galaksi-galaksi bergerak menjauhi kita dengan kecepatan tinggi, dan makin jauh mereka, makin tinggi kecepatannya. Ini berarti, secara keseluruhan galaksi-galaksi bergerak saling menjauh dengan cepat satu sama lain, dan bahwa alam semesta memang benar-benar mengembang. 

Jika alam semesta mengembang secara perlahan, gaya gravitasi pada akhirnya akan menghentikan pengembangan alam semesta dan alam semesta akan mulai berkontraksi. Namun, jika alam semesta mengembang dengan kelajuan yang lebih besar, gaya gravitasi tidak akan pernah cukup untuk menghentikannya, dan alam semesta akan terus mengembang. 

Stephen Hawking menganalogikan hal ini dengan sebuah roket yang naik dari permukaan bumi. Jika roket mempunyai kecepatan yang cukup rendah, gravitasi akan menghentikannya dan menarik roket kembali ke permukaan bumi. 

Namun sebaliknya, jika roket mempunyai kecepatan yang cukup besar, gravitsai tidak akan cukup kuat untuk menariknya kembali, sehingga roket akan naik terus. 

Dari gagasan alam semesta mengembang itulah, teori Big Bang lahir. Artinya, pada masa lampau alam semesta berkumpul menjadi satu serta berada pada kerapatan dan panas yang tak terhingga. Sehingga, pada saat ledakan terjadi kita bisa mengasumsikan seluruh materi hanya berwujud proton dan elektron utama sebagai unit tak stabil, kemudian terangkai menjadi neutron. 

Stephen Hawking berpendapat bahwasanya satu detik setelah ledakan besar tersebut, temperatur akan turun sampai lebih kurang sepuluh milyar derajat. Temperatur ini sekitar seribu kali temperatur di inti matahari, namun temperatur yang sama tingginya dicapai dalam ledakan bom hidrogen. Saat itu alam semesta akan terisi oleh sebagian besar foton, elektron, dan neutron dan antipartikel-partikelnya, bersama dengan beberapa proton dan neutron.

Hanya dalam beberapa jam sesudah ledakan besar, produksi helium dan unsur-unsur lain berhenti. Dan sesudahnya, selama sekitar sejuta tahun, alam semesta bakal terus mengembang dan mendingin. Namun, dalam daerah yang sedikit lebih rapat daripada kerapatan rata-rata, pengembangan akan menjadi lambat karena tarikan gravitasi lebih besar. 

Pada akhirnya pengembangan akan berhenti dalam beberapa daerah dan menyebabkan daerah tersebut runtuh kembali. Sebagaimana daerah tersebut runtuh, tarikan gravitasi dari bahan luar di daerah ini akan menyebabkan mereka mulai berotasi. Seiring daerah yang berotasi semakin kecil, putarannya akan semakin cepat. 

Pada proses ini, lahirlah galaksi-galaksi yang berputar seperti piringan. Begitulah sekiranya pendapat Stephen Hawking dalam bukunya yang menjadi best seller international; A Brief History of Time. Lalu  sebagian besar gas dan materi-materi membentuk benda-benda langit seperti yang kita ketahui sekarang ini, termasuk planet bumi.

Masih dalam buku A Brief History of Time, disebutkan bahwa bumi pada permulaanya sangat panas dan tak memilki atmosfer.  Seiring waktu, bumi mendingin dan mendapat atmosfer dari gas yang dikeluarkan bebatuan. 

Karena dalam atmosfer awal tidak mengandung oksigen, kita tidak bisa hidup di dalamnya. Namun, ada bentuk-bentuk kehidupan yang diuntungkan dalam keadaan seperti itu. Bentuk kehidupan tersebut diperkirakan berkembang di dalam laut. 

Melalui proses evolusi yang rumit, bentuk-bentuk kehidupan pertama mengonsumsi berbagai bahan, termasuk hidrogen sulfida, dan melepas oksigen. Secara perlahan pelepasan oksigen itu mengubah atmosfer menjadi seperti sekarang, dan memperkenankan perkembangan bentuk-bentuk kehidupan lain hingga menjadi manusia.

Kemudian yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, apa yang terjadi sebelum Big Bang? Untuk menjawab hal ini, sejumlah ilmuwan berpendapat bahwa waktu sendiri bermula dalam ledakan besar, dan kita tidak bisa mempertanyakan apa yang terjadi sebelum ledakan besar, hal ini seperti kita mempertanyakan; apa yang terletak di utara Kutub Utara? Atau dalam kata lain, pertanyaan seperti di atas nampak sia-sia.

Dalam sebuah sesi wawancara, Stephen Hawking pernah menyatakan bahwa peristiwa sebelum Big Bang tidak dapat didefinisikan secara pasti karena peristiwa sebelum Big Bang tidak memiliki konsekuensi pengamatan, dan bahwa waktu dimulai saat Big Bang terjadi. 

Akan selalu ada pertanyaan mengenai teori Big Bang, namun dari teori Big Bang ini pula kita bisa menjadikan langkah awal memahami bagaimana alam semesta kita terbentuk. Tidak menutup kemungkinan bahwa Big Bang akan menjadi sebuah pijakan teori-teori besar yang akan lahir di masa depan mengingat perkembangan teknologi kita yang semakin maju.

Sementara itu, Carl Sagan boleh saja berpendapat bahwa alam semesta adalah sebuah tempat yang besar dan jika hanya kita yang tinggal, hal ini akan menjadi sia-sia. Tapi, untuk sementara ini kita tahu bahwa bumi adalah satu-satunya tempat yang memiliki kehidupan.

Dari pale blue dot ini lahir gagasan-gagasan besar termasuk gagasan-gagasan mengenai Big Bang itu sendiri. Sembari ilmuwan mempelajari teori-teori tentang asal-usul alam semesta yang lebih komprehensif untuk masa depan, kita bisa memulai untuk menjaga atau merawat satu-satunya tempat tinggal kita ini sebagai rasa syukur atas apa yang diberikan alam semesta kepada kita.