Kiprah artistik Betrand Peto tampaknya makin populer bagi publik Indonesia beberapa bulan terakhir. Sejak penampilan perdananya di acara Brownies TRANS TV pada April lalu, suara syahdu anak Manggarai, NTT, itu membikin jutaan orang mewek dan jatuh hati. 

Cahaya mata Betrand yang cenderung nelangsa lantaran terhimpit prahara rumah tangga orang tua menarik empati masyarakat Indonesia yang kemudian mengangkat Betrand sebagai kerabat online mereka

Adalah Ruben Onsu dan Sarwendah Tan, pasangan selebritas, yang secara nyata mengangkat Betrand menjadi bagian inti dari bahtera rumah tangga mereka. Tak tanggung-tanggung, Betrand ditetapkan sebagai kakak bagi Thalia dan Thania, dua putri kandung Ruben dan Sarwendah. 

Pada banyak kesempatan, Ruben dan Sarwendah menyatakan bahwa kasih sayang mereka terhadap Betrand setali tiga uang dengan kasih sayang mereka terhadap Thalia dan Thania.

Meski televisi berjasa memperkenalkan Betrand kepada publik, YouTube-lah yang sesungguhnya melahirkan Betrand. Video perdananya ketika menyanyikan lagu Ebiet G Ade, Titip Rindu buat Ayah, mendadak viral dengan lebih dari tiga juta penonton. 

Di bawah asuhan Ruben, Betrand berkesempatan berkolaborasi dengan penyanyi-penyanyi tenar Indonesia, semisal Judika, Iyeth Bustami, Anji, dan Arman Maulana. Dan lagi-lagi, akun YouTube yang menayangkan kolaborasi ini beberapa kali memuncaki video terpopuler Indonesia.

Bagi saya, perjalanan karier Betrand seperti butir-butir mukjizat yang tercurah dari langit. Sukar dibayangkan, bocah pemalu dari pelosok NTT itu sukses menghipnotis Indonesia melalui suara merdu dan sikapnya yang sahaja. 

Sejak perpindahan domisilinya dari NTT ke Jakarta dua bulan lalu, Betrand seakan dialihkan keberadaannya dari dunia mimpi menuju alam nyata. Mimpi yang juga dimiliki jutaan anak NTT, namun sulit diterjemahkan menjadi realitas.

Ngkiong Poco dan Kicauan Sendunya

Nun jauh di tanah kelahiran Betrand, Mangggarai, Flores, NTT, terdapat sejenis burung bersuara merdu yang oleh penduduk setempat dinamakan Ngkiong (Pachycephala nudigula). 

Dalam Bahasa Indonesia, Ngkiong dikenal dengan sebutan Kancilan Flores atau Samyong. Lantaran kesanggupannya untuk meniru suara-suara lain di sekelilingnya, Ngkiong disebut juga burung sejuta kicauan. Meski pandai meniru, Ngkiong tetap memiliki kicauan khas, sebuah kicauan sendu yang memilin rindu.

Yovie Jehabut, pemerhati burung di Manggarai, pernah menulis bahwa Ngkiong masuk dalam kelas burung berukuran sedang dengan panjang ± 20 cm dan diameter tubuh ± 8-15 cm. 

Dari tampilan fisik, Ngkiong tak terlihat istimewa. Ia begitu sederhana. Kepala dan ekornya berwarna hitam pekat, hampir seluruh tubuh diselimuti bulu hijau muda, lehernya merah telanjang tanpa bulu. Namun dari segi merdunya lengkingan, Ngkiong luar biasa istimewa. Dialah penguasa belantara.

Di Manggarai, Ngkiong dapat ditemukan di daerah pegunungan, yang dalam bahasa lokal disebut Poco. Itulah alasannya mengapa penduduk setempat menyebut burung ini dengan nama Ngkiong Poco.

Orang Manggarai mengatakan, meski bersuara merdu, Ngkiong bukanlah tipe burung yang suka pamerkan diri. Malah sebaliknya, Ngkiong dikenal pemalu. Ketika sedang berkicau, ia memilih untuk bertengger pada ranting pohon yang tinggi atau bersembunyi di antara rimbun dedaunan hutan.

Melampaui makna kehadiran fisik seekor burung, Ngkiong merupakan ikon bagi masyarakat berkebudayaan Manggarai. Eksistensi Ngkiong merangkum keintiman relasi orang Manggarai dengan Tuhan, alam semesta, dan sesama manusia. 

Maka tidak heran bila kata Ngkiong sering kali muncul dalam syair lagu atau pantun adat berbahasa Manggarai. Bagi mereka, Ngkiong adalah panggilan untuk bertakwa kepada Tuhan, memelihara alam lingkungan, dan mencintai sesama manusia.      

Betrand si Ngkiong Poco

Menurut saya, Betrand adalah Ngkiong Poco yang sukses menghipnotis publik Indonesia. Ia anak gunung – wong ndeso, dengan kualitas suara istimewa. 

Menurut pemilik akun YouTube Yuyu Yumandani, Betrand adalah the next Judika. Sementara itu, youtuber luar negeri Shady Shae mengatakan Betrand Peto adalah Justin Bieber-nya Indonesia. 

Namun melampaui semuanya itu, Betrand adalah dirinya sendiri, tidak meng-copy siapa-siapa. Ia punya karakter suara yang khas dan orang Indonesia jatuh cinta pada karakter itu.

Meski bersuara istimewa, Betrand terlihat bersahaja dalam setiap penampilannya. Bahkan ia terkesan pemalu dan tidak suka pamerkan karisma diri. Dua contoh nyata dari sikapnya ini adalah ketika ia bernyanyi bersama Andmesh Kamaleng dan Iyeth Bustami. 

Tampil bersama Andmesh di NET TV, Betrand beberapa kali memberi Andmesh kesempatan untuk menyanyikan bagian tertentu lagu Cinta Luar Biasa. Padahal Betrand sendiri bisa mengambil bagian itu, yang boleh jadi akan membuat lagu makin indah.

Hal yang sama terjadi ketika ia menyanyikan lagu Cinta Kita bersama Iyeth Bustami di acara KDI 2019 MNCTV. Meski Iyeth tampil atraktif dan “provokatif”, Betrand sanggup mengendalikan emosi dan bertahan pada karakter vokalnya. 

Tak tampak bahasa tubuh Betrand yang menunjukkan kepongahan diri “ini mudah, saya bisa”. Bahasa tubuhnya lebih menampilkan kerendahan hatinya untuk “belajar lebih banyak” dari Iyeth Bustami. Alhasil, dalam dua minggu saja, video keduanya telah ditonton sebanyak lebih dari sepuluh juta kali.

Seperti Ngkiong yang merangkum kedekatan seseorang dengan Tuhan, alam, dan sesama, demikian pula arti kehadiran Betrand saat ini. Betrand sanggup mengoyak sisi emosional penonton dan mengantar mereka untuk makin mencintai Tuhan, alam, dan sesamanya. 

Realitas ini bisa kita perhatikan dari tulisan yang penonton sematkan pada video-video Betrand. Ada yang bersyukur pada Tuhan atas suaranya, ada yang mengagumi alam NTT tempat asalnya, dan ada pula yang rehat sejenak dari kekacauan politik tanah air – meresapi suara Betrand, merayakan damai.

Menemukan yang Lain

Bagi saya, pesan paling universal dari kisah Betrand ialah ajakan kepada publik Indonesia agar membuka hati bagi talenta-talenta muda dari NTT. Yakinlah bahwa Betrand hanyalah satu dari sekian banyak anak NTT yang juga punya potensi pada berbagai bidang kehidupan.

Seperti Ngkiong yang kerap menyingkir ke ranting nan tinggi atau bersembunyi di balik rimbun dedaunan hutan, demikianlah anak-anak berbakat di NTT kerap bersembunyi di balik riuhnya stigma terkait NTT.

Mereka bersembunyi dari kejamnya stigma Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menuduh anak-anak NTT sebagai “biang kerok” rendahnya peringkat mutu pendidikan Indonesia. Mereka bersembunyi karena NTT selalu masuk dalam jajaran provinsi miskin sedang pada saat yang sama banyak pejabatnya berfoya-foya atas harta hasil korupsi. 

Mereka bersembunyi karena orang tua dan para guru tidak sanggup memberi jalan pada mimpi-mimpi mereka lantaran keterbatasan fasilitas dan sumber daya ekonomi.

Inilah saatnya Indonesia meretas jalan bagi terwujudnya mimpi dan talenta anak-anak NTT. Pemerintah dan masyarakat Indonesia perlu belajar dari kisah Betrand bahwa anak-anak NTT punya harta terpendam yang bisa disumbangkan demi menambah mutu negeri ini. 

Meningkatkan kualitas pendidikan, menambah fasilitas pengembangan bakat di sekolah-sekolah, menyelenggarakan kompetisi secara berkala, serta mengapresiasi karya anak-anak NTT adalah serangkaian upaya penting yang semestinya dilaksanakan di sana.

Sebagaimana Betrand – si Ngkiong poco itu telah mewujudkan mimpi-mimpinya di Ibu kota, semoga demikianlah nanti dengan nasib anak-anak NTT lainnya. 

Maka untuk saat ini, izinkanlah anak-anak NTT bermimpi seindah-indahnya, sambil terus membimbing mereka berjuang segiat-giatnya. Sebab boleh jadi seorang anak NTT yang hari ini berjualan kue di bawah terik mentari ternyata adalah calon bintang cemerlang di hari esok. 

Siapa yang tahu? Toh Betrand sudah membuktikannya.