Manusia-manusia Indonesia hidup dari sepak bola, bahkan sepak bola adalah kehidupan itu sendiri.

Sepak bola telah menjelma budaya, antusiasme tak pernah padam, mewabah ke mana-mana. Sepak bola telah melewati batas-batas. Ia adalah olahraga untuk semua, tak mengenal strata sosial, disaksikan di mana-mana.

Sepakbola membentuk identitas kebangsaan, terlihat jelas apabila yang bermain adalah negara. Orang-orang menukar segalanya; uang, waktu, bahkan kekasih yang dimiliki, apa pun demi mendukung negaranya. Itulah yang saya rasakan.

Tak satu pun pertandingan cabang sepak bola putra pada ajang South East Of Asian (SEA) Games 2019 ini saya lewatkan. Tentu maksud saya ketika timnas Indonesia yang bertanding. Menggelar 5 laga dalam sepuluh hari. Tim besutan coach Indra Sjafri itu saya tunggui dengan sabar dan senantiasa dengan harapan yang membuncah.

Sekalipun diragukan oleh pengamat sepak bola, terbukti timnas dapat melangkah jauh, nyatanya batu besar bernama Thailand berhasil dicacah timnas. Langkah pertama Evan Dimas dan tim begitu meyakinkan.

Laga berikutnya tak kalah meyakinkan. Dengan angka serupa pada laga sebelumnya, Singapore juga kita libas 2-0. Sekali lagi, timnas menoreh kemenangan tanpa kebobolan.

Laos dan Brunei Darusallam menjadi kesebelasan yang juga merasakan betapa langit-Nya permainan Indonesia untuk kualitas sepak bola mereka yang Bumi. Tercatat dalam fase penyisihan grup, timnas hanya sekali tersandung oleh Vietnam.

Kendatipun demikian, tak ada soal. Timnas berhak atas tiket semifinal, keluar sebagai runner-up grup, dan menantang juara dari grup sebelah, Myanmar.

Pertandingan demi pertandingan yang saya saksikan itu memberikan gambaran yang cukup jelas. Bahwa timnas bermain makin baik. Olah bola, sentuhan satu-dua, kecepatan, serta kelincahan pemain timnas begitu menjanjikan dan sungguh sepak bola yang seperti itulah yang menghibur dan membuat saya betah melihat sampai menit akhir.

Sampai akhirnya, dipertemukan dengan Vietnam lagi di partai Final. Masih seperti di awal, harapan saya tetap bahkan kian membuncah. Timnas akan mencapai puncak permainannya, pikir saya begitu. Malam kemarin adalah laga penentu; lagi pula kesebelasan mana yang mau bercanda di fase paling menegangkan?

Kekalahan harus dijadikan pelajaran, memang begitu seharusnya. Dan timnas pernah kalah dengan Vietnam pada laga ketiga fase penyisihan grup. 2-1, skor yang tidak buruk-buruk amat untuk dijadikan acuan berbenah, apalagi timnaslah yang unggul lebih dulu pada pertandingan awal bulan Desember yang lewat.

****

Peluit panjang tanda dimulainya babak pertama ditiup oleh wasit asal Saudi Arabia, Majed Mohammed Alshamtani. Detik bergulir, menit demi menit saya masih menikmati sajian olah bola dari kaki-kaki pemain timnas Indonesia.

Sebagaimana biasanya, timnas bermain bagus. Bola lancar mengalir. Tusukan dari sisi kiri-kanan sayap kerap mengancam. Beberapa peluang tercipta, satu di antaranya: sepakan keras Zulfiandi melalui service tendangan bebas.

Petaka itu datang pada menit ke-20, saat bek Vietnam Doan Van Hau sepertinya dengan sengaja mencederai Evan Dimas. Pemain asal Surabaya itu ditarik keluar. Pergelangan kaki Evan bermasalah. Untuk sekadar berjalan, ia harus ditopang tim medis. Sebentar kemudian, Syahrian Abimanyu yang masuk menggantikan.

Ajaib, tiba-tiba sepak bola timnas berubah. Ada yang berbeda tanpa keberadaan Evan Dimas. Suplai bola seperti tersendat. Kreativitas permainan tak berkembang. Walhasil, membongkar pertahanan Vietnam jadi kesulitan tersendiri.

19 menit setelah cederanya Evan, skuad Garuda Muda kecolongan. Perihnya lagi, yang mencetak gol adalah Doan Van Hau yang bernomor punggung 5 itu. Tak puas dengan kaki menyakiti timnas, di menit 39 itu, ia gunakan kepalanya.

Peluit panjang kembali ditiup. Babak pertama selesai dan timnas tertinggal 1 gol atas Vietnam. Saya masih bersabar dan berusaha terus berpikir jernih dan optimis.

45 menit berikutnya, saya harap hal-hal manis akan kita tuai. Dan dimulailah babak kedua, kemudian kita sama-sama tahu apa yang terjadi di lapangan.

Entahlah, permaian yang disajikan oleh timnas semalam di Rizal Memorial Stadium seperti seorang tua di pingir jalan: compang-camping, lusuh, mata cekung, dan betapa rapuhnya pertahanan, Nadeo yang tampan dan mirip Kepa itu tak berguna sama sekali di bawah mistar gawang.

Timnas sedekah gol, padahal kesemua gol itu, jika kita jeli melihat, adalah tendangan dan sundulan kepala yang tak bertenaga. Tapi memang dasar sial tak terhindar.

Setelah dua gol bersarang, timnas terlihat seperti kehabisan energi bermain. Energi dalam pengertian sebenarnya atau dalam pengertian lain, sikap spartan yang redup. Lini tengah juga serang timnas seperti tak ada semangat berlipat untuk menang. Untuk sekadar membalas satu gol pun payah.

Di titik paling terdesak justru cara bermain yang meledak-ledak khas timnas, gocekan Saddil, tusukan Egy, dan tuah kepala Andy Setyo tidak pula kunjung tiba. Kegilaan saat membantai Brunei Darusallam, Laos, atau paling tidak level bermain seperti melawan Myanmar dan Vietnam pada pertemuan pertama tidak muncul.

Masuknya Rafli dan tidak banyak memberikan perubahan berarti. Sudah gelap, terang tak kunjung datang.

Sambil mengenyitkan dahi lalu mengembuskan napas kesabaran berkali-kali, diam-diam saya masih menyimpan harapan. Bukan lagi untuk mengulang juara seperti memori 29 tahun yang lewat, saya ikhlas dan maklum timnas kalah. Tapi, harapan itu adalah paling tidak timnas kalah dengan hormat.

Pengalaman adalah guru terbaik. Bertambah baik jika pengalaman itu adalah rasa sakit dan gagal. Dan timnas punya stok jenis pengalaman demikian. Akhirnya saya sadar, saya terlalu naif, menaruh harapan begitu tinggi pada timnas.

Kita tahu, tiap kali timnas berada di situasi puncak pertandingan, pada jenjang umur dan kompetisi apa pun, kita sering kali dibuat patah hati. Tercatat 7 kali melenggang ke final, dan hanya dua di antaranya yang berhasil meraih emas.

Kita melewati dua tahunan Sea Games dengan akhir yang begitu-begitu saja, kalah dan hanya meraih Perak. Ya, bagi saya Juara hanya pantas disematkan untuk yang meraih emas, dan kita semakin mengaamini status sebagai raja runner up.

****.

Pertaruhan demi pertaruhan selalu gagal kita menangkan.

Kemarin malam, 10 Desember 2019, di Rizal Memorial Stadium, kita kalah. Lebih perih lagi, kita kalah sebagai pecundang, tanpa bisa menorehkan satu gol pun. Tapi sudahlah, keyakinan saya akan masa depan sepak bola Indonesia masih bulat dan utuh, sekalipun saya sering kali harus kecewa dengan keyakinan macam itu.

Setidaknya satu hal, banyak juara yang lahir dari proses dan pengalaman yang buruk, bahkan amat buruk. Dan kita sudah menumpuk pengalaman jenis itu, tinggal menunggu waktu dan keberuntungan di lain final. Semoga.

Jika berharap timnas keluar sebagai juara adalah sebuah dosa, maka tiap kali sampai di final saya tak akan pernah ingin insyaf. Selalu dan selalu menunggu hari baik itu datang.