Beberapa waktu lalu, bersama teman-teman sepermainan di sebuah  warung tuak nyambi warung kopisaya terlibat diskusi yang menarik, serius, namun bernada jenaka yang membuat ironi dengarnya: soal Sumpah. Ya, sumpah Sodara-sodara!

Diskusi yang sebenarnya tidak terencana dan mengalir begitu saja layaknya alunan gitar dan rangkaian lagu yang menemani kebersamaan kami saat itu. You know lah ya kan, namanya ngobrol ngalor-ngidul. Serempet sana-serempet sini. Semua bahasan didiskusikan dan dianalisa layaknya pakar segala ilmu. Takdir!

Kami sendiri membahas soal kemirisan pemaknaan dan pemakaian kata sumpah yang rasa-rasanya semakin hari  semakin gampang diucap serta semakin tidak bermakna saja.

Kita tahu, kata sumpah memiliki nilai sakralitas, suci, dan sebahagian besar berhubungan dengan otoritas di atas manusia, Tuhan Yang Maha Esa – tentu, konsep sumpah ini memiliki konsekuensi hukum pada (kepercayaan) kehidupan setelah kematian nanti.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri memberi arti kata Sumpah sebagai berikut:


- Pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya dan sebagainya);

- Pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar;

- Janji atau ikrar yang teguh (akan menunaikan sesuatu).

Sodara lihat, kan? Begitu bernilai sakral dan suci maknanya.

Tapi yang terjadi saat ini, term daripada sumpah sendiri seolah-olah sudah kehilangan magis dan kesakralannya; terlalu mudah diucapkan dan dilepaskan sebagai sebuah kamuflase; pemekiknya mulai dari kalangan masyarakat kota  sampai masyarakat desa, dari kalangan terdidik sampai kalangan tidak terdidik.

Padahal saya ingat dulu, saat masih bocah ingusan, kalau berucap sumpah dilarang oleh Orang tua saya. “Unang gampang sipanganonmi sai mandok sumpah,”* begitu ucap Inang itu sembari kecupan lembut ehh maksudnya jitakan mendarat di kepala gundul saya

Bahkan saya ingat, kedudukan antara konsep janji dan sumpah itu berbeda levelnya menurut tradisi kami; lebih baik berucap janji ketimbang bersumpah. Entah, apa tradisi di daerah lain menganut prinsip demikian.

Lah, yang terjadi sekarang? Orang gampang dan sembarang mengucapkannya. Bahkan dari persoalan-persoalan sepele turut dibumbui ucapan sumpah bawa nama Tuhan.

Dikit..dikit..ngomong, ”Sumpah! demi Tuhan.”. Dikit..dikit..ngomong, ”Sumpah! Demi Tuhan.”

Ehh kok rasa-rasanya gak asing ya omongan itu? Kayak pernah viral gitu. Oh..maaf..maaf..Om Arya Wiguna. Pinjam kata-katanya dulu. Saya jangan dimarahi dan dikeplak ya. Apalagi di depan media. Hi hi hi.

Kembali ke topik.

Yang lebih ngehek lagi, tradisi sembarang ini juga tak luput dipakai oleh (segelintir) oknum pejabat kita yang melakukan kejahatan, semisal ehem, korupsi, tak lepas dari pola-pola pengelakan demikian guna mengelabui dan penggiringan opini bahwa mereka bukan pelaku. Dengan gesture menyakinkan ala playing victim, di depan awak media mereka memekikkan sumpah bahwa dia tidak melakukan dan – lebih menohok lagi – merasa dizalimi, ehh tahunya tak berselang lama malah dijatuhi vonis hukuman dan dijebloskan dalam penjara. 

Syukur dan Alhamdulilahnya, para penegak hukum kita bukanlah orang yang mudah terperdaya dengan strategi murahan itu.

Iya, meski apresiasi patut kita berikan kepada profesionalitas penegak hukum yang senantiasa tidak terperdaya dengan strategi sumpah ini, namun “prestasi” ini bukanlah menyelesaikan persoalan mendasar tradisi sembarang bersumpah di masyarakat kita. Ini yang menjadi akar masalah bagi kita serta kiranya perlu ditutup keran tradisi ini. Tradisi yang mereduksi keagungan dari otoritas di atas manusia, Tuhan Yang Maha Esa!

Berangkat dari kenyataan ironi ini, rasanya perlu dibuat semacam solusi alternatif terkait pembaharuan konsep sumpah untuk mengurangi kelatahan kita sembarang berucap sumpah ini. 

Hal yang turut menjadi pokok rumusan masalah yang kudu dipecahkan dalam diskusi ngalor-ngidul kami. Hingga akhirnya kami dapatkan solusinya dan saya kira ini solusi ini perlu dipertimbangkan. Ya, sebagai solusi alternatif saja. Uhuk!

Adapun hasil dari diskusi tersebut menawarkan pemikiran ke depan hendaknya perlu dipertimbangkan konsep sumpah yang lebih membumi tanpa melibatkan otoritas di atas manusia, Tuhan Yang Maha Esa.

Loh, maksudnya apa nih? Menista kamu ya? Hah!

Baca Juga: Setelah Sumpah

Sabar..sabar, Sodara-sodara ku. Bukan apa-apa. Selain kita memang dilarang sembarang menyebut nama Tuhan, tawaran ini juga turut lah menghindari reduksi terhadap keagungan Tuhan. Ya, dengan begini kita tidak melibatkan keagungan nama Tuhan dalam aktivitas sembarang sumpah kita yang memuakkan itu.

Lalu, bentuknya sumpah yang membumi itu gimana? 

Begini, Sodara-sodara. Kami sendiri menemukan solusi alternatif soal konsep sumpah yang membumi yang relevan ditawarkan: bersumpah atas nama Kemistisan, semisal roh keramat atau arwah nenek moyang.

Loh, maksudnya gimana itu? Mengapa tawaran konsep bersumpahnya seperti itu? 

Pertimbangannya begini. Salah satu ciri khas sebahagian besar masyarakat nusantara ialah masih mempercayai berbagai mitos dan legenda yang berhubungan dengan mistis, meski kita sudah hidup di era digital. Kenyataan ini memang menjadi keunikan tersendiri; masyarakat kita dapat memadukan dan selaras hidup dengan 2 hal kontradiksi ini: mitos dan teknologi.

Hal ini semakin dikuatkan dengan maraknya dan populernya produksi film-film bertema horror nusantara yang semakin menghinggapi dan memproduksi kepercayaan masyarakat kita akan hal-hal mistis. Singkatnya, kepercayaan terhadap hal mistis ini sudah mengakar. 

Orang akan lebih mudah mengamini suatu hal yang dikemas dengan mitos. Salah satu contoh baik, masyarakat kita akan jauh lebih mudah menaati himbauan atau larangan membuang sampah di sungai karena sungai tersebut keramat, ketimbang himbauan atau larangan membuang sampah di sungai karena dapat menyebabkan banjir.

Nah, berdasarkan kenyataan dogmatis ini, dengan memanfaatkan ketakutan masyarakat terhadap hal-hal mistis, bukankah lebih elok jika ada konsep sumpah yang mengatasnamakan dan dikemas dalam balutan kemistisan? 

Iya, guna mengubah tradisi sembarang berucap sumpah ini. Terlebih diterapkan dalam hal pembuktian atau pengungkapan suatu fakta.

Dengan memakai media sajen berupa rokok gudang garam merah, dupa, daun sirih, jeruk purut, dan lain-lain di hadapannya, orang-orang yang sembarang berucap sumpah akan keringat dingin dan berpikir seribu kali untuk bersumpah.

Dengan demikian saya kira ini akan jitu memangkas kebiasaan para pengucap sembarang sumpah. Ini akan menjadi solusi untuk memutus mata rantai tradisi yang mereduksi sumpah itu. Serta yang terpenting, cara ini dapat dengan mudah diaplikasikan oleh semua orang, iya bisa dimulai dari Sodara-sodara pembaca sekalian.

Baca Juga: Melupakan Sumpah

Silahkan coba dan buktikan sendiri!

Iya, mengujinya bisa diawali dari pasangan Sodara-sodari yang suka bersumpah setia sehidup-semati. Kalau dia berpikir seribu kali dan keringat dingin, tinggalkan saja. Kan, masih ada aku yang setia menunggu mu. Uhuk!

Nb:

*: "Jangan Mudah Mulut Kau Berucap Sumpah."