Rasanya aku mulai bosan untuk berbicara tentang toleransi disaat praktek intoleransi justru semakin marak di negeri ini. aku tidak perlu menyebutkan satu persatu mengenai perilaku masyarakat kita yang melukai kebhinekaan. Hal yang Nampak di media sosial hanyalah sedikit dari banyak yang tak tersentuh oleh khalayak ramai.

Kita begitu mengagungkan demokrasi dan pancasila; namun apa yang menjadi kenyataan di tingkat akar rumput begitu berbeda dengan apa yang didengungkan oleh elit di tingkat kekuasaan. Apa yang salah dengan negeri ini? kenapa bahasa pemimpin tidak sama dengan bahasa rakyatnya?

Kita harus jujur kalau sejarah negeri ini memiliki beragam potret tentang diskriminasi, intoleransi dan prasangka ras serta agama. Lihat saja perdebatan mengenai dasar Negara menjelang dan setelah kemerdekaan—sebenarnya adalah tanda bahwa ada yang belum selesai dengan beberapa pendiri bangsa yang masih terasa sampai sekarang.

Apa yang belum selesai itu? Kita tidak bisa mengglorifikasi sejarah hanya pada apa yang indah dan manis saja. Kita harus jujur bahwa kita mewarisi apa yang belum selesai dari pendiri bangsa yakni tidak siap dengan keberagaman. Kita hanya mampu disatukan ketika melawan musuh yang sama yakni imperialisme dan kolonialisme barat serta fasisme Jepang.

Setelah itu? Ya kita merdeka—tapi mulailah masa saling cemburu dan ambisi kekuasaan menghinggapi para pendiri bangsa yang merasa punya andil dalam perjuangan kemerdekaan. Kita semua sadar betul kalau Indonesia memang sulit diseragamkan!

Apakah kesulitan itu menjadi masalah atau justru berkat bagi bangsa ini? kita harus menjawab kalau masalah dan berkat sama-sama mengiringi kesulitan tersebut. “berkatnya” adalah bangsa kita mampu mempertahankan kemerdekaan sampai sekarang. “masalahnya” adalah masih saja ada prasangka antar suku, ras, dan agama yang berujung pada praktek intoleransi.

Bung Karno pernah berkata “perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah namun perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Memang sejarah membuktikan kalau peristiwa kelam perang saudara jauh lebih menyakitkan daripada perang-perang yang sudah dilalui bangsa ini di masa perjuangan kemerdekaan.

Sebut saja peristiwa Madiun 1948, G 30 S 1965, pembantaian massal 1965-1966, kerusuhan Ambon, Poso, Sampit, Situbondo, konflik Aceh dan Papua serta kerusuhan Mei 1998—oh begitu mudanya aku mengingat kisah sedih ini.

Ingatan, ya, mudahnya kita mengingat masa lampau mungkin adalah isyarat bahwa kita masih marah; kita masih dendam; kita masih sulit untuk mengampuni dengan dalih melawan lupa! Oh sangat disayangkan kita telah salah dalam melihat dan mempelajari sejarah.

Selama ini kita terjebak dengan masa lalu—bukan belajar darinya. Kita membuka lembaran sejarah hanya untuk memupuk kebencian—bukan untuk berdamai dengan masa lalu itu sendiri. mungkin bangsa ini memang lebih senang dengan kegelapan daripada terang. Kita telah gagal move on!

Oh Indonesia, maaf jika kali ini aku begitu pesimis dengan masa depanmu. Aku marah dan begitu emosional melihat kondisimu akhir-akhir ini. aku menyerah dan takut dengan masa depan yang membentang. Apakah “kita” akan berubah menjadi “kami”, “mereka” atau “aku”? apakah sejarah berulang memang benar-benar ada?

Oh tidak! Mudah-mudahan ini hanya mimpi—ya hanya mimpi. Karena aku masih melihat ibu-ibu berjilbab menyapu dan membersihkan gereja yang baru diserang oleh orang yang tidak berperikemanusiaan. Aku masih melihat orang bebas menjalankan shalat di masjid yang berdiri di tengah perkampungan Kristen. Aku masih melihat situs hindu-budha masih berdiri kokoh di tanah yang mayoritas penduduknya muslim. Aku masih melihat kepulan dupa yang mengangkasa keluar dari klenteng.

Apakah ini isyarat bahwa bangsa ini masih memiliki harapan? Apakah pancasila masih relevan dengan kondisi bangsa sekarang? Oh Tuhan hanya Engkau yang maha tahu dan Engkaulah Tuhan atas sejarah manusia. Aku serahkan bangsa ini ke dalam tanganMu.

Apabila kami bangsa yang penuh dosa maka ampunilah kami yang melupakan belas kasihMu. Ampunilah kami yang hanya mementingkan kelompok kami. Berilah kami damaiMu. Singkirkanlah akar kejahatan dalam hati kami. Izinkanlah sekali lagi kami hidup dalam kebhinekaan.

Siapa pun kita dan agama kita—berlututlah dan sembah Dia menurut cara dan keyakinan kita masing-masing . bertobatlah; mohon pengampunanNya kemudian ampunilah mereka yang menyakiti kita. namun jauh di atas segalanya ampunilah diri kita sendiri dari segala nafsu jahat dan prasangka. Ampunilah diri kita sendiri yang belum menjadi manusia seutuhnya.

Meminjam tulisan Jean Couteau bahwa bangsa ini belum menjadi bangsa yang “sadar” bahkan “belum sembuh” karena masih mempraktekkan kedalaman identitas agama ketimbang spiritualitasnya. Aku kira ini selaras dengan pemikiran bung Karno jauh sebelumnya bahwa dalam beragama kita baru sampai pada tahap mengambil abunya saja bukan apinya.

Cara beragama kita mungkin masih banyak dipengaruhi oleh apa yang disebut Tan Malaka sebagai logika mistik—logika yang berdasarkan kerohanian. Bagiku tidak ada yang salah dengan cara seperti itu karena Tuhan yang transenden memang bisa ditemukan dalam praktek doa, himne, dan mungkin sesajen atau persembahan.

Kalau begitu apa yang salah? Yang salah adalah manipulasi spiritual oleh mereka yang dianggap pemimpin. Mereka yang mulai memosisikan kedudukannya sebagai gantinya Tuhan itu sendiri. mereka telah menjadi semacam primus interpares—sabda Tuhan telah digantikan dengan sabda mereka. Memelintir kitab suci untuk tujuan kedagingan. Ya kita hanya mengambil abunya bukan apinya ajaran agama yang kita anut.

Semoga saja kita segera sadar dan bertobat lalu menghadirkan Tuhan yang transenden itu menjadi Tuhan yang imanen—Nampak dalam setiap perbuatan kemanusian.