Kau mengenakan baju biru. Seperti biasanya; tetap tampan. Seperti pemikiranmu, tekadmu untuk agenda revolusi hingga jarang main ponsel kukira, dan lebih banyak berkutat pada buku-buku. Membacanya. Memahaminya. Kau di sana juga seperti Dae yang kukenal berwajah teduh dan sukar tersenyum. Tahi lalat dekat matamu mengingatkanku pada cinta pertama yang lima belas tahun masih sering kuceritakan hingga saat ini. 

Pada kawan-kawan, jua pada; kertas, laptop sebagai kisah dalam tulisan. Aku enggan untuk menyukainya lagi, sebab lima belas tahun ini kami tak pernah berjumpa. Pun cara berpikirku dengannya sudah sangat berbeda. Ia anak saintek yang amat lurus, sedang aku mungkin langkahnya berkelok. Tengah-tengah belok kiri. Aku tumbuh menjadi anak jurusan sosial. Itu juga yang membuatku tak terlalu berharap bertemu dengannya lagi.

Bagiku itu hanya kisah anak-anak. Romansa bocah yang mengagumi kawan lombanya hingga dapat kembali berada di lingkungan yang sama yaitu kampus. Tidak terlalu berarti sebab ia hanya satu kemungkinan yang akan kutemui dari beribu orang yang ada di kampus. Jua yang paling penting aku mungkin tidak bisa membangun obrolan yang menarik dengannya. 

Aku pernah memintanya membantu perjuangan rakyat, namun tiada respon darinya. Itu sangat menyebalkan dan mengecewakan. Kami hanya seberkas cerita masa kecil yang lucu dan menggemaskan. Senang mendapatkan trofi pada perlombaan yang sama. Selebihnya masa dewasa yang indah hanyalah khayalan.

Oiya, bukan bermaksud bersikap defensif, namun hanya ingin berkisah bahwa tak menyangka kita dapat bertemu, Dae. Kisah yang sama soal tahi lalat dekat mata terulang kembali. Itulah yang paling kutandai ketika pertemuan-pertemuanku dengan cinta pertamaku dulu yang sangat jarang terjadi. Laki-laki berkulit putih dengan tahi lalat dekat mata! 

Betapa girangnya kala itu jika aku menjadi delegasi berbagai lomba. Aku pasti bertemu dengannya. Kami sama-sama multitalenta pada zamannya. Namun sekadar amatir. Kisah kanak-kanakku cukup dewasa bukan. Namun kali ini kisah masa dewasaku begitu kanak-kanak. Aku menceritakan laki-laki bertahi lalat dekat mata yang kutemui lagi dalam mimpi. Dirimu; Dae.

^^

Rupanya samar-samar. Namun aku duduk di dekat dirimu. Kita berbincang banyak hal. Mungkin bersama beberapa kawan. Mimpi itu terasa nyata, aku begitu dekat denganmu. Awalnya kau tak merasa nyaman dalam perbincangan. Tapi itu hanya perasaanku saja, hingga akhirnya suasana menjadi cair. Kau ingat perjumpaan pertama?

Ketika kita duduk bersebelahan. Menghadiri acara penting dengan tekad dan nekad. Ya, aku perempuan satu-satunya. Lainnya laki-laki pergerakan. Sesungguhnya tak masalah, aku biasa dengan komposisi demikian. Meski aku juga merasa kurang nyaman. Lebih pada perhelatan itu untuk pertama aku ikuti. Pun baru mengenal orang-orangnya saat itu juga. Termasuk dirimu.

Waktu itu aku mengeluarkan binder yang bergambar super hero. Aku lupa mengapa kita dapat duduk bersebelahan. Aku atau kau yang duluan. Namun yang paling diingat ialah bincang kita.

“Mbak, kuliah di mana?”

“Kalau ditanya kampus rasanya seperti terintimidasi, Mas, sekarang kampus banyak kerja sama dengan korporasi.”

“Oh gitu, ya?”

“Kampusmu mana, Mbak?”

“Bulaksumur, Mas?”

“Ooo.”

Waktu itu kukira kau bukan bagian dari orang-orang yang berangkat bersamaku. Entah mengapa aku lancar saja berkisah soal kebobrokan kampusku. Apalagi perhelatan acara ini membahas soal agraria. Tidak lain cerita soal korporasi jahat menjadi topik yang renyah. Meski ada percakapan yang lebih garing.

“Mbak, sudah dapat teman, aku carikan teman!”

“Ha, sudah-sudah kok, Mas.”

Mungkin wajahku seperti perempuan yang butuh belas kasih dan tak bisa bergaul. Tidak salah, namun sebelumnya aku sudah mendapat teman perempuan untuk menjadi kawan bicara selama tiga hari acara.

“Oh, ya sudah.”

Dirimu yang mulai beranjak dari tempat duduk menampakan wajah lucu. Namun kau harus duduk kembali. Aku segera pergi menemui teman perempuan asal Cirebon yang baru kukenal jua.

^^

Awalnya aku muram sebab mungkin kau merasa tak nyaman. Namun pada akhirnya seperti dirimu yang kutahu di dunia nyata sangat menghargai dan peduli pada orang lain. Dalam mimpi itu kita begitu dekat. Hingga aku berusaha mendapatkan sesuatu yang entah sayup-sayup, tak begitu jelas namun kau sangat menginginkannya. Aku pergi sejenak meninggalkan percakapan. Kau duduk takdzim di sana hingga sedikit demi sedikit teman yang lain pergi, tersisa kau dan seorang perempuan.

^^

Ternyata kau menginginkan buah. Awalnya beberapa orang seperti ingin menemaniku untuk memetik buah itu. Buah kersen. Bulat kecil dan amat manis ketika telah merah matang. Beberapa kawan memetiknya bersamaku, namun meninggalkan tempat itu dan menyisakanku sendiri. Aku tetap berusaha memetiknya. Meski yang kupertaruhkan adalah kaki. 

Di bawah pohon itu berjajar banyak semut. Semut merah beserta induk-induknya. Para raja semut. Ketika aku meloncat mencoba memetik buah yang masih dapat kujangkau. Sesekali aku dapat menghindar, meski lebih banyak semut itu merambat pada kakiku. Berkerumun dan menusuk. Mimpi itu terasa nyata. Nyeri di kaki.

^^

Seperti metafora pada kepedulianmu ketika perjalanan pulang. Mampir di kedai kopi. Waktu itu sore menuju maghrib. Aku bermaksud makan lagi dengan nasi goreng. Pada akhirnya aku memesannya dan tak habis. Aku duduk di sebelahmu. Sengaja. Entah pada saat itu membuatku lebih nyaman saja. Tiba-tiba kau bersua.

“Eh, itu minumnya, Mbaknya belum minum.”

“Aih, santai aja, Mas, aku biasa gak minum kok.”

Entah tanggapan bodoh atau bagaimana tapi itu bagian dari realitas hidupku. Pernah mendaki gunung yang tak terlalu tinggi dan hanya minum seteguk air. Kadang aku merasa tak nyaman hanya karena aku perempuan sendiri di sana. Namun aku ingin berterima kasih. Melalui mimpiku, aku ingin membalas kebaikanmu.

“Mas, aku tak bisa minum langsung.”

Sebab pada saat itu tanpa gelas, banyak kawan yang langsung minum dari kendi.

“Mas, mas pinjam gelas!

Kau berteriak dan seorang pelayan kedai mengambilkan gelas. Aku tersipu. Aku masih saja cerewet merasa tak enak.

“Terima kasih, Mas.”

Suamu dengan santai pada pelayan. Aku pun berujar hal yang sama dengan perasaan tak nyaman.

^^

Entahlah siapa perempuan yang berbincang denganmu begitu lama. Aku datang membawa buah kersen yang kau minta. Aku terkejut, namun aku senang kau menerimanya. Meski sebagian jatuh, kau tetap mengambil dan lalu memakannya. Aku menahan gatal dengan begitu. Tapi tak terasa. Mungkin hanya itu balasan atas kebaikanmu yang dapat kulaksanakan. Meski dalam mimpi. 

^^

Terakhir ketika kita hendak pulang. Aku lupa meletakan buku gratis yang diberi oleh pemilik kedai kopi yang juga seorang sastrawan. Aku mengambil bukumu sebab ada yang bertanya apakah aku telah dapat bukunya. Aku berpindah tempat dan lupa untuk menjaganya. Kelak jika semua ini tak sekadar ambang antara mimpi dan realita. Aku berjanji untuk mengembalikannya. 

Sampai jumpa. Jangan lupakan namaku; Keeva. Meski kita tak pernah satu sama lain menyebut dan menyapa dengan sebutan nama kita. Alih-alih juga berkenalan. Kita hanya mendengar dari para kawan bukan. Tapi itu tak pernah membuatku untuk tak menyimpan baik bukumu.