Menatap Senja

Kupandangi sekeliling ku
Perlahan suasana cerah memudar menggelap
Deruh ricuh mulai perlahan terdengar sunyi
Memberi ketenangan disudut jalan
Anak kecil berlomba menghisi jalan
Kulihat dengan gamis panjang sarung dan juga peci
Berombongan bercada ria tertawa diperjalnan
Menuju masjid yang sudah tiba saatnya dikunjungi

Kutatap kembali langit biru mulai perlahan pudar cahaya mataharinya
Kini gelap pun tiba berganti malam
Siang telah terlewati dengan berbagai cerita
Mungkin lelahnya akan sesaat lagi terasa

Sejanak aku dengarkan suara adzan
Pertanda senja telah berlalu menyambut malam
Dengan tak berpikir panjang
Kulangkahkan kaki ku menuju tempat peribadatan
Sejenanak menenangkan kericuhan didalam pikiran.


Saat Aku Sakit Kau Dimana

Dimana kau saat itu kawan?
Saat aku terbaring lemah tak kuasa
Saat aku tak bisa berkutik diketerpurukan ku
Di saat aku gundah merasakan kesakitan

Mana engakau yang katanya sahabatku
Apakah kata persahabatan itu kau angkat diatas saat kau butuh?
Apakah kata persahabatan itu kau ukir disaat kegembiraan ku?
Apakah kata persahabatan itu kau hanya jadikan pelampiasan keegoan mu?
Apa aku dimata mu?

Bosan kini kudengar kata rayuan manis mu diatas kata persahabatan
Saat aku sehat kau datang
Saat aku bahagia kau terbilang peka
Saat aku punya kau tak pernah lupa aku ada

Tapi kini saat aku sakit tak berdaya
Kau hilang bagaikan ditelan bumi entah kemana


Manusiawi Kah Kau rasa

Coba kau tengok dirimu kawan
Seperti apa kau rasa dirimu sekarang
Kau ceramahi aku seperti guruku
Kau begitu pandai menasehati jalan hidupku
Kau begitu hebat dengan bahasa topengmu

Aku bangga punya kawan yang perhatian
Tetapi satu hal yang kubenci dari sandiwara ini
Kau nampak diriku tapi kau tak nampak dengan keadaanmu
Seakan kau benar dengan semua kata-kata bijakmu padaku

Kawan cobalah tengok dirimu
Tak munafikkah kau rasa pada keadaanmu
Becerminkah kau sebelum nasehatiku
Coba kau fikir dengan perihal cerita kata tinggimu
Manusiawikah kau rasa?


Apa Kau Bangga?

Masih ku dengar
Masih ada kata Aku dengan ceritamu
Masih kau lupa dengan siapa dirimu
Tanpa kau sadar siapa dirimu

Nampak ku dengar
Kau cerita yang kau paparkan padaku
Dirimu tiada duanya
Dirimulah yang sempurna

Kau tutupi telinga
Saat kau temukan orang yang kau segani
Yang katanya kau sajalah yang punya semua cerita
Tanpa kau sadar diatas langit masih ada langit
Tanpa kau sadar dunia bukan hanya ceritamu

Coba kau buka matamu
Siapa sesungguhnya dirimu?
Darimana asalmu?
Jangan kau juga tutupi telingamu
Karna kau harus tahu
Apa yang kau pantas banggakan kawan.