“Mana kertas! Mana Kertas!”

Dunia mendadak gempar. Kertas diberitakan menjadi barang langka. Kertas yang selama ini sudah menjadi kebutuhan pokok tiba-tiba dinyatakan menghilang dari peredaran.

Guru, siswa, karyawan kantor, pegawai Bank dan para pengusaha hari itu kebingungan dan panik. Mereka butuh media untuk menyimpan hal-hal penting. Dan media itu tak lain dan tak bukan adalah kertas. Sebab bagaimanapun otak manusia memiliki kemampuan terbatas. Tidak mungkin bisa menampung sedemikian banyak memori yang diserap sepanjang waktu.

Semoga hal tersebut di atas---ilustrasi mengenai kelangkaan kertas, tidak benar-benar terjadi. Semoga hanya sebuah wacana yang masih bisa diambil tindakan pencegahan.   

Mari menengok sejenak sejarah perjuangan panjang benda tipis nan ringan yang disebut paper atau kertas itu. Benda yang pada akhirnya memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat tersebab mewakili memori otak manusia dalam hal menyimpan data dan ingatan.

Sejak berabad silam, proses menemukan kertas melewati perjalanan yang tidak mudah. Ada proses revolusi yang mengiringi.

Dimulai dari zaman prasejarah. Orang-orang purba memahat bebatuan untuk menandai sesuatu, sebelum ditemukan sebuah ilmu bernama tulisan. Mereka memahat dinding-dinding gua untuk menceritakan kisah-kisah penting atau momen bersejarah.

Sekitar abad ke-3 SM pada masa pemerintahan Firaun, Mesir kuno yang dikenal memiliki peradaban cukup tinggi, memperkenalkan media tulis bernama  Papyrus. Papyrus adalah sejenis tanaman air yang memiliki tangkai setinggi 10 hingga 15 kaki. Tanaman ini digunakan untuk bahan pembuatan kertas, yang banyak ditemukan di sepanjang Sungai Nil.

Namun demikian penggunaan  Papyrus  ini memiliki banyak kekurangan karena tidak bisa bertahan lama. Tulisan atau gambar yang telah ditulis di media  Papyrus  harus sering diganti atau disalin agar keberadaannya tidak musnah.

Kedudukan Papyrus akhirnya diambil alih oleh tehnik menulis menggunakan kulit hewan yang diperkenalkan oleh mayarakat Romawi. Tehnik inipun dinilai banyak memiliki kekurangan.

Selanjutnya masyarakat China. Mereka menorehkan abjad-abjad atau gambar di atas lembaran kain sutra demi mengabadikan karya-karya yang dianggap penting dan mengandung unsur bersejarah. Tehnik penulisan pada sutra ini dikenal dengan seni menulis  bo. Namun demikian tidak semua orang bisa memakai media ini karena selain bahan yang diperlukan teramat mahal, ketersediaannya pun cukup langka.

Upaya penemuan media tulis berlangsung juga di beberapa belahan dunia termasuk Asia. Di mana masyarakatnya kala itu mengabadikan karya tulis atau gambar-gambar mereka di atas selembar daun lontar.

Upaya menemukan media tulis yang lebih baik, efisien, bersifat ringan dan tidak mudah rusak kiranya terus berkembang. Sekitar tahun 101 Masehi, seorang warga China bernama Tsai Lun, yang hidup di zaman Dinasti Han, dalam sejarah disebut sebagai penemu cikal bakal media  paper. Tsai Lun memanfaatkan kulit murbei sebagai bahan dasar pembuatan kertas. Penemuan yang sangat menghebohkan ini kemudian menyebar ke seluruh pelosok dunia hingga ke negeri Arab. Dan mencapai masa kejayaan pada pemerintahan Harun Al Rasyid. Pada puncak kejayaan itu orang Arab sempat mengekspor produksi kertas mereka sampai ke negara Eropa.

Iktikad baik menemukan media kertas sepanjang zaman tidak lain adalah sebagai perwujudan bentuk kesadaran masyarakat akan pentingnya mengabadikan sebuah momen bersejarah berupa karya tulis atau gambar. Dengan harapan karya-karya tersebut bisa dinikmati oleh anak cucu di masa mendatang. Dijadikan sebagai bahan perenungan, penelitian dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Menengok jejak perjalanan panjang perjuangan penemuan kertas bisa diambil kesimpulan bahwasanya kedudukan kertas dalam kehidupan masyarakat sehari-hari sama pentingnya dengan kebutuhan pokok (primer) yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan. Terutama bagi dunia pendidikan.

Revolusi kertas terus berlanjut. Berbagai terobosan dan inovasi dilakukan untuk menciptakan kertas berkualitas tinggi. Salah satu upaya yang dilakukan dan sangat penting untuk menunjang keberlangsungan produktifitas kertas adalah pembudidayaan hutan. Mengingat hutan merupakan induk utama pembuatan pulp atau bahan pembuatan kertas.

Di Indonesia sendiri belakangan keberadaan kertas kembali berjuang melewati serangkaian persaingan ketat seiring era globalisasi. Persaingan terberat adalah melawan dunia digital yang tidak bisa dibendung. Sebagai contoh, perhatian masyarakat zaman  now lebih cenderung melirik berita online yang dinilai lebih praktis dan ekonomis dibanding harus membaca berita melalui surat kabar yang ditulis pada lembaran kertas. Tentu saja hal ini sedikit banyak mengurangi kegiatan produktifitas pabrik-pabrik kertas.

Contoh lain yang ikut menghambat laju perkembangan kertas di Indonesia adalah, sering terjadi bencana kebakaran hutan, penebangan liar atau perusakan hutan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Selain hambatan tersebut di atas. adanya kebijakan pencabutan izin Hutan Tanaman Industri (HTI) yang baru-baru ini dikeluarkan oleh pemerintah, juga ikut berpengaruh pada kemunduran produksi kertas. Kebijakan tersebut disinyalir mengakibatkan pasokan bahan baku pembuatan kertas mengalami penurunan hingga 40 %.

Lantas apakah keberadaan kertas akan terpuruk dan benar-benar akan menjadi barang langka?

Semoga saja tidak.

Semoga masih bisa dicari jalan keluar agar keberadaan kertas tidak berpengaruh pada kehidupan masyarakat terutama di bidang pendidikan dan kebudayaan.

Tidak bisa dibayangkan andai kertas benar-benar menjadi barang langka. Buku-buku akan menjadi sangat mahal. Bisa jadi tidak terjangkau oleh masyarakat kelas tengah ke bawah. Padahal gerakan gemar membaca dan menulis santer digaungkan di mana-mana. Jikalau kertas benar-benar langka dan harganya melangit, bagaimana mungkin upaya gerakan gemar membaca dan menulis akan bisa terealisasikan dengan baik?

Meski dunia digital menjadi pesaing berat bagi keberadaan kertas, bukan berarti kertas sudah tidak dibutuhkan lagi. Kertas masih memiliki kedudukan teramat penting dalam kehidupan masyarakat kita sampai kapan pun. Tidak ada yang mampu menggantikannya.

Adalah hal yang sangat disayangkan andai perjalanan panjang kertas harus berhenti atau mati suri karena berbagai kendala yang menghadang. Jangan sampai anak cucu kita kelak sama sekali tidak mengenal apa itu kertas atau tidak mampu membeli selembar kertas.

Lalu upaya apa yang bisa dilakukan?

Selamatkan hutan dan buatlah kebijakan yang tidak merugikan.

Menyelamatkan kertas berarti menyelamatkan anak bangsa dari kebodohan. Menyelamatkan ilmu pengetahuan dari kepunahan. Karena sebagian besar ilmu pengetahuan di dunia ini diabadikan di dalam lembaran kertas. Rumus-rumus kedokteran, rumus-rumus ilmiah tentang tehnologi, rumus-rumus Matematika, sejarah kebudayaan, sastra  dan lain-lain tidak terlepas dari media bernama kertas.

Mengutip kalimat bijak Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang  di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Nah, quote  tersebut hendaknya dijadikan pemicu generasi mendatang untuk giat menulis. Memang apa yang ditulis? Apa saja. Boleh menulis cerpen, novel, puisi, atau buku-buku non fiksi. Dan semua itu membutuhkan media bukan? Yup! Kertas adalah media paling utama dan dibutuhkan.

Jadi kesimpulannya adalah, Save paper, save our forests!