Sekitar dua minggu lalu (16/8), kami tim creators for pluralisme The Wahid Foundation berkunjung ke dua tempat umat Katolik sekaligus; Seminari Skolastik Xaverian dan Gereja Katedral Jakarta. Seorang Romo, Vitus Rubianto SX dan para frater (calon Romo) menyambut kami dengan ramah dan hangat, bahkan menyiapkan jamuan khusus dan makan siang. Kunjungan ini sungguh menembus sekat-sekat pembatas relasi di antara perbedaan agama dan keyakinan.

Dalam kesempatan itu, terjalin sikap toleransi, saling menghormati dan menghargai perbedaan keyakinan masing-masing. Semua membawa spirit keimanan teologis, yaitu keimanan yang bertumpu pada semangat persaudaraan kemanusiaan, apa pun bentuk agama dan keyakinan kami.

Dengan kesadaran seperti ini, perbedaan yang ada tidak menjadi masalah, tapi sebaliknya merupakan rahmat. Inilah ajaran universal yang ditawarkan oleh Islam. Ajaran untuk berpegang teguh kepada persaudaraan antar sesama manusia (ukhuwah insaniyah).

Seandainya setiap kita mau berpegang teguh pada prinsip ukhuwah insaniyah, niscaya dunia akan indah. Andai saja setiap orang mau bersikap toleran, saling menghargai, tolong menolong, meringankan beban penderitaan, dan saling mengisi kekurangan masing-masing, maka konflik horizontal tidak akan terjadi. Hanya dengan semangat kebersamaanlah kehidupan yang penuh warna ini dapat menjadi rukun.

Bagi kami, persaudaraan antarmanusia harus menjadi semangat utama dalam beragama, terutama agama Islam. Sehingga umat beragama semakin mantap dalam berinteraksi dengan semua golongan, tidak pandang bulu dari lapisan masyarakat mana pun, atau dengan penganut agama apa pun.

Pertemuan, percakapan dan pertukaran pikiran di antara umat agama yang berbeda sangatlah penting dalam rangka menghilangkan kecurigaan timbal balik dan sekaligus menumbuhkan sikap saling menghormati di antara mereka yang menganut agama berbeda.

Dulu, saya kerap menyimpan kecurigaan, takut, bahkan su’udzon terhadap umat agama lain. Kekhawatiran itu dilandasi dengan sikap curiga akan terjadinya kristenisasi, hinduisasi, dan sebagainya. Setelah mengenal mereka, sikap curiga itu salah total. Umat agama lain tidak seperti apa yang saya citrakan.

Mereka juga umat manusia, yang memiliki hak untuk memilih keyakinannya masing-masing. Islam pun tidak pernah memaksa umat agama lain untuk memeluk Islam (La ikraha fi al-din).

Pengalaman saya berkawan dengan seorang pastur Katolik, Romo Greg Soetomo yang baru menyelesaikan studi di UIN Jakarta, penuh dengan semangat kebersamaan dan saling menghormati. Secara rutin, setiap tahun, kami saling berkirim ucapan hari besar agama masing-masing.

Begitu juga kami kerap bertemu dengan teman-teman yang berbeda keyakinan dan agama, berpapasan di sana sini, di lingkungan kampus maupun di luar kampus. Bagi kami, perbedaan bukan alasan untuk tidak berbuat baik, adil dan peduli terhadap sesama.

Pembelajaran lebih mendalam tentu berlangsung ketika bergabung dengan tim creators for pluralisme The Wahid Foundation. Di lembaga inilah kami belajar toleransi, mengenal mereka yang terdiri dari banyak agama yang berbeda, yang Katolik, Kristen, Hindu, dan macam-macam.

Dari situ kami paham, bahwa setiap manusia berhak menempuh jalan kepercayaannya masing-masing. Kerenggangan antar umat beragama terjadi karena tidak ada sikap saling toleransi, terbuka, dan hadir di tengah-tengah mereka.

Karena itulah, di tengah beragamnya kehidupan ini, sikap toleransi, saling menghormati, menghargai, dan menerima semua hal yang berbeda merupakan keniscayaan. Pertukaran keilmuan, sosial-budaya dan pemikiran sangat penting untuk menciptakan saling pengertian dan respek.

Pertemuan semacam ini harus menjadi alternatif untuk menyelesaikan ketegangan dan konflik, baik dalam intra maupun antar-agama. Dengan begitu kita semua bisa ikut membangun dunia yang lebih damai.

Kami mengucapkan banyak terima kasih karena komunitas Sarekat Xaverian sudah menerima kami dengan ramah dan sangat baik. Senang dan bangga bisa mengunjungi lembaga ini. Semoga ini bukan pertemuan dan kunjungan terakhir, karena terjalinnya pertukaran akademis, sosial, dan kultural di antara para pemuda, pelajar dan mahasiswa yang berbeda agama sangatlah penting.

Tentu saja kami berharap Sarekat Xaverian konsisten dengan tugas sucinya mengembalakan umat. God Bless You!