Dalam buku Sejarah Filsafat Kontemporer Prancis (2014), dikatakan bahwa Ferdinand de Saussure telah meletakkan dasar untuk linguistik modern. Saussure sendiri merupakan orang Swiss yang kemudian mengajar di Paris dan setelah itu menjadi Profesor di Jenewa, di mana ia kemudian mendirikan apa yang disebut sebagai Mazhab Jenewa.

Adapun buku yang melambungkan namanya dan menjadi tersohor dalam bidang linguistik, yakni Cours de linguistique generale (1916) (Kursus tentang Linguistik Umum). Buku tersebut diterbitkan secara anumerta oleh dua orang muridnya. 

Dari buku tersebut juga, sebagaimana yang dikatakan oleh Harimurti Kridalaksana dalam buku Mongin Ferdinand de Saussure (1857-1913): Peletak dasar Strukturalisme dan Linguistik Modern (2005), dikatakan bahwa Saussure merupakan peletak dasar strukturalisme dalam linguistik modern.

Menurut Harimurti Kridalaksana (2005), dalam kuliah-kuliah yang diisi oleh Saussure, ada 5 masalah yang dikemukakannya. Adapun masalah tersebut, yakni (1) Perbedaan di antara langue, parole dan langage; (2) Perbedaan di antara penyelidikan diakronis dan sinkronis; (3) Hakekat apa yang disebut sebagai tanda bahasa; (4) Perbedaan di antara hubungan asosiatif dan sintagmatis dalam bahasa; dan (5) Perbedaan di antara valensi, isi dan pengertian.

Akan tetapi, dalam memahami strukturalisme Saussure, sebagaimana yang di ungkapkan oleh K. Bertens (2014), ada tiga pembedaan yang bisa kita lakukan, yakni signifiant dan signife, kemudian langage, parole, dan langue, dan akhirnya sinkroni dan diakroni. 

Tentu ketiga pembedaan yang dilakukan oleh Saussure tersebut tidak menggambarkan keseluruhan dari pemikiran Saussure, akan tetapi ketiga pembedaan tersebutlah yang menggambarkan secara garis besar bagaimana pemikiran strukturalisme Saussure dalam linguistik.

Menurut Saussure, tanda bahasa (seperti misalnya suatu kata) yang dipelajari oleh linguistik, terdiri atas dua unsur: le signifiant dan le signifie: the signifier dan the signified. Dalam bahasa indonesia dapat diterjemahkan: “penanda” dan “yang dtandakan”. 

Signifiant adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna. Jadi, signifiant adalah aspek material dari bahasa: apa yang dikatakan atau apa yang didengar dan apa yang ditulis atau apa yang di baca. Signifie adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi, signifie adalah aspek mental dari bahasa.

Yang harus diperhatikan ialah bahwa tanda bahasa yang konkret kedua unsur tadi tidak bisa dilepaskan. Tanda bahasa selalu mempunyai dua segi ini: signifiant dan signifie. Suatu signifiant tanpa signifie tidak berarti apa-apa karena ini tidak merupakan tanda. 

Sebaliknya, suatu signifie tidak mungkin disampaikan atau ditangkap lepas dari signifiant; yang ditandakan itu termasuk tanda sendiri dan dengan demikian merupakan kesatuan, seperti dua sisi dari sehelai kertas, kata Saussure. Bagamana hubungan antara signifiant dan signife itu? Hubungan itu arbitrer,

Keduanya, mengenai langage, parole dan langue. Kalau fenomena bahasa secara umum ditunjukkan dengan istilah langage, maka dalam langage harus dibedakan antara paralole dan langue. Dengan kata paralole itu dimaksudkan pemakaian individual.

Jika kita mencari terjemahannya dalam bahasa Inggris, dapat diajukkan speech atau language use. Tetapi, paralole tidak dipelajari oleh linguistik; cara bagamana si A atau si B memakai bahasa tidak termasuk objek ilmu itu. Linguistik menyelidiki unsur lain dari langage, yaitu langue. Dalam bahasa Inggris hanya ada kata language untuk menunjukkan baik langage maupun langue, sebagaimana dibedakkan oleh Saussure dalam bahasa Prancis.

Dengan istilah langue dimaksudkan bahasa sejauh merupakan milik bersama dari suatu golongan bahasa tertentu. Akibatnya, langue melebihi semua individu yang berbicara bahasa itu, seperti juga sebuah simfoni tidak sama dengan cara dibawakannya dalam suatu konser oleh orkes tertentu (dengan segala kekurangannya seumpamanya). Jika ahli-ahli linguistik menyelidiki bahasa, mereka membatasi diri atas langue saja.

Ketiganya, menyoal sinkroni dan diakroni. Pembedaan tersebut tidak bisa dilepaskan dengan adanya anggapan bahwa bahasa merupakan sebuah sistem. Sinkroni didefinisikan sebagai bertepatan menurut waktu, sementara diakroni dipahami sebagai menelusuri waktu (perspektif historis).

Bahasa dapat dipelajari menurut dua sudut pandangan itu: sinkroni dan diakroni. Kita dapat menyelidiki suatu bahasa sebagai sistem yang berfungsi pada saat yang tertentu (dan dengan demikian tidak memperhatikan bagaimana bahasa itu telah berkembang sampai keadaan saat itu) dan kita dapat menyoroti perkembangan suatu bahasa sepanjang waktu. 

Saussure menekankan perlunya pendekatan sinkronis tentang bahasa, bertentangan dengan ahli-ahli linguistik abad ke-19 yang hampir semua mempraktikkan semua pendekatan diakronis tentang bahasa; mereka mempelajari bahasa dari sudutr pandang komparatif-historis dengan menelusuri proses proses evolusi bahasa-bahasa tertentu, etimologi, perubahan fonetis dan lain sebagainnya.

Dengan demikian, linguistik tidak hanya mengekesampingkan semua unsur ekstra-lingual, linguistik juga melapaskan juga objek studinya dari dimensi waktu. Dengan itu telah dibuka jalan untuk studi yang kemudian disebut “struktural”. Itu tidak berarti bahwa Saussure menolak penyelidikan diakronis tentang bahasa. Ia berpendapat bahwa penyelidikan sinkronis harus mendahului penyelidikan diakronis.