Stigma masyarakat terhadap politik di negeri ini sudah terlanjur buruk. Hal yang wajar ketika apatis terhadap politik kian meluas. Ini tentu menjadi konsekuensi logis yang ditimbulkannya. Menurut hemat saya, terlalu mahal harga yang harus dikorbankan. Hanya karena ulah segelintir dan kelompok orang, politik yang sejatinya menjadi sarana publik untuk mencapai tujuannya telah disalahartikan sekelompok orang sebagai tangga menuju kekuasaan dan kepentingan diri atau kelompoknya semata.

Jika demikian, bukan suatu hal yang aneh ketika jalan pintas menjadi pilihan. Menghalalkan segala cara menjadi gaya berpolitik. Celakanya lagi, ketika loncat katak pun menjadi inspirasi bagi politikus dalam berpolitik. Sikut kanan-kiri, tendang bawah, baru bisa meloncat. Bagai katak yang ingin meloncat untuk berpindah posisi, harus terlebih dahulu sikut kanan-kiri dengan kaki depan, disusul dengan gerakan menendangkan kaki bawahnya.

Bukan hanya itu saja. Buruknya perpolitikan kita tidak terlepas karena banyaknya oknum yang tersangkut dengan kasus korupsi. Hotel prodeo telah menjadi saksi. Praktik ini tidak mengenal usia tua dan muda, semua yang tidak punya prinsip dan idealisme akan terjerembab kedalamnya. Bahkan bukan itu saja, kolusi dan nepotisme pun menambah suramnya wajah institusi yang berkaitan dengan politik di negeri ini.

Dengan demikian, ungkapan buruk muka cermin dibelah menjadi tepat menggambarkan situasi yang demikian. Oknum yang bersalah, tapi institusi yang dicerca. Itu hal yang wajar, ketika orang-orang mongotori institusi politik itu sendiri, bersembunyi dengan apik di balik institusi politik tersebut. Seharusnya keberanian untuk bersih-bersih adalah jalan yang harus ditempuh. Seharusnya! Tapi apa daya, sapunya terlalu kecil untuk membersihkannya atau sapunya terlalu kotor untuk membersihkan.

Bila kita kaitkan dengan hasil survey SMRC terbaru (2016) yang menempatkan partai politik sebagai lembaga yang paling rendah mendapatkan kepercayaan masyarakat, yakni 52%. Ini sangat memprihatinkan. Pertanyaannya, masihkah ada harapan bagi institusi politik di negeri ini?

Masihkah ada semangat dan daya tarik bagi kaum muda untuk berpolitik? Tentu jawabannya 'ya!'. Kita harus menjadi bangsa yang optimis. Kita harus menjadi bangsa yang kokoh berdiri di atas sebuah batu harapan. Sebab tanpa itu, kita akan lemah dan loyo.

Saya jadi teringat pernyataan Anies Baswedan bahwa "Kita memiliki banyak masalah itu bukan karena semata orang jahat banyak, tapi juga karena orang-orang baik yang ada hanya diam dan mendiamkan kejahatan terjadi." Itulah sebenarnya harapan tersebut.

Ketika kita yakin bahwa negeri di negeri terdapat banyak orang-orang baik, orang cinta bangsa ini. Memiliki patriotisme. Tapi selama ini belum terlihat di permukaan. Seolah-olah mereka tidak ada, tapi sebenarnya ada. Tugas kita bersama, kita harus angkat mereka ke permukaan. Berikan kesempatan.

Bukan itu saja, kita tidak perlu ragu dengan anak-anak muda yang berkualitas dan berprestasi di negeri ini. Sangat banyak pemuda-pemudi kita yang berpotensi. Lihat saja telah bermunculan pemimpin-pemimpin muda, baik di daerah maupun tingkat nasional. Mari berikan kesempatan bagi mereka. Memberi kesempatan sama saja artinya mempersiapkan masa depan bangsa,  menghindari lemahnya regenerasi dan kaderisasi.

Fakta tak terbantahkan, bukankah bangsa kita dan institusi politik selalu kewalahan mencari pemimpin baru yang visioner, amanah dan peduli rakyat? Buktikan saja ketika menjelang pemilu, begitu sulitnya mencari calon pemimpin. Itulah wujud kegagalan regenerasi.

Saatnya membangun kesadaran ini. Melibatkan semua elemen bangsa untuk memiliki gaya berpolitik partisipatif. Terutama generasi muda. Kuburlah dan tinggalkan sikap apatis dalam berpolitik.

Alasannya yang pertama. Bukankah rezim Adolf Hitler bangkit di Jerman karena banyaknya masyarakat yang apatis berpolitik (baca : tidak ikut pemilu)? Hal demikian bisa saja terjadi di negeri ini. Sosok yang tidak layak memimpin, bisa saja terpilih dengan suara yang sangat minim.

Sosok yang layak memimpin malah kalah karena banyaknya orang yang apatis yang tidak ikut memberikan suara. Kedua, bangsa ini masih ada masa depannya. Politik tentu masih diperlukan, baik dalam konteks sebagai suprastruktur politik ataupun infrastruktur politik sebagai institusi atau lembaga yang berperan membuat, menjalankan dan mengawasi kebijakan serta yang berkaitan dengan itu.

Jadi sebenarnya, tidak ada alasan untuk tidak ada politik dalam sebuah bangsa. Bahkan seharusnya kita punya seribu satu alasan untuk melibatkan masyarakat untuk berpolitik terutama melibatkan kaum muda.

Belajarlah dari Sejarah!

Orang bijak adalah orang yang belajar dari sejarah bangsanya. Dalam catatan sejarah, bangsa kita pernah memasuki masa kekelaman. 350 tahun kolonialisme telah membelenggu kita. Monopoli dalam perdagangan, eksploitasi hasil alam, diskriminasi golongan, intervensi pemerintahan, dan penetrasi budaya secara paksa. Praktik tersebut membuat kita sulit bergerak di negeri sendiri.

Perlawanan yang bersifat primordial pun tidak bisa dielakkan. Dengan mengusung perjuang daerah (primordial) ternyata dirasa tidak cukup ampuh untuk mengusir penjajah.

Pemuda terpelajar sadar. Pendidikan yang mereka peroleh mencerahkan pikiran. Hak sebagai bangsa semakin dimengerti. Tersadar pula bahwa perjuangan primordial bukan solusi, tetapi gaya baru harus ditularkan. Nasionalisme itulah jawabannya.

Organisasi modern tentu adalah wadah yang dipilih untuk menularkan rasa kebangsaan tersebut. Bagi sebagian, mengambil jalan radikal dan non koperatif menjadi pilihan organisasnya. Organisasi yang demikianlah sering bergerak dalam bidak politik.

Politik pada waktu itu pilihan yang berat, sebab organisasi yang berpolitik akan segera diberangus rezim kolonialisme. Begitulah nasib Indische Partij. Ketika Suwardi Suryaningrat mengkritik Belanda dengan Als Ik een Nederlander Was, ternyata cukup ampuh membuat penjajah keringat-dingin.

Sehingga Belanda tidak mau organisasi politik tersebut berlama-lama berdiri, dengan segera tokoh-tokohnya pun diasingkan ke Belanda. Demikian juga apa yang dialami Bung Karno, organisasi yang didirikannya yaitu PNI ternyata cukup membuat gerah pemerintah kolonial Belanda. Hingga pada akhirnya Bung Karno ditangkap dan diadili. Saat itu juga Bung Karno sempat melakukan pembelaan melalui pledoi, Indonesia menggugat.

Ternyata gerakan politik cukup efektif membuat Belanda pusing tujuh keliling. Gerakan ini pula mampu mengobarkan semangat juang kaum muda. Jadi, pada waktu itu, dalam situasi perjuangan pemuda dan politik adalah sebuah keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan.

Setidaknya kehadiran organisasi modern yang bergerak dalam bidang politik, ternyata sangat efektif untuk mempercepat cita-cita nasionalisme, persatuan dan kemerdekaan bangsa kita. Akankah kita mengingkarinya? Belajarlah pada sejarah!

Seharusnya demikian juga masa sekarang. Politik belum berakhir, masih diperlukan. Tujuan bangsa kita bukan lagi untuk merebut kemerdekaan itu, tapi mengisinya dan menjadikan masyarakat itu bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Tentu untuk mencapainya butuh peran politik.

Seperti yang sudah disinggung di atas bahwa dalam negeri ini, kita tidak bisa lepas dari suprasruktur politik (legislatif, eksekutif dan yudikatif) dan infrastruktur politik seperti partai politik. Masalahnya siapkah kaum muda harus berani mengambil peran ini?

Belajarlah kepada tokoh-tokoh politik yang berjiwa nasionalis dan mementingkan kepentingan umum, teladanilah orang-orang yang pantas diteladani. Sebab kaum muda pun ternyata mampu membangun solidartas bagi Indonesia, sejarah telah berkata demikian. Dengan idealisme kaum muda, teguh memegang prinsip, kita berharap ditangan mereka negara ini makin maju.

Mari, berpolitiklah! Tapi jangan menghalalkan segala cara. Berpolitiklah tapi jangan pernah lagi belajar berpolitik dari katak. Salam.

#LombaEsaiPolitik