Karen Armstrong di dalam karya monumentalnya History of God menuliskan bahwa konsep ketuhanan yang pertama kali hadir di kehidupan umat manusia adalah monoteisme (tauhid). Mereka mempercayai adanya Tuhan yang esa.

Penelitian Karen Armstrong ini berlawanan dengan penelitian pada umumnya yang menyatakan bahwa konsep ketuhanan yang pertama kali hadir adalah politeisme. Biasanya politeisme disandingkan dengan kondisi keprimitifan untuk menunjukkan bahwa ia adalah konsep yang paling tua.

Dari politeisme kemudian berkembang menjadi henoteisme (satu tuhan untuk satu bangsa), kemudian berkembang lagi menjadi monoteisme sebagai konsep ketuhanan yang paling modern.

Sebaliknya, menurut Karen Armstrong, manusia lebih dulu mengenal Tuhan yang esa. Tetapi, seiring berjalannya waktu, manusia merasa jauh dari Tuhan yang esa itu.

Tuhan yang esa tidak hadir di dalam keseharian manusia, tidak hadir di dalam gerak sejarah manusia. Tuhan yang esa hanya menetap di tempat yang jauh di “sana” (transenden). Tempat yang tidak bisa dijangkau oleh manusia.

Akhirnya, karena manusia membutuhkan keterlibatan Tuhan yang esa di dalam keseharian mereka maka manusia menciptakan tuhan-tuhan perantara.

Berkenaan dengan hal itu, Toshihiko Izutsu di dalam karyanya, God and Man In The Qur’an, menjelaskan bahwa masyarakat Arab Jahiliyah mengakui Allah sebagai tuhan dari segala tuhan. Tidak heran jika ditemukan nama Abdullah. Itu membuktikan bahwa nama Allah tidaklah asing bagi mereka.

Praktik menyembah berhala yang jumlahnya sangat banyak (disebutkan bahwa di dalam Ka’bah ada 360 berhala) sebenarnya bukanlah benar-benar menyembah berhala itu sendiri, tetapi hanya sebagai perantara kepada Tuhan yang esa, Allah.

Digunakannya benda-benda atau bangunan-bangunan tertentu (patung, salib, batu, dll.) dalam ritual peribadatan menunjukkan bahwa dalam berhubungan dengan Tuhan yang esa membutuhkan semacam perantara, sehingga manusia bisa merasa dekat dengan-Nya.

Segala sesuatu yang abstrak (gaib) memang cenderung mudah “dilupakan”. Oleh karena itu diperlukan simbol-simbol material untuk memelihara rasa kedekatan dengan Yang Maha Gaib (ghaib al-ghuyub).

Kini kita hidup di abad ke-21. Konsep ketuhanan politeisme sudah ditinggalkan. Semua agama menyesuaikan konsep ketuhanan mereka dengan monoteisme (tauhid). Misalnya, konsep ketuhanan di dalam agama Hindu.

Bansi Pandit di dalam bukunya, kalo tidak salah sebut judul, Pemikiran Hindu, menjelaskan bahwa Brahma, Wisnu dan Shiwa adalah satu wujud: ketika mencipta ia bernama Brahma, ketika memelihara ia bernama Wisnu, dan ketika menghancurkan ia bernama Shiwa.

Adalah suatu hal yang wajar apabila doktrin-doktrin agama terus berkembang sesuai dengan semangat zaman. Politeisme dalam arti tradisional memang sudah usang, tetapi ia justru bertransformasi ke dalam bentuk modern.

Kita meyakini bahwa hanya ada satu tuhan, tetapi di lain pihak kita juga menuhankan kepada selain-Nya. Kultus kepada seseorang adalah salah satu contohnya.

Menempatkan seseorang pada kedudukan yang pasti benar dan tidak boleh dikritik adalah salah satu bentuk pengkultusan. Nurut dan tunduk tanpa berpikir (taqlid buta) kepada seorang guru, ustaz, kyai, syekh atau siapa pun, itu adalah juga bentuk pengkultusan. Padahal, hanya Tuhan yang maha benar.

Perilaku mengkultuskan seseorang ini sejatinya sama saja dengan menciptakan berhala-berhala baru. Kita menempatkan seseorang sebagai juru bicara Tuhan.

Apa yang dikatakan oleh orang itu kita anggap sudah pasti sesuai dengan maksud Tuhan yang sebenarnya. Ketika ada pendapat lain, maka dengan angkuhnya kita berkata bahwa pendapat yang lain itu salah kaprah alias bertentangan dengan firman Tuhan.

Pelajaran yang berharga mengenai pengkultusan ini adalah pada sejarah Kristen di abad pertengahan (abad ke-6 s.d 14 M.), di mana pihak gejera mengkultuskan diri mereka sendiri sebagai satu-satunya pemegang otoritas penafsiran atas Injil.

Akhirnya, penemuan-penemuan ilmiah yang bertentangan dengan pendapat gejera disingkirkan dengan kejam. Salah satu korban yang fenomenal adalah Galileo Galilei.

Di dalam Islam tidak mengenal sistem kerahiban. Setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw., maka tidak ada lagi pemegang otoritas mutlak atas penafsiran Al-Qur’an.

Maka tafsir-tafsir yang dihasilkan akan selalu bersifat relatif: selalu terbuka kemungkinan untuk dikoreksi. Tidak ada lagi tafsir yang pasti tepat dan akurat sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Allah.

Gejala yang ada sudah lebih parah lagi. Tidak hanya penafsiran terhadap kitab suci saja yang diikuti secara buta, tetapi seluruh perbuatan yang dilakukan oleh orang yang kita anggap sebagai syekh dianggap pasti benar. Seolah-olah ia memiliki keistimewaan dijaga dari dosa (ma’shum).

Akhirnya kita tidak berdaya untuk melihat secara jernih bahwa guru kita itu adalah juga manusia yang masih sangat mungkin berlaku keliru, bahkan dosa. Yang lebih mengenaskan lagi adalah ketika kita menyadari ada kesalahan tetapi malah coba-coba cari pembenaran.

Itulah kemunculan berhala-berhala baru. Wujudnya bukan lagi patung, pohon atau batu, tetapi menjelma menjadi semacam “kondisi mental” untuk selalu tunduk dan patuh tanpa berpikir. Kita mesti ingat bahwa Nabi pernah berpesan: “Perhatikanlah isi perkataannya, bukan tergantung siapa yang mengatakannya.”