Penderitaan, rasa sedih adalah suatu keniscayaan bagi manusia. Yang membedakan hanyalah intensitas, bentuk dan frekuensi dari penderitaan tersebut. Saya belum pernah menjumpai seorang manusia dewasa yang dalam hidupnya mengaku bebas dari segala bentuk penderitaan. Ada saja kesusahan yang dialami oleh seseorang yang saya temui mulai dari kehidupan pribadi sampai dengan urusan karir. Perspektif penderitaan yang dialami oleh manusia ini seakan diamini oleh dua ajaran spiritualisme yaitu Sufisme dan Buddhisme. 

Dalam sufisme, alam dibagi menjadi 4 yaitu alam nasut, alam jabarut, alam malakut dan alam ghoibi. Alam paling rendah adalah alam nasut. Alam nasut adalah alam yang nampak oleh indera atau alam jasmani, seperti yang kita tempati sekarang. Alam nasut ini adalah alam penderitaan khususnya bagi manusia yang ilmunya masih rendah dan mencari ilmu yang bersumber dari dirinya sendiri, bukan dari yang Haq. Manusia akan mudah sekali kehilangan pegangan hidup dan terombang-ambing dalam tipu daya dunia.

Sedangkan dalam ajaran Buddhisme, penderitaan atau Dukha menjadi salah satu dasar ajaran yang didirikan oleh Siddharta Gautama tersebut. Kehidupan di dunia ini memang dipenuhi dengan kesengsaraan dan penderitaan. Bisa dibilang jika hidup adalah menderita. Kelahiran adalah penderitaan, usia yang tua adalah penderitaan sampai kematian pun adalah suatu penderitaan. Kenikmatan yang didapatkan sejatinya hanyalah bersifat semu dan akan mendatangkan suatu kekosongan bagi jiwa manusia. 

Kenikmatan semu hanya cocok dirasakan oleh hewan. Jika penderitaan adalah sesuatu yang pasti dialami setiap manusia, maka manusia tidak boleh sewenang-wenang menyalahkan segala bentuk penderitaan yang datang dalam hidupnya atas suatu nasib buruk yang dialami. Jika setiap manusia pasti mengalami kesulitan, maka alasan-alasan disusun untuk menyalahkan manusia lain yang hidupnya lebih baik menjadi tidak layak diajukan. Sama-sama mengalami suatu derita, mengapa satu manusia bisa menjadi lebih baik dibandingkan dengan manusia yang lain? 

Jawabannya adalah pada quote Epictetus yang saya tuliskan di atas, respon manusia akan derita yang dialaminyalah yang membedakan kualitas antara satu manusia dengan manusia lain. Itu yang membedakan nasib antara satu manusia dengan manusia yang lain. Karena masing-masing dari kita memiliki standar mengenai apa yang baik dan apa yang buruk, maka saya berikan batasan baik dalam konteks artikel ini adalah seberapa besar usaha manusia untuk tidak menyerah pada keterbatasan yang ada dalam hidupnya, seberapa besar dia mewujudkan keinginannya meskipun banyak rintangan yang ia hadapi. 

Kisah 2 Lelaki 

Suatu ketika ada 2 lelaki yang hidup dalam satu masa. Mereka tidak mengenal satu sama lain. Kondisi masa kecil dan masa muda mereka hampir mirip. Mereka sama-sama lahir dari keluarga miskin.

 Lelaki pertama anak tukang becak dan ibunya buruh harian lepas. Dia memiliki banyak adik. Karena keterbatasan dana, dia memutuskan untuk berhenti sekolah saat masih duduk di kelas 2 SMP. Dia membantu orang tuanya untuk menyekolahkan adik-adiknya. Kendati putus sekolah, lelaki 1 kita ini tidak pernah patah arang. Dia selalu menyisihkan uangnya untuk membeli buku-buku. Baginya, ilmu tidak hanya didapatkan di bangku pendidikan formal. Dia bisa melahap berbagai pengetahuan melalui buku. Dia belajar sambil tetap bekerja memenuhi kebutuhan keluarganya. 

Karena rasa hausnya akan ilmu dan pikirannya yang kritis dengan kondisi sosial politik di negaranya, dia menjelma menjadi aktivis yang vokal terhadap rezim pemerintahan orde baru. Dia kerap bersuara yang menyakitkan telinga penguasa melalui bait-bait puisinya yang tegas. Naas, lelaki ini seperti lenyap ditelan bumi. Kita tak tahu rimbanya hingga kini. Tetapi namanya akan selalu menjadi simbol bagi perlawanan. Dia adalah Wiji Thukul. Setiap kali mendengar nama itu, banyak hal yang akan kita ingat yaitu keberanian, semangat, tekad dan kepedulian. 

Kita beranjak pada kisah lelaki kedua Lelaki kedua kita ini juga dilahirkan dalam keluarga yang miskin. Ayah dan ibunya bekerja sebagai petani. Dia memiliki 2 orang adik. Ketika lulus SD, dia terpaksa berhenti sekolah. Itu menyebabkan rasa frustasi yang mendalam karena dia mengaku sangat ingin bersekolah. Tetapi apa daya, kondisi finansial keluarganya tak bisa memenuhi keinginanya untuk bersekolah. Akhirnya dia menjadi pemuda yang frustasi. 

Tidak mengerti kemana arah hidupnya. Minuman keras sangat akrab dengan kesehariannya. Ketika dewasa, dia masih hidup dalam kesusahan meskipun dia menikah dengan seorang perempuan pekerja keras dan berpenghasilan cukup. Kesusahan dia rasakan karena tidak punya tujuan yang menentu dalam hidupnya. Siapa namanya, tak ada publik yang tahu akan hal tersebut kecuali orang-orang terdekatnya. Bahkan saya pun memilih untuk cukup santuntidak menyebut namanya dalam artikel ini. 

Dari kisah kedua lelaki di atas, kita bisa mendapatkan dua hasil yang berbeda dari suatu keadaan yang mirip. Suatu kemiskinan menghasilkan aktivis pemberani dan kemiskinan yang sama menghasilkan seorang yang bukan siapa-siapa. Terbukti, bukan keadaan yang patut disalahkan atau penderitaan yang menyapa dalam hidup yang harus dkutuki. Melainkan bagaimana respon kita terhadap suatu keadaan-lah yang menentukan siapa diri kita sesungguhnya. Lelaki kedua mungkin lebih menyalahkan keadaan daripada membangun pribadi lebih baik dari keadaannya yang tidak menguntungkan tersebut. Tentu sangat berbeda dengan lelaki pertama yang lebih memilih untuk bangkit melawan nasib dan ketertindasan yang dia alami. 

Memilih tunduk atau berinisiatif, memutuskan atau bergelut dengan dilema palsu? 

Mc Gregor dalam teori kepemimpinannya membagi manusia dalam dua jenis yaitu x dan y. Manusia tipe x ini biasanya tidak akan bekerja jika tidak diperintah. Dia akan bekerja jika diancam atau diiming-imingi dengan hadiah. Sedangkan manusia tipe y adalah manusia yang berpikir bahwa bekerja adalah sesuatu yang natural, alami. Dia harus menentukan keputusan yang akan mengundang konsekuensi pertanggungjawaban. Komitmen yang tinggi akan menghasilkan reward yang memang layak untuknya. Kepemimpinan atas manusia tipe x menghasilkan kepemimpinan yang otoriter sedangkan kepemimpinan atas manusia tipe y akan menghasilkan kepemimpinan yang partisipatif dimana seseorang ikut menentukan nasibnya sendiri dan nasib dari kelompoknya. Dari 2 jenis kepemimpinan ini, kita bisa melihat mana yang lebih baik. 

Sayangnya masih banyak orang yang sibuk berdebat mengenai kehendak bebas vs determinisme. Perdebatan yang tidak menghasilkan apa-apa dan malah tidak lebih dari suatu dilema palsu. Saya lebih memihak para kompatibilis yang menyelaraskan dua pandangan ini. Dimana terdapat determinasi manusia, salah satunya adalah penderitaan namun manusia memiliki kehendak bebas untuk bertindak dan memilih jalan di atas penderitaan yang dia alami.