Kita akrab sekali dengan ucapan: “Cowok itu kalo nggak berengsek, ya homo!” Sering sekali terucap dari mulut perempuan yang baru saja patah hati, mendapati pacarnya menjalin cinta dengan hati lain. Apa memang semua cowok itu berengsek?

Kayaknya sih nggak juga. Itu cuma semacam generalisasi yang berlebihan. Masih banyak juga cowok baik di luar sana. Tapi kalau masuk ke dalam pikirannya (jangan sampai ada alat model begini), sepertinya betul hampir semua cowok itu berengsek.

Saya berani bertaruh semua pria pernah membayangkan mesum dengan lebih dari 5 perempuan lain. Bedanya, pria berengsek itu berani merealisasikan fantasinya, sedangkan cowok baik nggak. Ya, ada juga memang cowok yang berpegang teguh sama prinsipnya walaupun jumlahnya minim.

Apa nggak ada perempuan yang berengsek? Pasti ada. Tapi, kalau di rata-rata, jumlah pria berengsek lebih banyak daripada perempuan. Makanya ada istilah pria hidung belang.

Apakah artinya perempuan pada dasarnya lebih baik dari pria? Nggak juga. Kalau mau adil, bandingkan jumlah cewek matre dibanding cowok matre. Mana yang lebih banyak? Bisa dilihat sendiri di lingkungan sehari-hari. Berapa banyak perempuan yang ninggalin pacarnya dan nikah dengan pria yang lebih mapan?

Berengsek itu Warisan Evolusioner!

Ada satu bidang ilmu pengetahuan yang cukup fokus mendalami perbedaan gender pada manusia. Bidang itu adalah psikologi evolusioner. Namanya memang tidak sepopuler psikoanalisis, tapi perkembangannya selama dua dekade terakhir sangat mengesankan. Psikologi evolusioner memiliki masa depan cerah!

Sebelum memahami psikologi evolusioner, kita perlu untuk memahami kerangka besar evolusi. Kata kuncinya adalah bertahan hidup dan mewariskan gennya pada keturunan dengan reproduksi.

Manusia modern sudah hidup kurang lebih selama 70.000 tahun, sedangkan sistem modern kehidupan sosial seperti saat ini paling-paling baru berusia 2000-3000 tahun. Belum sampai ¼ dalam kehidupan panjang evolusioner manusia.

Jadi kita harus menggunakan kacamata manusia-manusia “primitif” untuk memahami mekanisme psikologis. Menurut ahli evolusioner, secara fisik maupun psikologis, kita masih berada pada era yang disebut manusia pemburu-pengumpul puluhan ribu tahun yang lalu.

Itulah alasan di balik mengapa kita takut gelap, ketinggian, hewan buas, dan lain sebagainya. Sebab itu tertanam dalam informasi evolusioner kita. Mungkin di situlah letak alam bawah sadar manusia. Ia adalah informasi genetis yang diturunkan turun-temurun.

Baiklah, mari kita masuk ke pokok masalah. Mengapa ada perbedaan kualitas antara perempuan dan pria? Perempuan menginvestasikan lebih banyak waktu dan energinya untuk mengurus anak. 9 bulan di kandungan plus mengurusnya hingga bisa mandiri.

Berapa investasi pria? Hanya perlu 10 menit atau bahkan tidak sampai semenit buat kamu yang ejakulasi dini. Sedikit sekali kan investasinya? Setelah itu harap-harap cemas apakah spermanya berhasil berenang ke sel telur. Jawabnya bisa jadi bisa nggak. Tanya kenapa?

Kenapa perempuan berani berinvestasi banyak? Karena perempuan yang membawa calon anak itu. Konsekuensinya, calon anak yang dikandungnya sudah pasti 100% adalah anaknya!

Perempuan sudah pasti menurunkan 50% gennya pada anaknya. Sedangkan pria nggak bisa yakin calon anak yang dikandung kekasihnya membawa 50% gen miliknya. Apalagi kalau kekasihnya pelakor. Harus rajin-rajin berdoa dan yakin saja bahwa kekasihnya adalah perempuan baik-baik.

Karena ketakutan bahwa kekasihnya tidak mengandung anaknya, pria mengubah kemampuannya secara perlahan. Para pria mengembangkan kemampuannya untuk cenderung menyemprotkan spermanya ke banyak perempuan.

Kurang lebih begini kemampuan yang dikembangkan pria: “Sumbangkan sedikit saja waktumu dengan satu perempuan. Dia belum tentu bisa mengandung anakmu! Semprotkan spermamu ke sebanyak mungkin vagina. Kalau semprot ke 50 perempuan, masak iya satu aja nggak jadi?”

Dengan begitu, pria lebih dapat memastikan ada gennya yang mengalir di calon bayi yang dikandung kekasihnya. Secara evolusi, pria untung dengan kemampuan ini.

Pria lebih mungkin untuk selingkuh dan memiliki banyak pasangan seksual. Sedangkan perempuan cenderung untuk memiliki satu pasangan yang dapat membantunya merawat anak.

Mungkin inilah alasan di balik banyak pria melakukan pelecehan terhadap perempuan(?) Karena pria secara naluri mudah terdorong nafsu untuk berinvestasi ke banyak perempuan. Jadi jangan heran kalau pria melihat perempuan seksi sedikit saja sudah ngaceng. Ya, memang bawaannya sudah begitu! Memang menjadi berengsek itu warisan leluhur pria.

Karena membutuhkan banyak waktu untuk merawat anak, perempuan harus menyeleksi pria dengan teliti dan memastikan bahwa gen yang menurun ke anaknya adalah gen yang terbaik.

Lagipula, perempuan paling-paling bisa menghasilkan 20 anak. Tetapi terlalu beresiko. Lebih menguntungkan berinvestasi ke satu anak, tapi benar-benar berkualitas dan bisa meneruskan gennya ke keturunannya.

Jadi, secara evolusioner, pria diuntungkan jika menyemprotkan sperma ke banyak perempuan. Muncullah pria hidung belang. Sedangkan, perempuan diuntungkan jika bisa mendapatkan pria yang memiliki banyak sumber daya dan kekuatan. Dengan pasangan yang seperti itu, perempuan dapat menumbuhkan anak-anak yang kuat dan siap meneruskan gennya. Ia-lah cewek matre!

Perempuan juga harus menyeleksi pria yang dapat memberikan perlindungan dan sumber daya agar dia dan keturunannya dapat bertahan hidup. Kalau ia memilih pria lemah yang tak mampu menyediakan sumber daya, ia dan anaknya bisa terancam mati. Cewek matre itu alamiah!

Nah, pria yang ingin mendapatkan perempuan otomatis harus memiliki banyak sumber daya. Banyak duitlah kalo bahasa zaman now. Kurang lebih, begitulah seleksi seksual Darwin bekerja.

Bisa dipastikan hampir seluruh perempuan menyukai pria yang banyak duit, walaupun fisiknya tidak terlau menarik. Sebaliknya, pria lebih menyukai perempuan dengan kualitas fisik yang menarik.

Itulah kenapa banyak perempuan yang menghabiskan energi dan uangnya untuk mempercantik fisiknya, untuk mendapatkan pria cakap dengan sumber daya melimpah. Bukan begitu, ladies?