Umbu Landu Paranggi pernah menulis puisi berjudul “Apa Ada Angin di Jakarta”, puisi tersebut adalah metafora bagi realitas kehidupan di Jakarta yang telah terlampau sesak dan absurd. 

Mendukung hal tersebut Seno Gumira Ajidarma bahkan menafsirkan Homo Jakartaensis sebagai spesies lain dari manusia Indonesia pada umumnya, menurutnya, apabila kita mencoba bertanya kepada orang Jakarta dari mana mereka berasal, lazimnya mereka akan menjawab bahwa mereka tidak berasal dari Jakarta.

Semua orang sudah mafhum bahwa Jakarta banyak dihuni oleh orang-orang yang memilih urbanisasi sebagai jalan mengganti nasib. Meski terkadang nasib mereka tidak berubah banyak namun terlanjur beranak pinak di ibukota, sehingga keturunannya harus ikut melanjutkan perjuangan.

Sering kita lihat ibukota begitu lengang ketika musim lebaran seperti sekarang ini. Namun ketika arus balik tiba, Jakarta kembali “tidak ada angin” karena mereka yang kembali tidak datang seorang diri. 

Mereka  membawa kawan, saudara, dan handai taulan. Jakarta semakin sesak, sementara lotre untuk mengganti nasib itu jumlahnya terbatas. Tahun lalu (2018) Pemkot DKI melansir bahwa setiap tahunnya ada sekitar 70.000 pendatang baru di Jakarta setiap lebaran. Data itu berasal dari selisih jumlah arus mudik dan arus balik.

Kultur nekat orang Indonesia memang memungkinkan seseorang untuk cukup bernyali mengadu nasib di Jakarta, karena di desa mereka tidak punya kerja, jika ada pun, uang yang didapat tidak seberapa. Semua bermula dari adagium yang telah menjadi sangat umum di Indonesia, “Jakarta adalah tempat uang berada.”

Akhirnya, semua orang, berniat mencari penghidupan di sana tak peduli dengan modal yang dimiliki, baik itu modal finansial atau pun keterampilan. Ketika pekerjaan tak kunjung didapat, uang bisa menjelma menjadi Tuhan, “asal ada uangnya, apa saja bisa dilakukan.” Begitulah seluruh lingkaran setan terus berulang, Jakarta kembali kehilangan angin.

Sentralisasi Industri

Jakarta telah dibangun sedemikian rupa untuk menjadi sentra industri sejak zaman kolonial, artinya aktivitas perekonomian yang berlangsung di sana telah mengikat seluruh aktivitas perekonomian di Indonesia. 

Meski begitu, jatah kue yang dimiliki oleh orang-orang yang hendak eksodus ini mungkin hanya secuil dari kue raksasa kapitalisme yang ada di ibukota. Orang-orang tanpa ijazah dan keterampilan hampir pasti akan menjadi kuli, sementara mereka yang memiliki keduanya mungkin akan memiliki nasib yang lebih baik.

Salah satu cara untuk mengatasi delusi orang-orang atas Jakarta adalah dengan menciptakan ekosistem ekonomi yang saling memakmurkan di kota-kota kecil dan desa. Sehingga orang bisa hidup di tanah kelahirannya sendiri tanpa khawatir menjadi miskin atau kelaparan. Penyebab orang eksodus adalah karena kehilangan harapan di tempat asalnya.

Sebetulnya gerakan-gerakan seperti sarjana balik desa, atau inkubator bisnis di kota-kota kecil sudah mulai dijalankan, namun tanpa dibarengi kesadaran dari warga setempat hal ini akan menjadi sia-sia. Setiap daerah selalu memiliki potensi ekonomi yang merata, tinggal sejeli apa orang mampu melihat itu. 

Budayawan sekaligus dosen asal Bandung, Budi Setiawan (Budi Dalton), dalam sebuah talkshow yang ia bawakan pernah mengatakan, “kunaon kudu ka Jakarta wae? Di Bandung pun kita bisa saling menghidupi.” Budi mengungkapkan bahwa selama seseorang bisa menyadari potensi yang dimiliki oleh tempat tinggalnya, ekonomi masyarakat akan bisa terus berputar. 

Ia memberi contoh tentang produk-produk kota Bandung yang bisa menasional bahkan mengglobal. “Bandung itu sekurang-kurangnya adalah tentang kuliner, fashion, musik, dan sepakbola. Jika orang mau bergerak di bidang-bidang itu saja, kita akan bisa hidup tanpa harus ke Jakarta.” Ungkapnya.

Sebagai contoh lain, desa Ciptagelar di Sukabumi merupakan pengejawantahan paripurna mengenai kemandirian ekonomi dan swasembada pangan. Orang-orang di sana memelihara pola hidup yang bertimbal balik dengan alam, keselarasan tersebut pada akhirnya membawa kemakmuran bagi penduduknya. 

Mereka bisa saling menghidupi tanpa perlu ada yang merantau kerja di tempat lain, karena ekosistem untuk berdaya cipta telah tercipta sedemikian rupa. Karena kebutuhan dasar sudah tercukupi, maka mereka bisa mulai mencoba memenuhi kebutuhan dalam aktualisasi diri. 

Orang-orang berkesenian, membuat teknologi, atau bekerja di desa untuk bisa memenuhi kebutuhan lainnya. Dengan cara itulah mereka memastikan semua hajat hidup bisa terpenuhi di desa sendiri.

Kapitalisme memang sedikit demi sedikit menggerogoti rasa gotong royong masyarakat dan menggantinya dengan individualisme. Hal ini membuat orang-orang berlomba untuk menjadi kaya, dan untuk mencapainya, berpindah ke pusat industri dianggap sebagai jalan yang paling cepat. 

Bung Hatta tidak merumuskan ekonomi koperasi sebagai sebuah sistem tanpa alasan. Ekonomi koperasi ala beliau memungkinkan daerah-daerah menciptakan pasar bagi komoditas yang hendak dieksplorasi di daerah tersebut, alih-alih menciptakan pasar bebas seperti sekarang. Pada akhirnya hanya mereka yang memiliki akses atau modal paling besar yang bisa memonopoli pasar.

Eksodus wong cilik ini nantinya akan menjadi hampa karena pada akhirnya orang-orang ini hanya akan menjadi katalis bagi pemilik modal untuk memperkaya dirinya. Orang-orang ini akan menerima upah seadanya, beserta sedikit tunjangan untuk keluarganya di desa. 

Lalu ketika lebaran berikutnya tiba, mereka akan bersuka cita mudik ke kampungnya sembari menceritakan betapa berkilaunya Jakarta, tidak lupa sambil sedikit mempengaruhi sanak saudara agar mau juga mencari nafkah di sana bersamanya.