"Tuhan penuh kejutan," petikan argumentasi dari isi khutbah kerohaniaan Paus Fransiskus di Vatikan dalam rangkaian Paskah memiliki makna yang sangat dalam. Kejutan atau surprise dalam bentuk riilnya adalah hal yang rahasia, tidak dapat dimengerti oleh siapa pun kecuali sang pemberi surprise itu sendiri. Surprise Tuhan jika boleh disederhanakan adalah kenyataan yang berada dantara harapan dan kekhawatiran manusia.

Sisi lain dari pesan yang disampaikan Paus merupakan suatu kekhawatiran terhadap kenyataan umat, di mana saat ini lebih banyak mengabaikan terhadap surprise Tuhan. Manusia banyak menunggu surprise kebendaan, produk kapitalisme dan kegilaan lainnya yang bersifat profan. Mereka berlomba-lomba menggapai suprise kebendaan tersebut, sembari memamerkan dengan gegap gempita di laman-laman media sosial.

Suprise itu telah dimaknai secara serampangan, diwujudkan dalam benda-benda yang mempesona. Mereka telah melupakan bahwa hidup itu sendiri adalah surprise. Perjuangan mengalahkan jutaan benih dalah rahim seorang ibu hingga kemudian lahir ke dunia adalah surprise yang harus pertama kali disadari, sebelum menyadari surprise lainnya. Melihat kembali pada diri adalah satu langkah yang lebih mantap dibandingkan dengan cara melihat keluar.

Dalam diri terdapat kenyataan awal, kejernihan, kejujuran dan bahkan itulah kehidupan yang sebenarnya. Keriuhan di luar sana tidak lebih dari gegap gempita yang menjauhkan dari kehidupan yang sebenarnya. Di situ manusia akan kesulitan mendapat kesungguhan dan kebenaran.

Aroma dan warna terlihat lebih mencolok dari sekedar kenyataan. Betapa sering dalam kehidupan nyata kita mendapati menu makanan yang sangat fantastik di rumah makan, namun begitu sampai di penghujung lidah tidak lebih dari sekedar bau terasi.

Kamuflase lainnya terjadi di setiap lini kehidupan, mulai dari lingkup yang paling sempit dalam kehidupan keluarga hingga mungkin pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Hari ini manusia dihadapkan secara terus menerus pada keriuhan, bahkan nyaris tidak dapat menemukan dirinya sendiri dalam kediriannya. 

Ruang publik dan ruang privat telah dikapitalisasi menjadi ruang yang integral tanpa batas. Bahkan sekedar untuk berdoa di ruang yang sangat privat telah menjadi hidangan publik yang biasa dibangga-banggakan.

Betapa sering umat beragama, masuk Gereja, Masjid dan rumah ibadah lainnya sekedar untuk pamer. Foto, video bahkan live event dalam ruang yang sangat privat tersebut menjadi sajian ketaatan yang sangat profan.

Sakralitas doa, relasi hamba dengan Tuhan untuk melihat diri dalam menapaki kehidupan tidak berfungsi dengan baik. Betapa sering kita temui, banyak orang yang sangat suci penuh ketaatan namun di sisi lain umpatan kebencian juga berjalan beriringan dengan ketaatan.

Manusia harus kembali pada keheningan, gemerlap dunia sesekali harus disisihkan. Jika mungkin sudah terlalu penuh dengan ambisi, keriuahan, kecurigaan dan ketakutan akibat dari terlemparnya diri dalam arus zaman now, maka kembali ke titik nol mungkin dapat menjadi pilihan.

Titik nol dalam rangkaian Khutbah Paus adalah permintaan untuk hening bagi jamaah atau dalam rangkaian Paskah adalah jeda dari satu rangakaian musik pada musik yang lain. Begitulah sekadar pembacaan penulis pada rangkaian Paskah yang disiarkan langsung dari Vatikan via televisi.

Memilih jalur hening dan titik nol barangkali inilah jalan untuk menemui surprise Tuhan. Walau cukup berat, namun setidaknya interpretasi penulis terhadap rangkaian Paskah dan Khutbah Paus kemarin di Vatikan (01/04/2018) cukup relevan untuk kita saat ini yang selalu bergemuruh di labirin keramaian virtual dan faktual.

Biarlah keheningan itu menempatkan kita menjadi orang yang mungkin sama sekali tidak tahu dan bodoh, namun disitulah kejutan-kejutan Tuhan itu akan muncul. Sekarang pilihan ada di tangan kita, bergemuruh dalam keramaian tanpa kejutan, atauhkah keheningan yang penuh dengan kejutan Tuhan.