Buku ini berjudul berbahasa indonesia dengan logis dan gembira dengan subjudul renungan dan candaan. Ya, Anda tidak salah membaca dan saya tidak salah ketik. Saya mengetik judul buku ini apa adanya, seperti yang tertulis di sampul depan buku berwarna kuning ini.

Normatifnya, penulisan judul menggunakan huruf besar untuk huruf pertama setiap kata, namun apa yang tercetak di sampul depan tersebut seakan-akan menabrak aturan sakral ini. Adalah hil yang mustahal si penulis buku sebagai pengguna dan sekaligus pemerhati Bahasa Indonesia tidak mengetahui kaidah umum ini?

Bagi pembaca buku ini yang sabar dan tekun, misteri penulisan judul buku yang tidak standar ini terjawab di penutup buku ini (hal. 292-295). Untuk tidak merusak kenikmatan calon pembaca buku ini, saya tidak akan membongkar misteri penulisan judul buku tersebut.

Bisa Anda bayangkan, saat Anda tengah membaca novel misteri Agatha Christie, teman Anda dengan tidak sopannya tiba-tiba memberitahu Anda siapa pembunuhnya. Anda pastinya ingin mencekik leher teman Anda yang kurang ajar itu.

Ada satu lagi misteri. Dalam salah satu feedback-nya atas tugas praktik yang dikumpulkan dalam kelas menulis online yang dibimbing oleh Mas IAD, di mana saya salah satu muridnya, Mas Guru (kami, para murid memanggil Mas IAD) pernah mengingatkan bahwa judul esai ditulis dengan huruf besar untuk huruf pertama tiap kata, bukan huruf besar semua.  

Namun demikian, judul semua esai dalam buku ini tercetak dalam huruf besar semua, walaupun dalam daftar isi semua judul tertulis dengan huruf besar pada huruf pertama tiap kata. Ini tidak konstitusional, eh konsisten.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Apakah ada kekhilafan? Kesengajaan? Atau barangkali ada konspirasi global dengan maksud atau tujuan tertentu? Entahlah. Hanya Mas IAD dan Tuhan yang tahu (namun tidak berbuat apa-apa, kata Tolstoy).

Seperti juga buku-buku Mas IAD yang berisi kumpulan tulisan, buku ini juga merupakan bunga rampai esai. Yang membedakannya adalah bahwa esai-esai di dalamnya diikat oleh satu tema khusus, yaitu bahasa Indonesia.

Buku setebal 296 halaman ini berisi 77 esai yang mencermati fenomena kebahasaan, baik lisan maupun tulisan, dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian pernah ditayangkan di situs web BahasaKita.com dan sebagian belum.

Sekadar kepo, saya cek TKP. Rupanya, situs web BahasaKita.com adalah situs belajar Bahasa Indonesia untuk orang asing. Untuk bisa membaca artikel-artikel di sana harus mendaftar dan membayar. Ada tiga opsi membership, dan yang paling murah (Friendly Membership) $27 untuk akses 3 bulan, Premium Membership $72 untuk satu tahun, dan Group Membership $207 untuk 5 orang selama satu tahun. 

Mendadak saya merasa bersyukur, karena berkat penyelenggaraan ilahi memiliki buku Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira, setidaknya saya menghemat $27.

Di bagian pengantar dikatakan bahwa tidak ada masalah dengan slogan “berbahasa Indonesia dengan baik dan benar”, di mana berbahasa dengan baik ditakrifkan sebagai berbahasa sesuai konteks lingkungan dan suasana dan benar adalah berbahasa sesuai kaidah.

Selain berbahasa dengan baik dan benar, Mas IAD ingin menambahkan satu semangat yang barangkali tidak didapatkan di sekolah, yaitu berbahasa Indonesia yang logis, yang masuk akal, yang memenuhi kebutuhan nalar (hal. 5).

Kalau Bung Karno, dalam pidato 1 Juni 1945, mengusulkan Pancasila sebagai dasar negara, yang bisa diperas menjadi Tri Sila dan Eka Sila, setelah membaca buku Mas IAD ini, saya melihat bahwa sikap dan semangat semua esai di buku ini bisa dibaca dalam esai ke-6, Bagaimana Seharusnya Kita Menyikapi KBBI? (hal. 35 - 38).

“Bahasa tidak ada yang salah. Sepanjang sebuah bahasa hidup di dalam sebuah masyarakat, maka ia benar.” Kalimat guru linguistik Mas IAD inilah yang menjadi “ideologi” dalam penyikapan terhadap berbagai fenomena kebahasaan. Semangat ini muncul dalam berbagai esai, di mana Mas IAD tidak sepenuhnya sepakat dengan para polisi bahasa yang memaksakan kebenaran berdasarkan KBBI.

Jadi, yang ditolak Mas IAD adalah dogmatisme KBBI. Menurutnya, KBBI menampung kesepakatan-kesepakatan bahasa yang hidup dalam masyarakat, bukan menentukannya. KBBI terikat konteks yang bergantung pada ruang dan waktu tertentu.

Dengan menggunakan kaidah-kaidah Bahasa Indonesia, Mas IAD menguji ungkapan-ungkapan yang umum ditemui dalam masyarakat yang setelah diuliknya lebih lanjut ternyata tidak memenuhi tuntutan nalar.

Kegundahan linguistik yang saya pendam selama ini terwakili dalam esai berjudul Apakah Si Waktu dan Si Tempat Berkenan Dipersilakan? (hal.26 - 29)

Ungkapan “waktu dan tempat kami persilakan” terlalu sering terdengar di acara pertemuan resmi di mana pembawa acara meminta pejabat atau tokoh untuk memberi sambutan. Alih-alih mengatakan “Kepada Bapak Kepala Dusun, waktu dan tempat kami persilakan” yang  jelas-jelas melawan nalar, ungkapan “Kepada Bapak Kepala Dusun, waktu dan tempat kami serahkan” bisa dipakai.

Ada pula esai yang berkenaan dengan interaksi ungkapan bahasa daerah dalam bahasa Indonesia. Yang saya maksud esai berjudul Penulisan Bahasa Jawa dalam Bahasa Indonesia (hal. 223 - 227), yang menggambarkan problem penulisan kalimat berbahasa Jawa saat kita menulis dalam Bahasa Indonesia.

Barangkali kita lihat langsung kasusnya. "Kowe lungo menyang endi? Kamu pergi ke mana?" Di sini yang menjadi masalah adalah bahwa Mas IAD berhadapan dengan polisi Bahasa Jawa yang berpegang pada penulisan baku “lunga” alih-alih “lungo”. Dan dengan esainya, Mas IAD mengajukan pembelaannya mengapa dia mempertahankan lungo.

Meskipun demikian, saya kurang setuju dengan Mas IAD. Contoh kalimat berikut ini membuat saya bimbang. Ketika kita membaca kalimat seorang pria berbahasa Jawa “Bojoku loro”, saya tidak tahu apakah yang dimaksud istrinya sakit atau istrinya dua.

Beberapa contoh ulikan beberapa esai tersebut di atas sekadar representasi dari persoalan kebahasaan yang taken for granted dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kebanyakan orang tidak pernah memikirkan atau merenungkannya.

Kekuatan buku ini terletak pada keberhasilannya menyampaikan masalah ketidaklogisan cara berpikir yang tercermin dalam kegiatan berbahasa, baik lisan ataupun tulisan, dengan gaya yang renyah. Dus, membaca buku ini sangat mengasyikkan.

Meskipun demikian, saya mempunyai dua kritik atas buku ini yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, pengelompokan topik-topik esai ke dalam beberapa kategori barangkali akan membuat susunan buku ini lebih sistematik. Misalnya, esai yang membahas problem berbahasa lisan dijadikan satu kategori, problem bahasa tertulis, hal-hal terkait dengan KBBI, asal-usul ungkapan, pengaruh bahasa asing, dan sebagainya.

Kedua, kalau sistematika dibuat topikal dan tidak kronologis sebagaimana diusulkan dalam poin sebelumnya, maka pencantuman kapan esai tersebut ditulis dan pernah dimuat di mana tentunya akan memperkaya informasi dalam buku tersebut. 

Dengan melihat waktu penulisan, barangkali, untuk esai-esai tertentu, orang akan lebih memahami konteks dan suasana batin saat esai tersebut lahir.

Pesan umum yang bisa ditangkap dari buku ini adalah ajakan untuk berbahasa Indonesia dengan baik, benar, logis, dan gembira. Secara keseluruhan, buku ini sangat cocok untuk siapa saja yang menggunakan Bahasa Indonesia baik untuk keperluan profesional ataupun kesenangan. Itu.

Info Buku

  • Judul: Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira
  • Penulis: Iqbal Aji Daryono
  • Penerbit: DIVA Press, 2019
  • Tebal: 296 halaman