Pasti kita pernah merenung tentang asal usul alam semesta, karena semua yang terlihat di alam masih menjadi suatu yang membingungkan, bagaimana kita tidak akan bingung kalau alam semesta yang kita tinggali penuh dengan keajaiban, bahkan di kalangan masyrakat awam alam semesta merupakan hal yang penuh dengan kemisterian.

Sebelum zaman semakin modern memang sangat banyak kejadian di alam semesta yang menjadi misteri. Misalkan, gerhana matahari pada saat itu menjadi fenomena yang membuat manusia sangat ketakutan. Menurut kisah ketika gerhana matahari terjadi ada sebuah naga yang sedang melilit matahari lalu matahari akan dimakan oleh naga, jika matahari berhasil dimakan oleh naga maka berakhirlah kehidupan manusia saat itu.

Saat ini, fenomena alam semesta sedikit demi sedikit sudah terjawab oleh manusia, entah bagaimana segelintir manusia ini dapat berpikir sejauh itu. Oh iya, ternyata manusia memiliki akal yang bisa digunakan untuk berpikir, walaupun manusia sudah punya akal untuk berpikir dan menciptakan ide namun akal tersebut belum bisa berpikir mengapa akal ini tercipta.

Jika kamu masih kebingungan dengan pernyataan tersebut, saya akan mengajak kamu menjelajah alam semesta melalui gagasan-gagasan manusia dengan argumentasi yang pernah terjadi puluhan tahun yang lalu mengenai alam semesta. Argumentasi tersebut terjadi karena adanya perbedaan teori yang telah dikemukakan oleh para ilmuan.

Pada tahun 1927 seorang kosmolog asal Belgia, Abbe Georges Lemaitre telah mengemukakan teori tentang Big Bang dia menyebut “Hipotesis Atom Primeval”, teori ini menyatakan bahwasanya alam semesta mulanya berasal dari gumpalan superatom yang berbentuk bola api kecil dengan ukuran sangat kecil.

Bola itu hampir tak berbentuk dan lebih dipandang sebagai titik dengan volume nol. Gumpalan ini memiliki massa jenis yang luar biasa tinggi dengan suhu sekitar 1 trilyun derajat celcius. Kemudian bola api kecil ini mengembang dan mengalami ledakan dahsyat, serta galaksi memuai dan menjauhi pusat ledakan. Big Bang melepaskan sejumlah besar energi di alam semesta yang kelak membentuk seluruh materi alam semesta.

Keberadaan awal pada peristiwa besar  ini melengkapi ketidaktahuan manusia tentang awal mula alam semesta dan juga mengenal penampakan di alam,  walau sebatas bahan dari spekulasi namun sesungguhnya teori ini mempunyai dasar yang kuat. 

Saudah sewajarnya para ilmuan memperkuat teorinya untuk menghadapi teori para filsuf dan ilmuan lainnya, kalau tidak teori tersebut akan terpatahkan, berikut ini perbedaan teori mereka dan teori yang gugur.

Sebelumnya aliran kritisisme, materialisme, dan positivisme  mendukung pendapat ilmuwan maupun para filsuf metafisika bahwa, jagat raya hanyalah akumulasi materi dan tidak mempunyai awal. Tidak ada momen penciptaan, yakni momen ketika alam semesta dan segala isinya muncul.

Namun, penemuan ilmiah oleh Edwin Hubble menggugurkan pernyataan Immanuel Kant. Edwin Hubble menemukan bahwa Alam Semesta mengembang. Pada akhirnya dia menemukan bukti “Big Bang”, peristiwa besar yang penemuannya memaksa ilmuwan meninggalkan anggapan alam semesta tanpa batas dan abadi.

Sains telah membuktikan bahwa alam semesta muncul dengan sendirinya. Posisi yang diambil Hawking serupa dengan posisi fallibisme Popper, walau “pembenaran bukti” Popper lebih pada rumusan negatif, bahwa suatu teori akan semakin kuat bila usaha-usaha untuk menyanggahnya mengalami kegagalan.

Namun, penemuan ilmiah oleh Edwin Hubble menggugurkan pernyataan Immanuel Kant. Edwin Hubble menemukan bahwa Alam Semesta mengembang. Pada akhirnya dia menemukan bukti Big Bang, peristiwa besar yang penemuannya memaksa ilmuwan meninggalkan anggapan alam semesta tanpa batas dan abadi.

Ketika Arno Penzias dan Robert Wilson menemukan tentang radiasi latar belakang kosmik. Teori big bang tak terbantahkan oleh dunia ilmiah dengan bukti penemuan-penemuan ilmiah hingga sekarang telah menunjukkan realitas dentuman besar dan bahkan dapat menjelaskan “keberadaan dari ketiadaan”.

Setelah mengetahui teori alam semesta pasti akal kamu seperti dimasuki oleh atom, tidak mengapa hal tersebut dijelaskan juga oleh Richard Feynman. Iya menyatakan bahwa grand atom telah mengorganisir diri menjadi makromolekul raksasa yang pada gilirannya terdiri dari organel. Sekitar 75 triliun sel khusus diatur sedemikian rupa membentuk manusia. Jadi intinya manusia hanyalah atom.

Lalu bagaimana dengan alam semesta, apakah berbeda dengan manusia, jadi begini penjelasannya. Setelah kehidupan muncul ke di Bumi, atom menjadi bagian dari DNA bakteri, kemudian menjadi bagian dari dinding sel tanaman, atom saat ini berada dalam sel darah merah. Untuk itu manusia dan alam merupakan kesatuan yang utuh.

Seperti yang telah dikatakan Richard Feynman bahwa “I / a Universe atom / an atom in the Universe.”Kisah alam semesta ada bersama tiap-tiap atom didalam tubuh Anda. Setelah 13,7 miliar tahun, mereka telah berkumpul menjadi bersama dan itu anda. Alam semesta berada dalam diri Anda sepasti Anda berada didalam alam semesta.

Hal yang perlu di ingat bahwa ketika manusia hanya merupakan sebuah atom maka kita adalah robot, pesawat, kapal titanic dan nuklir, kira-kira seperti itu logikanya. Nah, untuk itu ada hal yang perlu di perhatikan bahwa robot tidak akan berfungsi jika tidak memiliki energi, bahkan manusia dan alampun seperti itu.

Dari hal tersebut lahirlah suatu pertanyaan bahwasanya eksistensi energi yang bisa menciptakan Big Bang itu berasal dari mana, sedangkan energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Maka segalah kehidupan itu berawal dari satu titik yang pada umumnya manusia tidak bisa menemukan titik tersebut atau yang disebut keberadaan dari ketiadaan.

Dari rasa ingin tahu ini jugalah yang memunculkan pelbagai penelitian serta pengujian dari hipotesa akhir dan bila hal itu terbukti kebenarannya maka akan terbentuk suatu bidang ilmu. 

Semoga rahasia alam semesta ini akan tertanam dalam benak pikiran ilmuan dan peneliti serta pada generasi Bangsa sehingga bisa menjawab kemisterian keberadaan dari ketiadaan atau keberawalan dari satu titik.