Pada tulisan kali ini, saya akan mencoba untuk tidak menyentuh ranah sastra pun romansa. 

Apa yang akan saya kaji ialah perihal keresahan batin. Resah dengan sikap mayoritas masyarakat +62 yang begitu paranoid terhadap ketidakseragaman, perbedaan keyakinan, dan semakin lunturnya makna ke-bhineka-an akibat ulah kaum radikal.

Saya bukanlah orang yang aktif menyuarakan pluralisme atau kelompok anti-radikalisme. Saya hanyalah satu dari segelintir kaum apatis yang merasa risih atas ketidakharmonisan bertetangga antar umat beragama di Negara yang memegang erat semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Sebagai mahasiswa Pariwisata yang notabenenya gemar bersemedi dan mengamati ragam budaya di beberapa belahan kota, saya tentu pernah mendapati pengalaman unik nan menarik yang tentunya membekas di kepala.

Hal unik yang pernah saya jumpai adalah menemukan ruang ibadah di kampus saya, di Budapest, Hungaria, dengan tulisan “Meditation Room”  yang pastinya bisa diakses oleh seluruh mahasiswa yang berangkat dari latar belakang agama yang berbeda.

Tempat lain dengan penerapan konsep yang sama juga saya temukan di Bandara Internasional Singapura, Changi Airport, yang memiliki ruang khusus untuk beribadah yang diberi nama "Multi-Worship Room" dan sudah barang tentu bisa digunakan untuk beribadah oleh seluruh pengguna jasa bandara.

Singkatnya, gambaran di atas merupakan bentuk representasi dari sikap toleransi antar umat beragama. Mereka begitu mafhum bahwa ada hal yang seharusnya lebih diutamakan dari beragama itu sendiri yaitu rasa kemanusiaan. 

Menjadi rukun dan peduli terhadap kebutuhan bersama adalah semboyan tak tertulis yang secara praktis dan tak langsung mereka implementasikan dalam konteks perbedaan keyakinan.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia dan masyarakatnya yang katanya memegang teguh semoboyan bangsa warisan nenek moyangnya?  Hal yang kita dapati justru sangat bertentangan. Apa yang kita saksikan akhir-akhir ini sama sekali tidak mereperesentasikan ke-bhineka-an. 

Yang terlihat justru perpecah-belahan dan keteledoran dalam menyuarakan keberagaman.

Banyak isu yang berkembang bahwa hal semacam itu hanyalah permainan politik belaka. Para politisi elit saling serang-menyerang dengan memperalat ormas-ormas radikal untuk menumbuh-kembangkan kebencian serta permusuhan guna meraup suara yang diekspektasikan. 

Berikut dengan iming-iming kekuasaan dan kesejahteraan yang menjanjikan.

Terlepas dari fakta atau wacana, saya tentu tidak ingin menitik-beratkan permasalahan tersebut, toh, saya bukan pengamat politik. Yang perlu saya garis bawahi adalah bagaimana merekonstruksi pola pikir masyarakat kita.

Saya, atau mungkin kita, sadar bahwa saat ini kita berada di lingkungan dimana sebagian besar masyarakat kita memiliki kebiasaan tidak suka baca dan lebih senang diberi asupan yang serba instan dengan efek samping mudah dieksploitasi, diproovokasi, gampang termakan hoax dan gagap persatuan.

Sadar atau tidak, banyak dari kita salah menangkap konsep persatuan itu seperti apa. Kita mendeklarasikan diri sebagai seseorang yang agamis, pancasilais dan pluralis padahal kita sendiri masih mendefinisikan perbedaan itu semacam saya benar dan kamu salah atau mereka jahat dan kami baik. 

Miskonsepsi inilah yang justru membuat masyarakat kita terpecah-belah.

Maka, jika hari ini kita melihat banyak dari mereka yang tadinya kita pikir orang baik menjelma intoleran, jelas ini bukan semata-mata salah para provokotor atau kelompok anarkis beserta dalang-dalangnya, tetapi lebih ke lemahnya pola pokir kita dalam memilah dan mencerna informasi yang tersaji.

Kita akan dengan mudah dituduh sesat jika saja kita mempersilahkan saudara kita yang non muslim untuk menyembah dan beribadah. Kita akan diteriaki kafir jika saja kita membantu mereka yang non muslim membangun tempat peribadatan. 

Kita telah beralih akidah dan salah kaprah. Kita salah dan mereka benar.

Banyak dari mereka yang memiliki paranoid berlebihan terhadap ajaran agama lain, anti mengucapkan selamat Natal, dan alergi terhadap salib. Menyulitkan izin pembangunan tempat ibadah untuk kaum mintoritas hingga melarang mereka untuk beribadah di tempat yang semestinya mereka gunakan untuk beribadah.

Sikap paranoid inilah yang rentan menjerumuskan kita pada tindakan radikal dan anarkis – kemungkinan lainnya, ya, berujung teroris. 

Saya yakin, tak ada satu agama pun di dunia ini yang berlandaskan pada kebencian dan permusuhan. Banyak dari kita dengan latar keyakinan yang berbeda tentu masih mendambakan persatuan dan persaudaraan di atas perbedaan.

Masyarakat Indonesia, dengan jumlah Muslim terbanyak di dunia, tentu sadar akan makna dasar dari Islam itu sendiri sebagai agama yang Rahmatan Lil Alamin yaitu agama yang membawa rahmat dan kasih sayang Allah SWT kepada seluruh alam semesta. 

Pun begitu dengan Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan bagi segenap umatnya.

Saya teringat kutipan dari penyair dan penulis idola saya, KH. Mustofa Bisri atau lebih akrab dipanggil Gus Mus, yang juga barangkali timbul dari keresahan hatinya. 

Dimana, Gus Mus merasa aneh melihat saudara muslim kita yang memiliki sifat kekanak-kanakan, ingin menang sendiri, mudah marah, dan memaksakan kehendaknya agar orang lain sama dengan dirinya.

"Atheis dimusuhi karena tidak bertuhan. Bertuhan dimusuhi karena tuhannya berbeda. Tuhannya sama dimusuhi karena nabinya berbeda. Nabinya sama dimusuhi karena alirannya berbeda. 

Alirannya sama dimusuhi karena pendapatnya berbeda. Pendapatnya sama dimusuhi karena partainya berbeda. Partainya sama dimusuhi karena pilihan presidennya berbeda."

Dalam hal ini, saya tentu tidak sedang menyudutkan Islam secara keseluruhan maupun agama lain yang merasa sealiran dalam ketersinggungan. Namun, lebih kepada penganutnya yang justru mengamalkan praktik beragama yang sangat bertentangan dengan prinsip dasar agama itu sendiri. 

Karena hal inilah yang dapat membangun stigma masyarakat bahwa ajaran agama yang kita yakini tidaklah baik untuk diikuti.

Sekali lagi, mari merekonstruksi pola pikir kita dalam bermasyarakat. Posisikan kemanusiaan di samping berkeyakinan. Jangan mudah terprovokasi oleh penganut agama garis keras atau siapa saja yang ingin merusak tatanan kerukunan beragama. 

Sikap kita menggambarkan agama kita ajaran yang kita anut. Maka, bersahajalah tanpa pilih kasih.

Saya percaya bahwa setiap agama mengajarkan para pemeluknya untuk menabur cinta dan perdamaian, bukan menebar benci dan ketakutan. Agama hadir untuk memberi keteduhan dan kesejukan, bukan datang untuk menciptakan huru-hara dan silang sengketa. 

Dan yang terpenting, agama adalah bukan untuk mengkritisi keyakinan orang lain, melainkan untuk mengintrospeksi diri sendiri.

Saya juga percaya bahwa kita dianugerahi bangsa Indonesia dalam bentuk ke-bhineka-an agar menjadi cerminan serta teladan bagi Negara lain dalam mensyukuri serta menghargai mahakarya Tuhan dalam wujud perbedaan.