Berbicara mengenai tulisan, ada banyak jenis tulisan yang bisa ditulis, bagi guru yang ingin menjadi guru penulis. Guru penulis, artinya seorang guru yang sehari-hari berprofesi sebagai pengajar dan pendidik di sebuah institusi (sekolah, perguruan tinggi atau lembaga les privat), tetapi juga meluangkan waktunya menulis.

Sebenarnya, ada banyak jenis tulisan yang bisa dikerjakan seorang guru. Hanya saja, saya memilih lima jenis tulisan, yang kira-kira bisa ditulis oleh seorang guru, di sela-sela profesinya sebagai pendidik. Lima jenis tulisan tersebut, antara lain: sastra, opini, resensi buku, tulisan hikmah, dan naskah buku.  

Tentunya, bagi guru yang baru belajar menulis, tidak semua jenis tulisan bisa dikerjakan. Akan tetapi, kita harus mengerjakan satu jenis tulisan terlebih dahulu. Kemudian, jika sudah memahami dan menguasai cara menulis satu jenis tulisan, barulah kita beranjak memahami jenis tulisan lainnya.

Tujuannya ialah, agar kita bisa fokus untuk menguasai seluk-beluk satu jenis tulisan. Setelah benar-benar menguasai terhadap jenis tulisan, barulah kita mempelajari dan menekuni jenis tulisan lainnya. Sehingga, kita bisa fokus belajar dan berlatih terhadap satu jenis tulisan hingga benar-benar memahaminya.

Sebagai contoh, awal-awal saya terjun ke dunia tulis-menulis, saya belajar menulis sastra jenis cerpen (cerita pendek). Belajar menulis cerpen sekitar tahun 2005 hingga 2009. Tahun 2010, sembari menulis cerpen saya juga mulai mencoba menulis novel sastra. Di mana, novel merupakan jenis tulisan sastra yang cukup tebal.

Sekitar tahun 2011, saya mulai belajar menulis opini, resensi dan esai. Alhamdulillah beberapa tulisan saya dimuat di koran lokal maupun nasional, serta beberapa kali memenangkan lomba menulis opini dan esai. Di tahun 2011 juga, saya belajar menulis naskah buku. Kalau tidak khilaf, di tahun 2012 awal, Alhamdulillah saya sudah berhasil menerbitkan buku ilmiah islam populer.

Karena rasa keingin tahuan cukup tinggi, di tahun 2012 saya juga belajar menulis artikel ilmiah untuk dimuat di jurnal ilmiah. Lagi-lagi, saya ucapkan Alhamdulillah, satu artikel ilmiah yang saya tulis berhasil dimuat di salah satu jurnal ilmiah IAIN Wali Songo (Sekarang UIN Wali Songo). Di tahun 2015, saya juga mulai belajar menulis artikel untuk Blog Pribadi. 

Hingga saat ini, jenis tulisan yang saya geluti sebagai media belajar mengembangkan diri dan untuk hasilkan uang ialah, menulis resensi dan opini yang dikirimkan ke media massa (cetak dan online), menulis naskah buku (buku biografi tokoh, diktat bahan ajar di kampus, dan buku keislaman populer), dan artikel di Blog Pribadi (Blog Strategi dan Keuangan).

Nah, itu hanya contoh, bagaimana harusnya kita belajar dan menekuni satu jenis tulisan. Hingga kita mampu hasilkan satu jenis tulisan yang berkualitas dan bermanfaat bagi pembaca. Semoga, contoh tersebut bisa ditiru oleh guru-guru, dalam mempelajari dan berlatih menulis. 

Memahami Jenis Tulisan 

Sebelum kita terjun dan menekuni satu jenis tulisan, syarat utama yang harus kita ketahui ialah, pemahaman tentang jenis tulisan tersebut. Karena, adanya pemahaman atau pengetahuan tentang jenis tulisan tersebut secara menyeluruh, akan membuat kita gampang dalam hasilkan tulisan yang kita inginkan.

Untuk itu, saya coba memberikan penjelasan secara umum, dari beberapa jenis tulisan yang telah saya paparkan sebelumnya, mulai dari tulisan jenis sastra, opini, resensi buku, tulisan hikmah, hingga naskah buku. Mohon maaf, pengertian tersebut saya coba susun dengan bahasa pribadi yang yang lebih gampang untuk dipahami.

Pertama Sastra. Sastra merupakan jenis tulisan yang ditulis dengan menekankan pada gaya keindahan kata dan dibahasakan melalui cerita, dengan maksud menyampaikan pesan moril pada pembaca. Jenis tulisan sastra ada empat, yaitu: puisi, cerpen, novel, dan esai sastra.

Untuk ketebalan, jenis sastra ini berbeda-beda. Jika kita mengetik di leptop dengan ukuran A4 spasi 1,5, misalnya untuk jenis puisi berkisar 1 lembar, cerpen sekitar 3-4 lembar, esai sastra 4-8 lembar dan novel 100 lembar ke atas.   

Kedua Opini. Opini merupakan salah satu jenis tulisan ilmiah populer, yang isinya ialah realita dalam kehidupan sehari-hari, kemudian dipadukan dengan teori, dan diakhiri dengan pendapat ataupun saran pribadi si penulis. Jenis tulisan opini, ada dua jenis, yaitu tema bersifat sementara dan tema bersifat panjang.

Tema bersifat sementara ialah tema yang dikaitkan dengan kejadian-kejadian tertentu, yang sifatnya cukup pendek. Misalnya, meletusnya gunung merapi, banjir tahun 2013, penistaan agama, dan lain sebagainya.

tema bersifat panjang ialah tema-tema yang sifatnya dikaitkan dengan kejadian-kejaian yang terus-menerus terjadi sepanjang tahun. Misalnya, ketimpangan ekonomi, kemiskinan, ketidak adilan, dan lain sebagainya.

Panjang tulisan opini, rata-rata berkisar 2-4 lembar yang diketik di leptop dengan ukuran kertas A4 spasi 1,5. Namun, dari pengalaman yang saya geluti selama ini, untuk ukuran biasanya disesuaikan dengan media yang akan dikirimkan. Misalnya, saya ingin mengirimkan jenis opini ke Koran Jakarta, maka kita harus mengikuti karakter (panjang tulisan) sesuai yang ditentukan oleh Koran Jakarta.  

Ketiga Resensi Buku. Resensi buku merupakan jenis tulisan untuk menjelaskan, mengomentari, serta mengkritik buku. Mulai dari cara penulisan, isi buku, hingga cover buku yang ditampilkan. Intinya, kita berusaha menilai buku seobjektif mungkin, dari buku yang ditulis oleh seorang penulis.

Rata-rata, tulisan resensi berkisar 2-4 halaman. Hanya saja, panjang tulisan resensi biasanya disesuaikan dengan media massa yang akan kita tuju. Karena, tujuan seorang penulis menulis resensi ialah, untuk dikirimkan ke media massa. Kemudian mendapatkan honor dari media massa yang mau memuat resensi tersebut.

Keempat Tulisan Hikmah. Tulisan hikmah merupakan jenis tulisan yang menggunakan gaya bertutur dengan tujuan menyampaikan suatu pesan agama pada pembaca. Biasanya, tulisan hikmah ini dikaitkan dengan cerita-cerita yang ada dalam agama.

Jenis tulisan hikmah jika diketik di leptop dengan ukuran kertas A4 spasi 1,5 berkisar antara 2-4 halaman. Sama seperti opini dan resensi, jenis tulisan hikmah juga disesuaikan dengan media massa (online atau cetak) yang akan kita kirimi naskah tulisan hikmah kita.  

Kelima Naskah Buku. Naskah buku merupakan jenis tulisan yang dihasilkan dengan tema tertentu dengan tingkat ketebalan yang cukup tinggi. Naskah buku, biasanya disesuaikan dengan segmen pembaca yang akan menjadi target pasar. Misalnya, buku perguruan tinggi, buku bahan ajar di SD-SMA, buku  keislaman populer, buku motivasi, dan lain sebagainya.

Jenis tulisan berbentuk naskah buku, jika diketik di kertas ukuran kertas A4 spasi 1,5 biasanya lebih 100 halaman. Dan tingkat ketebalan ini penting untuk diketahui oleh penulis. Karena, tingkat ketebalan akan menentukan apakah naskah bukunya bisa diterima oleh penerbit ataupun tidak.

Gunakan Strategi ATM

Strategi ATM merupakan strategi yang cukup ampuh diterapkan oleh seorang guru dalam belajar menulis dari beberapa jenis tulisan yang telah saya sebutkan sebelumnya. Oh iya, saya belum menjelaskan apa ATM itu. Baiklah, saya akan coba menjelaskan apa yang dimaksud dengan ATM. ATM itu merupakan kepanjangan dari Amati, Tiru dan Modifikasi.    

Artinya, awal-awal kita belajar menulis, amati saja tulisan orang-orang yang sudah menulis jenis tulisan yang akan kita pelajari. Misalnya, Anda ingin bisa menulis jenis tulisan opini. Maka, coba saja baca tulisan opini di beberapa media massa (online atau cetak). Kemudian, amati struktur tulisannya, logika tulisan, hingga gaya penulisannya.

Setelah mengamati, tinggal meniru saja tulisan yang sudah ada di tangan Anda tersebut. Tentunya, meniru ya bukan menyalin. Karena, kalau menyalin berarti Anda melakukan plagiat. Sedangkan meniru, hanya meniru gaya, bahasa, dan logika berpikir. 

Selang beberapa lama kita meniru gaya tulisan orang lain, tugas selanjutnya ialah memodifikasi tulisan yang sering Anda baca. Modifikasi, bisa saja dengan menambah teori, memadukan teori, ataupun mencampurkan teori satu dengan teori yang lain.

Lakukanlah gaya ATM ini, hingga diri Anda sebagai guru yang belajar menulis, memiliki gaya khas dari tulisan yang dihasilkan. Karena seseorang akan mendapatkan gaya khas, setelah melalui proses berlatih cukup lama. Dan juga, banyak membaca tulisan  ataupun karya orang lain.

Marketing Naskah Tulisan

Ilmu marketing atau ilmu pemasaran itu, bukan hanya diperuntukkan untuk memasarkan produk atau jasa yang dihasilkan oleh seseorang lho. Tulisan yang kita hasilkan, juga perlu dipasarkan kepada yang lainnya, misalnya dipasarkan pada media massa (cetak atau online) dan penerbit.

Marketing naskah merupakan ilmu  bagaimana kita bisa memasarkan naskah tulisan yang kita miliki, agar bisa dimuat di media massa ataupun bisa diterbitkan menjadi buku jika naskah tersebut adalah naskah buku. Kemudian, kita sebagai penulis bisa mendapatkan honorarium dari tulisan yang telah dimuat ataupun yang telah diterbitkan oleh penerbit.

Untuk jenis tulisan opini, esai, resensi buku, dan tulisan hikmah, kita bisa memasarkannya pada media massa (cetak ataupun online). Tentu, sebelum kita memasarkan, kita harus mengetahui terlebih dahulu, apakah media massa tersebut menerima jenis tulisan yang kita hasilkan.

Jika tidak menerima jenis tulisan yang kita hasilkan, jangan sekali-kali kita mengirimkan ke media massa tersebut. Karena, sampai kapan pun jenis tulisan yang kita hasilkan tidak akan dimuat. Alias, naskah kita hanya mengendap di alamat email redaksi.

Oleh karena itu, sebelum kita mengirimkan tulisan, kita harus mengecek terlebih dahulu apakah media massa tersebut menerima tulisan jenis yang kita hasilkan tersebut atau  malah tidak. Kemudian, jangan lupa untuk mengoreksi jumlah karakter dari tulisan yang akan kita kirimkan. Karena, jumlah karakter menentukan dimuat atau tidak dimuatnya tulisan yang kita hasilkan.

Sedangkan untuk naskah buku, kita bisa memasarkannya pada penerbit buku. Dalam dunia penerbitan, ada dua jenis penerbitan, yaitu penerbitan mayor dan penerbitan indie. Penerbitan mayor merupakan penerbitan besar, dan biaya penerbitan hingga memasarkannya ditanggung oleh perusahaan.

Adapun penerbitan indie, merupakan jenis penerbitan, yang biaya penerbitan hingga pemasaran diserahkan kepada diri si penulis. Artinya, penulis menyediakan biaya, dan kemudian penulis tersebut yang nanti memasarkan buku yang telah dicetak.

Bagi Anda yang ingin menerbitkan naskah buku, tinggal pilih apakah ingin menggunakan penerbitan mayor ataupun indie. Bagi yang ingin menerbitkan pada penerbitan mayor, maka harus memilih penerbit yang memang sesuai temanya dengan naskah yang Anda miliki.

Dan bagi Anda yang tertarik untuk menerbitkan naskah buku dengan sitem indie, maka tinggal sediakan uang untuk menerbitkan, kemudian memasarkan buku yang sudah ada ke pembaca. Anda sendirilah yang akan menentukan, jenis penerbitan seperti apa yang akan dipilih nantinya.   

Penutup

Demikianlah bentuk-bentuk tulisan yang bisa di digeluti oleh guru yang ingin menulis. Masing-masing jenis tulisan, memiliki kekhasan tersendiri. Maka dari itu, bagi Anda yang ingin menekuninya, harus terlebih dahulu memahami dan menguasai seluk-beluk jenis tulisan yang ada.

Selamat mencoba...!