Indonesia sedang berduka.

Seperti yang diketahui, pada beberapa bulan terakhir di tahun 2018 ini, telah terjadi banyak bencana alam di Indonesia, salah satu yang terbesar seperti gempa di Lombok dan Palu. Jika mengingat kondisi dan letak geografis Indonesia, memang wajar bila terjadi bencana alam besar seperti tsunami, gempa dan gunung meletus. Namun, hal itu sebaiknya jangan sampai menyebabkan rakyat Indonesia hidup di bawah rasa cemas dan takut untuk tinggal di negeri ini. Mengapa. Karena pada dasarnya setiap tempat dimanapun negaranya memiliki tantangan alam tersendiri. 

Sebaliknya, pengetahuan dasar mengenai kondisi geografis Indonesia seharusnya membuat pemerintah dan masyarakat melakukan persiapan dan antisipasi sejak dini jika terjadi bencana.

Antisipasi itu sendiri ada banyak caranya, seperti bangunan tahan bencana, mempelajari tanda-tanda bencana, mengedukasi masyarakat, menyiapkan jalur evakuasi, dan masih banyak lagi. Salah satu bagian terpenting adalah jalur dan cara evakuasi. Tahukah anda siapa yang harus mendapatkan perhatian saat evakuasi? Kebanyakan orang akan menyebutkan orang tua, wanita dan anak-anak. 

Tentu saja itu sangat benar. Orang tua, wanita dan anak-anak tergolong dalam kelompok rentan saat bencana maupun pasca-bencana. Namun, dalam kelompol rentan ini terdapat satu lagi yang terkadang dilupakan masyarakat, yakni penyandang disabilitas.

Sebagai generasi muda, terutama yang tinggal di daerah-daerah rawan bencana, kita sering mendapatkan pelatihan atau seminar yang diadakan banyak organisasi mengenai cara tanggap darurat dan evakuasi bila terjadi bencana alam. Namun, saya memperhatian bila sebagian besar prosedur untuk menyelamatkan diri sendiri. Jarang ada yang mengajarkan atau memberitahu cara penyelamatkan para penyandang disabilitas saat terjadi bencana. Ini sangat memprihatinkan, karena sebenarnya yang terutama membutuhkan pertolongan di saat genting seperti adalah para penyandang disabilitas yang tentunya memiliki kekurangan untuk melakukan mobilitas dengan cepat.

Mengingat kondisi disabilitas yang berbeda-beda, saya yakin cara mengevakuasi setiap disabilitas berbeda-beda tergantung jenis disabilitasnya. Untuk mengatasi ini saya berpendapat ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

Pertama, ini sangat penting, agar para penyandang disabilitas mengetahui prosedur penyelamatan diri sendiri sesuai keadaan disabilitasnya masing-masing terlebih karena di saat-saat darurat seperti bencana semua orang pasti terfokus pada penyelamatan dirinya sendiri. Jadi, dengan mengetahui prosedur penyelamatan diri sendiri para difabel setidaknya mengetahui langkah-langkah dan dapat menerapkannya untuk menyelamatkan dirinya di saat terjadi bencana.

Kedua, pemerintah bisa menambahkan edukasi tentang prosedur penyelamatan penyandang disabilitas kepada masyarakat umum di samping prosedur penyelamatan diri sendiri. Setidaknya masyarakat tahu cara evakuasi disabilitas yang umum seperti kelumpuhan, kebutaan, tuli, bisu, dan sebagainya. Dengan pengetahuan itu diharapkan masyarakat dapat mengetahui langkah yang tepat untuk menolong penyandang disabilitas.

Ketiga, dibentuknya organisasi atau komunitas di setiap daerah yang memfokuskan diri untuk mengedukasi keluarga-keluarga yang ada salah satu anggotanya penyadang disabilitas maupun komite masyarakat mengenai cara-cara evakuasi untuk korban difabel. Terutama, untuk keluarga-keluarga tersebut agar diajari secara spesifik sesuai jenis disabilitas anggotanya sehingga mereka bisa cepat tanggap menolong anggota keluarganya tersebut. Sedangkan untuk komite masyarakat setempat, akan sangat baik bila setiap RT memiliki setidaknya satu orang yang mengerti seluruh prosedur evakuasi untuk semua penyandang disabilitas.

Keempat, selain anggota keluarga, seharusnya ada minimal dua orang teman atau orang lain selain keluarga yang juga mendapatkan edukasi mengenai cara mengevakuasi rekannya yang merupakan penyandang disabilitas tersebut.

Kelima adalah perbaikan prasarana dari pemerintah dan juga menerapkan sesuai standart yang berlaku untuk menyiapkan jalur evakuasi bagi penyandang disabilitas, terutama di tempat-tempat umum seperti pasar, mal, gedung pemerintahan, gelanggang olahraga, dan lain-lain.

Melalui setidaknya lima cara itu diharapkan tingkat keselamatan para penyandang disabilitas bisa menjadi lebih tinggi. Nah, sudah disebutkan pada poin pertama bahwa para penyandang disabilitas harus memiliki setidaknya pengetahuan dasar untuk menyelamatkan diri karena meskipun kelima poin di atas sudah dipenuhi, tak terpungkiri memang dalam keadaan terjadi bencana sangat manusiawi bila orang tidak sempat memikirkan orang lain, termasuk keluarga, dan hanya terfokus pada penyelamatan diri sendiri. Untuk itu, berdasarkan pernyataan BPBD Unit Layanan Inklusi Disabilitas Jawa Tengah, secara garis besar, cara evakuasi penyandang disabilitas dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni untuk yang tidak memiliki hambatan mobilitas dan yang terhambat.

Bagi orang yang tidak memiliki hambatan mobilitas dapat langsung berlari ke arah tempat terbuka. Sedangkan untuk yang memiliki hambatan mobilitas dapat melakukan prinsip DCH.

Apa itu DCH? DCH adalah  Drop-Cover-Hold. Drop maksudnya lakukan tindakan menelungkup atau berguling di tanah terbuka. Cover artinya penyandang disabilitas melindungi bagian atas tubuh (kepala, dada dan punggung) dengan benda yang dapat merendam tumbukan. Akan lebih baik bila bisa berguling ke bawah tempat tidur. Sedangkan Hold artinya berpegangan ke benda yang fondasinya kuat seperti pohon. Lebih baik tidak berpegangan ke pintu atau jendela yang rawan pecah dan dapat melukai orang tersebut.

Setelah terjadinya bencana, maka akan ada masa pasca-bencana. Keadaan pasca-bencana juga merupakan salah satu saat-saat paling kritis bagi penyandang disabilitas. Pasca-bencana adalah saat-saat dimana para korban bencana masih berada dalam kondisi yang tidak stabil secara fisik, sosial maupun psiokologi. Saat itu para korban secara umum masih dalam proses memulihkan diri mereka masing-masing sehingga cenderung tidak memiliki ruang untuk memperhatikan sesamanya kecuali dalam keadaan kritis. 

Begitu pula bagi penyandang disabilitas. Akibat yang mereka alami sama beratnya dengan kelompok rentan lainnya. Berat bagi mereka secara psikologis karena harus mengalami kondisi darurat dimana mereka memiliki keterbatasan untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dan sulit juga meminta orang lain untuk membantu mereka menyelamatkan diri.

Oleh karena itu, sudah merupakan kewajiban pemerintah untuk memberikan perlakuan khusus kepada para penyandang disabilitas berupa penyediaan aksesbilitas dan akomodasi yang layak dalam bentuk fisik maupun non-fisik serta rehabilitasi, jaminan, pemberdayaan dan sosial sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Persoalan disabilitas pasca-bencana ini tidak hanya terhenti untuk orang-orang yang sudah menyandang disabilitas sejak sebelum terjadi bencana, tetapi seharusnya teruntuk juga kepada orang-orang yang awalnya normal namun oleh karena satu-dua hal selama bencana sehingga menjadi penyandang disabilitas. Orang-orang ini amat rentan secara psikologis karena perubahan besar tersebut dalam hidupnya. Terutama untuk kelompok rentan seperti anak-anak dan wanita.

Implikasinya hal tersebut sangat besar, sebagai contoh; laki-laki sebagai kepala rumah tangga dapat kehilangan pekerjaannya. 

Tahukah kamu bahwa efek sangat merugikan bagi kaum wanita. Menurut data hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga SAPDA (Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak) sejak tahun 2009 sampai dengan 2011 (Andriani, 2011) menyebutkan bahwa hampir semua perempuan yang menikah dan menjadi penyandang disabilitas karena gempa ditinggalkan oleh pasangannya baik itu secara resmi maupun dikembalikan ke keluarganya tanpa kejelasan status. 

Mereka yang tidak ditinggalkan pasangannya kerap menerima kekerasan dalam rumah tangga dan dieksploitasi secara ekonomi oleh suaminya karena mereka mendapatkan bantuan sosial secara rutin dari pemerintah dan dari lembaga sosial lainnya. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa dari tujuh responden yang belum menikah ketika menjadi disabel baru, hanya satu perempuan yang tidak ditinggalkan oleh pasangannya dan menikah pada tahun 2011.

Efek traumatis besar pasti juga akan dialami anak-anak, dimana mereka yang seharusnya menghabiskan masa kecil dengan mobilitas tinggi mengalami hambatan dalam mobilitasnya.

Oleh karena itu, pemerintah diharapkan juga memberikan pemberdayaan yang memadai untuk orang-orang yang menjadi difabel pasca-bencana. Hal ini menuntut perhatian khusus agar mereka mendapat pemberdayaan yang layak sehingga dapat melanjutkan kehidupan mereka dengan normal.

Itulah uraian keterkaitan penting implikasi bencana terhadap disabilitas. Diharapkan dengan ini akibat yang dialami para penyandang disabilitas dari bencana dapat diminimalisasi dengan mengetahui dasar-dasar prosedur penyelamatan diri seperti berlari ataupun prinsip DCH.

Juga melihat lewat kacamata lain, tentang keadaan pasca-bencana yang sangat rentan bagi kaum disabilitas dan terutama bagi orang normal yang menjadi penyandang disabilitas setelah bencana terjadi. Karena itu juga diharapkan agar pemberdayan dan rehabilitas terhadap kaum disabilitas setelah bencana diberikan perhatian khusus agar mereka dapat menjalankan kehidupan kembali dengan normal.