Pada suatu siang di Glasgow, Skotlandia, penulis dijamu oleh kolega, seorang kandidat doktor. Kami membicarakan berbagai hal. Dari urusan beasiswa, lika-liku hidup di luar negeri, hingga ilmu-ilmu rumah tangga. Maklum, beliau sudah berkeluarga, dan insyaallah, penulis akan menyusul. 

Namun, ada satu pembicaraan yang teringat betul. Ialah tentang David Hume dan al-Ghazali. Keduanya, kata beliau, tidak melihat dunia dari kacamata sebab-akibat. Kok bisa? Pikir penulis kala itu.

David Hume (1711-776) ialah filsuf produk Pencerahan Skotlandia, suatu periode penting ketika ilmu pengetahuan berkembang cepat dan pesat di bagian utara Pulau Britania tersebut. Empat universitas — St. Andrews, Glasgow, Edinburgh, dan Aberdeen — didirikan pada masa itu. Adam Smith yang dikenal sebagai “bapak ekonomi” hidup pada masa itu.

Sedangkan Imam al-Ghazali (1058-1111) adalah salah satu pemikir terbesar dalam sejarah intelektual Islam. Dia seorang filsuf dan sufi — dua kategori manusia yang mungkin mencari kebenaran dengan jalan berbeda, rasionalitas dan intuisi. Sebagaimana Hume, al-Ghazali juga merupakan produk di mana universitas mulai berkembang — dalam hal ini di dunia Islam — dengan mengepalai jabatan semisal rektor di Nizamiyyah.

Sedikit bercerita, penulis baru mendengar bahwa Hume dan al-Ghazali memiliki titik temu pemikiran. Keduanya tidak melihat dunia dalam hukum kausalitas. Hanya karena kita sering melihat Y terjadi setelah X, belum tentu X menyebabkan terjadinya Y. Ini unik, karena dalam dunia pendidikan, ada kecenderungan untuk melatih siswa dengan nalar kausalitas. Kan kalau dalam menulis semacam skripsi itu selalu ditanya mana variabel bebas dan terikatnya.

Di luar konteks akademik, seperti penulis, Anda mungkin pernah bertanya, kenapa sesuatu terjadi, kenapa ini dan itu ada, kenapa jalan hidup manusia begini dan begitu? 

Karena tumbuh dalam psiko-milieu kultur Islam, penulis tentu juga bertanya, apakah kejadian-kejadian itu disebabkan oleh hukum alam, kehendak manusia, atau sudah digariskan demikian adanya oleh Tuhan? Tidak berani penulis mengatakan kalau jawabannya sudah ditemukan, tetapi bertemu dengan pemikiran yang menegasikan sebab-akibat, mungkin adalah salah satu shirat al-mustaqim personal.

Cukup lama teka-teki kausalitas itu tidak terusik. Namun, selang beberapa jam setelah pulang ke Indonesia, peristiwa gempa bumi terjadi di Palu. Ketika itu yang terpikir bukan soal penyebab gempa. Sama sekali tidak terlintas mengapa gempa terjadi. Hal yang cepat terpikirkan adalah bagaimana kondisi di sana, baik manusia maupun alamnya. 

Apakah banyak korban jiwa? Apakah disusul oleh tsunami? Tidak mutlak memang, tetapi penulis yakin bukan satu-satunya yang cenderung memikirkan akibat ketimbang sebab. Entah karena kurang terlatih mencari sebab, atau karena pernah punya pengalaman dengan gempa bumi dalam tahun-tahun lampau.

Beberapa hari setelah itu, beriringan dengan banyaknya saudara-saudara berjiwa sosial tinggi yang membukakan jalan untuk membantu korban, ada hal yang sedikit mengganggu pikiran. Beberapa konten di media sosial langsung mengaitkan gempa bumi dengan dosa manusia. Singkatnya begini, ada kausalitas antara dosa sebagai sebab dan bencana sebagai akibat. Bahkan, ada yang melihat hubungan pemimpin dan negeri tempat terjadi bencana yang dipimpin.

Siapa pun berhak mengambil posisi. Satu spektrum melihat itu tidak masuk akal. Toh, kalaupun orang di negeri X banyak dosanya, lalu ada bencana, mengapa negeri Z, yang jauh lebih terang-terangan ingkarnya, hidup damai dan sentosa? 

Ujung spektrum yang lain melihat itu sangat berkaitan. Bahkan mereka mengutip pernyataan tokoh religius. Ada yang melihat gempa bumi sebagai azab. Ada yang bersikeras, bahwa semua mesti dinilai secara nalar, melihat bahwa peristiwa itu terjadi akibat pergerakan lempeng yang kian tak terprediksi. Daripada ribut menuduh siapa berdosa, kalangan ini lebih mementingkan mitigasi bencana dan semacamnya.

Menurut hemat penulis, kedua pandangan ada benarnya. Satu sisi, kita dituntut untuk melihat suatu peristiwa dengan nalar yang sehat. Artinya berbekal data empiris dan metode ilmiah. Gempa bumi dan peristiwa lainnya, bisa dipelajari. Dari sana manusia bisa merencanakan persiapan kesiapsiagaan bencana. 

Namun, di sisi lain, sebagai manusia yang berketuhanan, peristiwa apa pun, sekecil apa pun, senantiasa diliput dengan perenungan. Jika hal buruk terjadi, apa yang telah manusia perbuat, dan apa yang kedepannya bisa diperbuat? Bagaimana hal positif bisa dipetik dari setiap kejadian tak menyenangkan?

Dalam kaitanya dengan kausalitas, ada hal tertentu yang dapat kita ketahui sebab dan akibatnya. Namun, ada hal lain yang sifatnya probabilitas, belum pasti, dan relatif. Adagium berkata hal yang pasti hanyalah ketidakpastian.

Belakangan, dengan membaca tulisan Quraish Shihab, Islam yang Saya Pahami (2018), penulis sedikit mendapatkan kelegaan. Penjelasan beliau soal Hukum Sebab-Akibat (pp. 40–44) dapat menjadi salah satu pijakan penulis dalam memahami takdir manusia. 

Secara sederhana, beliau menguatkan apa yang telah dibicarakan Hume dan al-Ghazali. Sebab selalu terjadi berbarengan dan atau sebelum akibat. Namun, hakikatnya, sebab belum tentu melahirkan akibat. Dalam konteks ilmiah, selalu terbuka kemungkinan bahwa ada faktor lain di luar faktor yang telah kita ketahui yang dapat mendahului suatu perkara. Dalam konteks religius, sebab tidak dapat berdiri sendiri karena kehendak Tuhan.

Biasanya Tuhan berkehendak bahwa api menjadi sebab dari terbakarnya sesuatu. Namun, dalam riwayat hidup Nabi Ibrahim, Tuhan menunjukan bahwa Dia menghendaki api tidak lagi menjadi sebab dari terbakarnya sesuatu. Seperti yang dikenal di kalangan Muslim, Nabi Ibrahim bahkan tidak merasakan panas sedikitpun ketika menjalani hukuman bakar.

Kembali merefleksikan kepada berbagai bencana yang terjadi, tidak mungkin hal itu terjadi tanpa kehendak Tuhan. Dia bisa mengizinkan lempeng bumi mana pun untuk menjadi sebab atas gempa bumi di negeri apa saja. Untuk itu manusia dituntut untuk mempelajari bencana. Entah itu memprediksinya, memperhitungkan dampaknya, menghitung kerugian materinya, atau mencegah lebih banyak kerusakannya.

Namun, yang perlu juga diingat, Tuhan juga berkuasa untuk tidak mengizinkan hal apapun sebagai sebab. Bahkan, Tuhan berwenang untuk memberi dan tidak memberi bencana kepada siapapun. Untuk itulah, dalam kegigihan usaha kita menyelamatkan kehidupan, ada pula doa-doa kita panjatkan sebagai bentuk permohonan agar menjauhkan kita dari kengerian bencana tersebut.

Terakhir, siapa pun bebas untuk berpandangan. Namun, semoga saja, Hume, al-Ghazali, dan Quraish Shihab dapat menjernihkan pikiran untuk melihat takdir dengan akal dan hati.