Enam tahun yang lalu kira-kira, ketika saya masih duduk di bangku Madrasah Aliyah di Kota Cilegon. Tepat pada bulan Ramadhan, di Madrasah sedang mengadakan pesantren kilat yang menjelang berbukanya selalu diagendakan tausiyah berisi sebuah refleksi bulan Ramadhan oleh Ketua Yayasan. Tepat di hari itu pula, Selat Sunda sedang bergejolak dengan gunung api Krakataunya yang sedang aktif siaga satu. Maka, salah satu yang saya amini menjelang berbuka adalah doa panjang penuh haru semoga Allah Swt selalu senantiasa melindungi kita semua dari bencana alam gunung api tersebut atau bencana apa pun yang ada di bumi ini.

Dari fenomena tersebut, wujud dari ketaatan manusia adalah berbentuk ketika manusia masih menaati peraturan dan menjaga alam, yang di mana alam dan manusia adalah sebagai makhluk ciptaan Sang Khalik –Tuhan. Negasi dari ketaatan tersebut adalah datangnya malapetaka atau bencana sebagai jawaban atas manusia yang sudah melanggar dan tidak menaati hukum yang sudah ditetapkan Tuhan.

Dalam konteks ini, masyarakat adat Baduy mempercayai hal tersebut, dalam beberapa jurnal dijelaskan tentang berbagai macam pikukuh atau ketentuan adat yang harus ditaati oleh seluruh masyarakat adat. Banyak sekali tabu atau pantangan ketat yang tidak boleh dilanggar, maka ketika pelanggaran mereka lakukan bakal ada bencana yang akan datang dalam bentuk apapun. Contoh bencananya semisal dalam bentuk panen yang gagal, tanah longsor dan banjir–karena secara geografis pemukiman masyarakat adat Baduy adalah pegunungan dan dilewati oleh sungai-sungai besar, bahkan sampai kebakaran.

Dalam Islam sendiri pun dijelaskan dalam al-Quran, dalam Quran Surat al-A’raf ayat ke 96 yang artinya “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Allah Swt akan selalu bersama manusia yang beriman dan bertakwa kepada-Nya –wujud keimanan dan ketakwaan ini bisa dalam bentuk apapun; menjaga lingkungan hidup misalnya, akan tetapi ketika manusia sudah melanggar –ayat-ayat Kami; dalam konteks ini bisa diartikan dengan merusak alam dan seisinya, maka Allah Swt. akan menurunkan bencana atau melapetaka sesuai dengan apa yang manusia lakukan.

Akan tetapi, dalam pandangan materialistik; manusia dan kepentingannya dianggap sebagai kendali utama menentukan tatanan ekosistem dan kebijakan yang berkaitan dengan alam, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Karena, pandangan materialistik ini bertitik tolak pada pandangan antroposentis yang beranggapan bahwa manusia sebagai pusat dari segala sesuatu dan alam dan seisinya ini akan bermakna hanya untuk penunjang dan kepentingan manusia semata.

Ketika pandangan materialistik ini mulai dijadikan pedoman acuan manusia sebagai kaca mata melihat alam dan seisinya, dalam puluhan tahun kedepan mungkin anak dan cucu saya nanti sudah tidak bisa melihat pohon bambu atau rerimbunan pohon di bukit tepat belakang rumah. Karena alam dan seisinya adalah penunjang dalam melanjutkan hidup sebagai manusia ekonomis, bukan manusia sebagai salah satu anggota komunitas ekologis.

Jika sudah seperti ini, bencana alam sudah bisa dibilang sebagai human eror, bukan sebagai takdir Tuhan yang masih dipercayai oleh beberapa masyarakat lokal diberbagai daerah Indonesia. Maka masyarakat penghuni kota yang hidupnya berdampingan dengan berbagai macam suku, etnis dan budaya, sudah tidak sempat lagi memikirkan nasib alam ini seperti apa kedepannya.

Dengan ini, banyak hal yang ditawarkan oleh berbagai macam kalangan ketika kita mulai asyik di-nina bobo-kan oleh produk-produk instan penunjang kehidupan. Maka dalam hal ini, karena pola hidup masyarakat yang sudah mulai bergeser, maka bencana hanya perihal kerusakan fisik. Cara menanganinya pun adalah dengan cara mendatangkan para arsitek bangunan tahan gempa dari luar negeri, membuat alat pendeteksi dini tsunami, dls.

Berbeda dengan masyarakat yang masih menganut paham panteistik, segi yang tekankan dalam paham ini adalah sebuah pemeliharaan alam atau lingkungan tidak hanya demi manusia semata, melainkan untuk seluruh ciptaan-Nya. Maka, manusia menjaga alam untuk kepentingan bersama. Dalam konteks ini, bencana menjadi wajah yang feminin dan penanganannya pun tidak terlepas dari kasih sayang Tuhan serta kearifan manusia tersebut.

Bencana bisa dibendung dengan kebiasan-kebiasaan hidup yang spele seperti menjaga dan melestarikan alam, bahkan bisa dicegah dengan ritual-ritual keagamaan –keimanan kita sebagai makhluk; menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Bahkan, Prof. Oman Fathurrahman, M.Hum ahli filologi di Indinesia yang sudah 25 tahun berburu dan mengkaji manuskrip Islam Nusantara, dari ratusan manuskrip yang ditemukan ada beberapa manuskrip perihal gempa dan tsunami, manuskrip Takwil Gempa di Aceh, Minangkabau dan Cirebon. Naskah tersebut bernama Lindu, yaitu naskah yang didalamnya menjelaskan perihal gempa dan tsunami terjadi di Indonesia.

Kebanyakan masyarakat Indonesia yang tidak mau direlokasi ketika bencana tersebut berlangsung, maka dalam manuskrip tersebut juga diceritakan, bagaimana masyarakat menyelamatkan diri sesuai local wisdom masing-masing. Ketika gempa, tsunami atau bencana apapun yang menimbulkan korban jiwa. Di tempat yang sama, mereka akan kembali lagi untuk memulai hidup dari awal, tempat di mana mereka kehilangan anggota keluarga beserta harta benda.

Inilah dimensi lain yang menarik dari masyarakat Indonesia, masyarakat yang masih kental dengan budaya dan agama. Memandang bencana dengan sangat sederhana, sehingga orang menerima dengan ikhlas dan sabar. Ada persepsi terhadap risiko yang membuat masyarakat Indonesia itu begitu kuat, yaitu masyarakat yang tidak selalu memandang risiko sebagai hitungan kalkulasi, karena kita masih menyimpan kepercayaan bahwa bencana hanyalah perihal kepercayaan atau takdir.