Beberapa waktu lalu viral video para santri yang menutup telinga ketika sedang menunggu antrian vaksinasi di sebuah tempat yang sampai saat ini belum diketahui lokasinya. Aksi ini dilakukan karena pada saat yang sama sedang diputar lagu barat di ruang vaksinasi itu.

Video yang beredar kurang dari 23 detik tersebut menjadi polemik ketika fotonya di-posting kembali oleh salah seorang Staf Khusus Presiden Diaz Hendropriyono dengan komentar bahwa para santri menutup telinga itu telah diberikan pendidikan yang salah sehingga tidak bisa menikmati kegembiraan.

Kontan saja komentar Diaz tersebut mendapat serbuan dari para nitizen. Ada yang kontra dan ada pula yang pro. Mereka yang kontra bersuara miring dan berpendapat bahwa santri itu telah didoktrin paham intoleransi melalui pengharaman musik.

Sementara mereka yang pro justru membela para santri dengan men-judge bahwa mereka adalah penghapal al-qura’an yang sedang menjaga hapalannya. Mereka menduga santri tersebut sedang muraja'ah sehingga takut kalau hapalannya hilang ketika mendengar musik yang nonislami.

Trend-nya santri tutup telinga pun berlanjut menjadi parodi di dunia maya. Sampai hari ini parodi itu semakin banyak dilakukan siapa saja, bahkan telah dijadikan challenge untuk berlomba membuat video tutup telinga sehingga semakin beredar luas di media sosial.

Perdebatan video tentang tutup telinga challenge harus membuat kita merenung. Sebenarnya yang disasar dari aksi tersebut bukanlah tutup telinganya, tapi mempermasalahkan aqidah para santri. Dua poin pentingnya yang menjadi sorotan adalah hapalan al-qur’an dan musik.

Mengenai hapalan al-qura’an, beberapa kyai dari pondok pesantren dan Majelis Ulama Indonesia buka suara. Ustaz Amin Syofyan pimpinan Pesantren Tahfidz Abdurrahman Basuri Indramayu mengatakan bahwa menutup telinga ketika mendengar musik bertujuan untuk menjaga hapalan.

Sementara Wakil Sekjen MUI, Ustad M. Ziyad berpendapat sama bahwa hal itu bukanlah soal paham radikalisme yang melarang musik. Menurutnya hapalan al-qur’an harus dijaga dari mendengar hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi seperti musik, karena musik dapat menempel dalam ingatan.

Hal yang berbeda dapat kita amati di Pondok Modern Darussalam Gontor. Di pesantren ini musik adalah seni. Menurut mereka, seni merupakan anugerah dari Allah sebagai fitrah manusia. Dengannya orang menjadi senang, terhibur, dan akhirnya sehat dan kuat menjalankan ibadah.

Di Gontor sendiri ada beberapa grup musik seperti seni hadroh yang bernafaskan Timur Tengah, Sidasa Band dan Mahadasa Band yang beraliran pop, ada pula yang beraliran keroncong, dangdut, dan lainnya. Bahkan hampir seluruh pesantren memasukkan musik seperti Rebana ke dalam kurikulumnya.

Fakta ilmiah mengatakan bahwa musik dan hapalan saling berkorelasi antara satu dengan lainnya. Peneliti berbeda pendapat tentang pengaruh musik terhadap memori. Namun sebagian besar hasil penelitian menyatakan terdapat pengaruh negatif yang sangat signifikan. Salah satu penelitian yang populer berikut ini membahas pengaruh musik terhadap hapalan seseorang.

Dikutip dari European Journal of Social Sciences Education and Research, Arian Musliu (2017), bersama 4 orang peneliti lainnya dalam penelitian yang berjudul The Impact of Music in Memory melakukan eksperimen kepada 74 orang siswa yang berumur 17 s/d 22 tahun.

Setelah diketahui minatnya terhadap musik, 74 siswa itu dibagi menjadi 2 kategori. Kategori pertama ada 43 siswa hanya suka 1 jenis musik saja, sementara kategori kedua ada 31 siswa suka musik genre R&B. Dari 74 siswa yang diteliti ini terdapat 40 siswa yang suka belajar sambil mendengarkan musik dan sisanya 34 siswa suka belajar tanpa musik.

Untuk keperluan tes selanjutnya, 74 siswa dibagi lagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok tanpa musik, kelompok dengan musik liris, dan kelompok dengan musik melodis. Kelompok pertama diberi tugas menghapal tanpa alunan musik. Sementara kelompok kedua dan ketiga diberi tugas menghapal sambil mendengarkan musik sesuai jenis musik kelompoknya.

Hapalan dilakukan melalui 4 tes berturut-turut. Tes pertama menghapal 50 suku kata tanpa arti, tes kedua masih menghapal 50 suku kata tanpa arti, tes ketiga menghapal 12 bait puisi acak, dan tes keempat menghapal 50 urutan angka yang berbeda. Tes berlangsung selama 5 menit dan setelah menghapal setiap siswa diminta untuk menuliskan seberapa banyak yang mereka ingat.

Melalui pembahasan penelitian, ditemukan bahwa 3 kelompok siswa tersebut masing-masing memiliki nilai yang berbeda. Pada tes pertama dan kedua kelompok tanpa musik mendapat nilai akhir 1,9 dan kelompok dengan musik liris mendapat nilai 1,0 sehingga kelompok tanpa musik unggul 0,9 poin.

Pada tes yang ketiga kelompok tanpa musik masih unggul 2 poin. Kelompok tanpa musik mendapatkan nilai 8,1 dan kelompok dengan musik liris mendapat nilai 6,2. Pada tes yang terakhir, kelompok tanpa musik tetap unggul dengan nilai 8,1 dan kelompok dengan musik melodis mendapat nilai 6,3, sehingga secara total nilai kelompok tanpa musik selalu lebih unggul di setiap jenis soalnya.

Hasil penelitian disimpulkan bahwa menghafal sambil mendengarkan musik tidak efektif bila dibandingkan dengan menghafal tanpa musik. Oleh karena itu para peneliti ini memberi saran untuk tidak mendengarkan musik ketika membaca, apalagi jika tujuannya untuk menghafal bacaannya.

Mendengarkan musik tidak hanya mengaktifkan satu sisi otak saja, melainkan ada sisi emosional yang turut dipengaruhi. Jika emosi yang sangat dibutuhkan untuk membentuk kekuatan proses mengingat kembali tidak stabil, maka gelombang alfa yang berfungsi meningkatkan atensi dan merangsang endorfin tidak akan keluar dan bekerja dengan baik.

Akhirnya musik terbukti memengaruhi hapalan seseorang. Ini berarti menutup telinga ketika mendengar musik adalah hal yang wajar dilakukan, karena musik memang sangat mengganggu konsentrasi. Antara musik dan hapalan adalah gambaran fungsi kerja otak yang dilakukan dengan aktivitas yang sama namun dengan waktu yang berbeda.

Bermain musik memang tidak pernah dilarang dalam dunia pesantren. Begitu juga menghapal al-qur’an yang merupakan mata pelajaran wajib untuk setiap santri. Namun demikian musik dan hapalan tidak pernah dilakukan secara bersamaan. Apalagi kalau rutinitas menghapal itu dilakukan di luar pesantren.

Apa yang kita lihat dari viralnya santri tutup telinga bukanlah aksi intoleran. Justru para santri memperlihatkan sikap yang sebaliknya. Coba anda bayangkan jika santri itu intoleran, mereka pasti sudah meminta musik itu dimatikan atau mereka memaksa dengan melakukan bentuk kekerasan lainnya.

Dengan begitu polemik tentang hapalan dan musik pun bukan tentang paham radikalisme. Orang yang mengatakan bahwa santri disusupi paham radikalisme terlalu mengada-ada. Mereka hanyalah buzzer, orang-orang yang mencari keuntungan dan makan dari hasil berdengung. Tidak perlu risau dan ditanggapi.