Pesatnya perkembangan Islam masa kekhalifahan Umayyah menjadi awal ekspansi Islam hingga ke tanah Eropa di Semenanjung Iberia (Andalusia). Bahkan, Kordoba menjadi ibukota kekhalifahan dan pusat ilmu pengetahuan yang berhasil melahirkan ilmuwan sekelas Abbas Abu al-Qasim bin Firnas ibn Wirdas al-Takurini, Abu Ishaq Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash al-Zarqali al-Tujibi, dan yang terakhir Abu Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusd (Averroes).

Namun, kekhalifahan Umayyah hanya bertahan kurang dari satu abad hingga tahun 750 M yang dilanjutkan oleh keamiran Kordoba (756-929 M), kekhalifahan Kordoba (929-1031 M), hingga terbagi menjadi Taifa atau kerajaan kecil (1031-1492 M).

Kebanggaan akan kemajuan peradaban Islam seakan hilang sirna hingga beralihnya citra Islam yang getol menyebarkan teror dan kekejaman di seluruh dunia. Termasuk di wilayah turunnya ajaran Islam itu sendiri.

Lalu, bagaimanakah perkembangan dan penyebaran Islam pada masa sekarang? Apakah terhenti begitu saja? Apakah warga dunia semakin takut dengan adanya orang Islam di antara mereka?

Dalam kiprah penyebaran Islam ke seluruh dunia, kita tidak bisa menutup mata atas prestasi yang dicapai oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah. Setidaknya dua negara baru bertambah setiap tahunnya dan 2 juta orang bergabung ke dalam Jamaah Muslim Ahmadiyah dalam tiga tahun terakhir. Kini, Jamaah Muslim Ahmadiyah telah berdiri di 212 negara yang pada tahun ini bertambah Timor Leste dan Georgia.

Ketika penolakan dan islamofobia merajalela di negeri Barat, Ahmadiyah justru diterima dengan baik di sana. Namun, Ahmadiyah sendiri dipersekusi dan dimarjinalkan di berbagai negara Islam dan negara mayoritas Islam seperti di Pakistan, Indonesia, dan Malaysia.

Hal ini berbanding terbalik dengan penerimaan dengan tangan terbuka oleh warga Barat yang kebanyakan di antara mereka tidak menaruh perhatian khusus kepada agama bahkan banyak di antara mereka yang tidak beragama.

Ketika citra Islam semakin buruk seperti sekarang ini, Jamaah Muslim Ahmadiyah malah semakin rajin mendirikan masjid-masjid di negeri Barat. Baru-baru ini, Jamaah Muslim Ahmadiyah meresmikan 3 masjid baru di Amerika Serikat: Masjid Baitul Afiyat di Philadelphia, Pennsylvania, Masjid Baitus Samad di Baltimore, Maryland, dan Masjid Masroor di Manassas, Virginia. Bahkan Masjid Baitul Afiyat merupakan masjid terbesar di kota Philadelphia.

Pendirian ketiga masjid ini pun diterima dengan baik oleh warga Amerika Serikat tanpa ada penolakan sedikitpun. Tanpa ada kekhawatiran penyebaran Islam akan menjadi masalah meningkatnya aksi terorisme atau kekerasan di sana. Malah peresmian masjid ini dihadiri oleh pejabat, wartawan, dan warga sekitar tanpa ada rasa ketakutan sedikit pun ketika berada di tengah-tengah umat Islam.

Walikota Philadelphia Jim Kenney pun hadir dan memberi sambutan ketika peresmian Masjid Baitul Afiyat pada 19 Oktober 2018. Dalam sambutannya, Jim Kenney mengatakan:

I think that God sent us the mosque to this city. I really do think that what we are struggling and difficult with can be helped by positive people and positive role models who can show our children the right way. We can eliminate our education problems and violence if we turn to each other, respect each other, love each other and show that we can all live in harmony together.  

Kata-kata Jim Kenney ini sungguh penuh makna dan harapan bahwa warga Amerika Serikat khususnya di Philadelphia ingin hidup harmonis bersama dengan latar belakang agama apapun. Benar rasanya jika ia mengatakan “We can eliminate our education problems and violence if we turn to each other, respect each other, love each other and show that we can all live in harmony together.

Ketika dunia Islam menunjukkan sikap saling benci di antara negara Islam sendiri, warga Barat tetap mengharapkan hidup harmonis dengan saling menghargai dan saling mencintai.

Harapan Jim Kenney sebagai Walikota Philadelphia bukan tidak mungkin dilakukan oleh umat Islam. Itu pulalah yang dilakukan oleh Jamaat Muslim Ahmadiyah di seluruh belahan dunia.

Semua anggota Jamaah Muslim Ahmadiyah di 212 negara menunjukkan hal yang sama yaitu tidak membenci siapapun bahkan menyayangi semua insan bahkan kepada mereka yang mempersekusi.

Dengan cara inilah Ahmadiyah bisa diterima di banyak negara di dunia. Bukan dengan berjihad secara fisik tetapi berjihad dengan jalan lain yaitu menyebarkan pesan perdamaian dan mendirikan masjid-masjid di seluruh dunia.

Penyebaran Islam oleh Khalifah Jamaah Muslim Ahmadiyah

Jika umat Islam di seluruh dunia mendambakan berdirinya kekhilafahan atau negara khilafah, Jamaah Muslim Ahmadiyah telah memilikinya dengan kini dipimpin oleh Khalifah ke-V yang bernama Hazrat Mirza Masroor Ahmadaba.

Namun, kekhilafahan Jamaah Muslim Ahmadiyah berbeda dengan apa yang dimaksud oleh umat Islam pada umumnya yang mengedepankan kiprah politik.

Kekhilafahan Jamaah Muslim Ahmadiyah berfokus pada pengembangan dan perbaikan rohani umat Islam dan seluruh umat manusia supaya memiliki kedekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sebab ketika kedekatan dan keimanan umat manusia kepada Tuhan itu pudar, maka perilaku duniawi akan merajalela. Tidak heran peperangan dan menghilangkan hak-hak manusia terjadi di dunia bahkan di negara-negara Islam sendiri.

Penyebaran Islam ke dunia Barat oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah diinisiasi oleh Khalifah ke-II yaitu Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmadra. Pada tahun 1915, ia menugaskan Maulana Qazi Muhammad Abdullah, B.A., B.T. untuk menyebarkan Islam ke Inggris hingga tahun 1919.

Pada tahun 1920, beliau juga menugaskan Dr. Mufti Muhammad Sadiq untuk bertabligh di Amerika Serikat dan menerangkan miskonsepsi mengenai Islam. Ia mengakui bahwa bahasa Inggrisnya tidak sempurna tetapi di Amerika Serikat ia banyak mengadakan syiar dan ceramah dalam bahasa Inggris.

Tetapi berkat keteguhan hatinya, ia berhasil menerima 6 orang yang baiat ke dalam Islam yang sebelumnya beragama Kristen pada tahun pertama ia bertugas di sana. Selama masa tugasnya, ia berhasil menerima kurang lebih tujuh ratus orang ke dalam Islam yang mayoritas berasal dari ras Afrika-Amerika.

Ia pun mendirikan masjid pertama di Chicago yang pada waktu itu menjadi pusat Jamaah Muslim Ahmadiyah di Amerika Serikat. Kini, telah berdiri kurang lebih 50 masjid yang didirikan oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah di seantero Amerika Serikat yang berpusat di Maryland.

Pada tahun 1924, Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmadra sendiri beserta 12 orang sahabatnya yang melakukan kunjungan ke berbagai negara di luar India seperti Inggris, Perancis, Suriah, Palestina, Mesir, dan Italia.

Selama kunjungannya di Inggris, beliau bertemu dengan berbagai diplomat dan duta besar dari Jepang, Suriah, Cekoslovakia, Ethiopia, Mesir, Amerika Serikat, Italia, Australia, dan Hungaria.

Beliau pun sekaligus meletakkan batu pertama Masjid Fazl di London yang merupakan masjid pertama di Inggris. Masjid Fazl pun diresmikan 2 tahun kemudian. Inilah masjid pertama yang berada di negeri Barat yang didirikan oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah.

Tahun 1955 merupakan kali kedua bagi Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmadra berkunjung ke Eropa. Ia mengunjungi Jenewa, Zurich, Hamburg, Den Haag, dan London.

Sepeninggal Khalifah Ke-II Jamaah Muslim Ahmadiyah, tampuk kekhalifahan Jamaah Muslim Ahmadiyah dilanjutkan oleh Hazrat Mirza Nasir Ahmad sebagai Khalifatul Masih Ke-III. Pada masa beliau, Islam Ahmadiyah sampai ke benua Afrika.

Beliau pun melakukan kunjungan ke Eropa sebanyak 5 kali pada tahun 1967, 1970, 1973, 1975, dan 1976. Beliaulah yang mengembalikan Islam kembali ke tanah Al-Andalus dengan merencanakan dan meletakan batu pertama pendirian Masjid Basharat di Pedro Abad, Kordoba, Spanyol pada tahun 1980.

Pembangunan dan penyebaran Islam di Spanyol kali ini tanpa ada pertumpahan darah dan kekerasan. Tidak seperti ketika Bani Umayyah yang melakukan ekspedisi militer ke Andalusia pada masa Al-Walid bin Abdul Malik. Ekspansi Islam ke Eropa yang dilakukan Jamaah Ahmadiyah ini dilakukan dengan damai dan aman oleh para khalifahnya.

Masjid Basharat di Pedro Abad, Spanyol pun diresmikan oleh khalifah Jamaah Muslim Ahmadiyah selanjutnya yaitu Hazrat Mirza Tahir Ahmadrh sebagai Khalifatul Masih ke-IV pada tahun 1982, 7 abad kemudian setelah masa Bani Umayyah.

Pada masa kekhalifahan Harza Mirza Tahir Ahmadrh lah kumandang Islam jauh lebih luas lagi dengan berdirinya Muslim Television Ahmadiyya (MTA) pada tahun 1992. Stasiun televisi milik Jamaah Muslim Ahmadiyah ini bersiaran 24 jam tanpa henti dengan satelit yang mengarah ke semua benua. Acara yang disiarkan pun fokus pada keagamaan dan menunjukkan keindahan Islam.

Zakir Naik pun mengakui kehebatan stasiun televisi ini ketika umat Islam membutuhkan stasiun televisi Islam yang seratus persen menyiarkan pesan Islam selama 24 jam penuh tanpa henti. Dalam penyebaran Islam, setelah kurang lebih satu bulan menjadi khalifah, beliau melakukan kunjungan ke Norwegia, Swedia, Denmark, Swiss, Belanda, Inggris, dan Australia.

Saat ini, Jamaah Muslim Ahmadiyah dipimpin oleh Hazrat Mirza Masroor Ahmadaba. Masa kekhalifahan beliau juga dipenuhi dengan kunjungan ke berbagai negara di seluruh benua guna menyampaikan pesan Islam yang damai dan supaya Perang Dunia Ketiga tidak akan terjadi.

Dalam menyampaikan pesan perdamaian, beliau mengadakan simposium perdamaian setiap tahunnya di Inggris dan berkunjung ke berbagai parlemen. Termasuk juga ketika meresmikan masjid di berbagai negara, beliau selalu mengadakan pertemuan pejabat, wartawan, dan warga sekitar. Dalam pertemuan atau resepsi tersebut, beliau acap kali mengungkapkan bahwa Islam bukanlah agama kebencian melainkan agama yang penuh cinta dan kasih sayang.

Maka, tugas setiap muslim untuk senantiasa memenuhi hak-hak setiap umat manusia bukan justru menghilangkan hak-hak manusia. Dengan upaya inilah seharusnya dan sebenarnya Islam disebarluaskan. Bukan dengan menebar kebencian dan peperangan. Tapi, ini justru dilakukan oleh banyak negara Islam.

Petinggi negara Islam justru saling serang bahkan membunuh sesama saudara muslim sendiri. Di sisi lain, sikap islami dan ajaran Islam tersebar begitu luasnya di negeri Barat. Jika maksud matahari terbit di barat tidak diartikan secara harfiah, maka maknanya adalah ajaran Rasulullah SAW yang digambarkan sebagai matahari berkembang pesat di negeri Barat itu semakin terang benderang.  

Referensi: