Sejak kecil saya ditanamkan rasa bangga menjadi bangsa Indonesia. Bangsa yang kaya akan keragaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Juga bangsa yang dikenal karena ramah, santun, dan toleran. Dan itu tidak dimiliki bangsa lain.

Di bangku sekolah, saya diajarkan untuk menghormati dan menghargai perbedaan lewat mata pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan). Mata pelajaran itu mengajarkan tenggang rasa dengan cara yang amat sederhana: mengucapkan selamat hari raya, menjenguk teman yang sedang sakit, tidak mengganggu ibadah pemeluk agama lain, dan sejenisnya.

Sejujurnya, waktu itu mata pelajaran PKn saya anggap pelajaran paling mudah bahkan bila dibandingkan dengan mata pelajaran olahraga. Kok bisa hal-hal yang sesederhana itu orang tidak tahu dan perlu diajarkan? Gampang banget! Bahkan saya tidak perlu membaca pertanyaan untuk menjawab soal yang berbentuk pilihan ganda.

Di rumah pun begitu. Saya diajarkan orang tua saya untuk bersikap ramah dan santun: tidak berbicara kasar dan jorok, berjalan agak membungkuk bila melewati orang yang lebih tua, mengucapkan “terima kasih” bila diberi sesuatu dan mengucapkan “maaf” bila melakukan kesalahan.

Saya menuruti itu tanpa bertanya apa gunanya. Sebab itu sudah jadi adab pergaulan, dan sudah sepantasnya dilakukan. Seperti yang ibu guru bilang di sekolah, bahwa sikap ramah dan santun seperti itu adalah identitas bangsa kita.

Suatu ketika, ada kejadian yang membuat saya mempertanyakan apa benar kita ini bangsa yang ramah, santun dan toleransi. Kejadian itu masih saya ingat betul. Satu pagi saat menemani ibu saya belanja di pasar, tiba-tiba suasana pasar jadi gaduh. Bukan karena teriakan pedagang ikan, melainkan karena teriakan “Copet, tolong copet!”.

Segera saja orang-orang berlarian mengejarnya; tua maupun muda, laki-laki dan perempuan, yang berseragam juga yang tidak. Ibu menarik saya menjauhi keramaian. Dari kejauhan saya lihat si pencopet itu terkepung, lalu dihajar beramai-ramai. Si pencopet menjerit minta ampun tapi tidak digubris, malah dibalas dengan umpatan dan bogem mentah. Saya tidak menyaksikan bagaimana kelanjutannya, karena sudah meninggalkan pasar dengan menaiki angkot.

Di dalam angkot saya masih merinding membayangkan pencopet tadi, lalu saya bertanya pada ibu mengapa pencopet itu dipukuli beramai-ramai. Ibu malah menceramahi saya, supaya sekolah yang benar, agar kelak tidak menjadi penjahat.

Sejak kejadian itu saya beroleh kesimpulan, bahwa keramahan ada pengecualian, kepada penjahat misalnya. Kemudian, bila menonton berita di televisi tentang kejadian yang sama, saya jadi bisa memakluminya. Saya tetap percaya kita adalah bangsa yang ramah.

Namun, pertanyaan itu kembali terulang di benak saya, tatkala saya menyandang status mahasiswa. Saat semester dua, saya baru aktif di organisasi Islam kampus. Sebagai anggota aktif saya diwajibkan ikut kegiatan “liqo” seminggu dua kali.

Awalnya saya menduga liqo ini semacam pengajian biasa. Saya pun menyambutnya dengan positif. Kegiatan itu diawali dengan membaca Al-Quran satu sampai dua lembar secara bergantian dan dilanjutkan dengan tausiah dan diskusi.

Setelah mendengar materi tausiah dan diskusi liqo saya jadi kecewa, karena topiknya antara lain: ancaman kristenisasi oleh organisasi mahasiswa kristiani yang baru muncul, perlunya organisasi kami menguasai kampus, dan jihad terhadap musuh Islam.

Saya kecewa karena ternyata liqo ini semacam kaderisasi dan menebar benih-benih kebencian. Di kampung halaman, saya hidup bertetangga dengan pemeluk agama berbeda. Saya kenal betul, mereka semua orang baik. Bagaimana mungkin saya harus memusuhi mereka yang kadang membantu keluarga saya? Setelah empat kali mengikuti liqo, saya memutuskan keluar dari organisasi tersebut.

Dari pengalaman itu, saya mendapati ternyata toleransi juga ada pengecualian, kepada yang berbeda agama contohnya. Tapi, mungkin itu hanya untuk segelintir orang saja. Saya masih yakin bangsa kita menjunjung tinggi toleransi.

Dan sekali lagi pertanyaan itu muncul, ketika mendengar berita Gubernur yang digadang-gadang berwatak santun dan rendah hati; tutur katanya halus, tidak sungkan tidur di masjid beralaskan sajadah, dan konon katanya “pribadi yang memesona”, ternyata malah menjadi tersangka kasus suap Hakim Pengadilan PTUN.

Dari berita itu, saya jadi tahu, terlihat santun bukan berarti orang tersebut benar-benar bersih. Bisa jadi kesantunannya, hanya kedok untuk melancarkan muslihatnya. Tapi, saya tak boleh mudah berburuk sangka. Itu hanya satu contoh. Meski sedikit ragu, saya yakin masih banyak orang yang benar-benar santun di hati dan perbuatannya.

Namun, sekarang saya jadi benar-benar ragu setelah mendengar berita rumah ibadah dibakar, makin gencarnya hasutan para penebar kebencian, ribut-ribut pemilu presiden yang tak kunjung selesai. Maka dari itu, izinkan saya bertanya: Benarkah kita bangsa yang ramah, santun, dan toleran? Ataukah itu hanya omong kosong belaka? Lantas, ke manakah materi mata pelajaran PKN dulu?