Pertanyaan ini telah berkembang beberapa waktu belakangan, dengan beragam analisis, asumsi, opini, hingga ramalan. Ini bermula dari sebuah link yang viral di berbagai media sosial, dimana dalam tayangan berdurasi sekitar 15 menit menampilkan Jared Diamond, intelektual Amerika dan seorang Professor di Bidang Geografi, berbicara tentang keruntuhan peradaban-peradaban masa lalu. 

Kuliah yang diinisiasi oleh Ted Talks ini sebenarnya merupakan kuliah pada tahun 2008 yang disampaikan oleh Jared, tapi muncul ke publik akhir-akhir ini tidak lain karena banyak pandangan-pandangan pesimis tentang masa depan Indonesia yang sering disebut akan bubar, punah maupun runtuh. 

Link berita ini kemudian disebarluaskan oleh para politisi, akademisi dan masyarakat umum dengan menambahkan penjelasan-penjelasan yang menurut saya, sama sekali tidak pernah disebutkan Jared dalam kuliahnya maupun dalam bukunya yang berjudul “Collapse”. Link berita ini saya peroleh dari sebuah grup WA dan saya diminta mengomentari hal tersebut. Benarkah Indonesia akan Runtuh? Dan benarkah, Jared meramalkan keruntuhan Indonesia, terutama dalam kuliah 15 menit itu?

Pertama, dalam video kuliah tersebut Jared Diamond tidak berbicara apalagi meramalkan keruntuhan Indonesia. Kuliah ini membahas tema besar keruntuhan yang ada dalam karyanya, “Collapse” yang terbit pertama kali pada tahun 2005 di Amerika dan diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia pada tahun 2014. Jared menyebut beberapa peradaban yang runtuh dimasa lalu seperti Pulau Paskah, Suku Maya, Anasazi, bangsa Viking dan Nors Greenland. 

Satu-satunya Jared menyebut Indonesia adalah ketika menyebut bahwa There are also societies today that may be close to collapse, such as Nepal, Indonesia and Columbia. Indonesia, Bersama dengan Nepal dan Kolumbia, adalah diantara negara yang mungkin dekat dengar keruntuhan. Jadi, Jared tidak mengatakan bahwa Indonesia sedang runtuh atau akan runtuh, tetap ada kemungkinan dekat dengan keruntuhan, jika melihat faktor-faktor kerusakan, populasi dan hubungan dengan negara tetangga. 

Oleh karena itu, kuliah ini bukanlah prediksi tentang keruntuhan Indonesia, karena memang Jared tidak sedang menjelaskan tentang Indonesia, apalagi prediksi keruntuhannya. Yang dijelaskan hanyalah, bagimana kerusakan lingkungan menjadi penyebab runtuhnya banyak peradaban besar dan mungkin jika terlambat diantisipasi akan dihadapi juga oleh negara-negara lain seperti Indonesia.

Jika demikian, pertanyaan penting selanjutnya, keruntuhan seperti apa yang dimaksud Jared dalam teorinya? Faktor apa saja yang menyebabkan sebuah peradaban atau masyarakat mengalami keruntuhan? Dan apakah Indonesia akan berakhir runtuh seperti peradaban di pulau Paskah atau Nors Greenland?

Dalam “Collapse”, yang dimaksud Jared dengan keruntuhan adalah penurunan drastis ukuran populasi manusia dan/atau kompleksitas politik/ekonomi/sosial, di wilayah yang cukup luas untuk waktu yang lama. Kita tidak bisa dengan sesukanya melabeli sebuah negara, masyarakat atau peradaban sebagai menghadapi keruntuhan hanya karena mengalami beberap tipe kemerosotan ringan dan diperlukan penentuan seberapa drastis kemerosotan suatu masyarakat sebelum dilabeli sebagai suatu keruntuhan.

Terdapat beberapa tipe kemerosotan ringan yang terjadi pada masyarat, yang meliputi kenaikan dan penurunan kecil kemakmuran secara normal, restrukturisasi kecil politik/ekonomi/sosial, pada masyarakat mana pun, penaklukkan suatu masyarakat oleh tetangga dekatnya, atau kemerosotan akibat meningkatnya tetangga, tanpa perubahan ukuran populasi total atau kompleksitas di keseluruhan wilayah; serta penggantian atau penggulingan elite pemerintahan oleh elite pemerintahan yang lain. Berdasarkan skala pengukuran seperti itu, kita bisa mengkategorikan negara dalam keruntuhan dan mana yang sekedar menghadapi kemerosotan.

Setidaknya, untuk menjawab pertanyaan selanjutnya, ada beberapa faktor penyebab keruntuhan pada masyarakat dan peradaban masa lalu. Ini meliputi; kerusakan lingkungan dan pertumbuhan populasi, perubahan iklim, permusuhan dengan negara tetangga, rusaknya hubungan dengan mitra dagang dan kegagalan menyelesaikan atau mengantisipasi masalah, terutama lingkungan.

Untuk persoalan ekologis, dapat dikategorikan kedalam beberapa persoalan penyebab keruntuhan yang mencakup penggundulan hutan dan penghancuran habitat, masalah tanah (seperti erosi, salinasi, dan hilangnya kesuburan tanah), masalah pengelolaan air, perburuan berlebihan, penangkapan ikan berlebihan, efek spesies pendatang terhadap spesies asli, pertumbuhan populasi manusia yang terkait dengan pola konsumsi serta peningkatan dampak per kapita manusia.

Itulah masalah-masalah yang dihadapi oleh beberapa peradaban besar di masa lalu, dan mungkin sekarang juga sedang dihadapi oleh negara-negara modern seperti China dan Australia.

Bagaimana dengan Indonesia?

Tentu saja, setiap negara punya potensi menuju kepada keruntuhan termasuk Indonesia. Tapi, menurut Jared aspek penting yang menentukan apakah suatu negara akan runtuh tergantung pada bagimana sikap mereka mengidentifikasi persoalan dan menyelesaikannya. Beberapa negara gagal mengidentifikasi persoalan lebih dini, sehingga akumulasi dari kemerosotan menghancurkan dengan segera masyarakat yang ada.

Indonesia bisa mengalami keruntuhan atau setidaknya kemerosotan, jika gagal mengantisipasi masalah sebelum masalah itu tiba. Ini bisa jadi karena kita mungkin tidak punya pengalaman sebelumnya terkait dengan masalah-masalah tersebut. Indonesia terbukti bisa melalui beberapa krisis dan kemerosotan; krisis keungan global, bencana nasional, perang saudara, gerakan radikal. 

Ini cukup menjadi pengalaman dalam mengatasi masalah-masalah yang sama akan muncul di kemudian hari. Apalagi pengalaman-pengalaman tersebut belum berjarak begitu jauh, sehingga ingatan itu belum terlupakan. Ingatan terhadap pengalaman dalam menyelesaikan dan menghadapi berbagai krisis membuat Indonesia tidak rentan terhadap berbagai ancaman krisis dan kemerosotan.

Alasan lain mengapa Indonesia bisa saja mengalami kemerosotan atau bahkan keruntuhan adalah masalah yang dihadapi berbentuk kecenderungan lambat yang tersamarkan oleh fluktuasi yang sangat naik-turun. Beberapa politisi di Amerika menyebut kecenderungan ini sebagai “kenormalan meraya”, untuk mengacu pada tren lambat yang tersamarkan diantara fluktuasi besar semacam itu. 

Contoh yang paling dekat dan jelas adalah persoalan perubahan iklim. Cuaca yang menjadi semakin buruk secara perlahan-lahan, sehingga sulit menyadari bahwa setiap tahun secara rata-rata hal tersebut sedikit lebih buruk daripada tahun sebelumnya, sehingga standar dasar seseorang yang dianggap “normal” bergeser secara bertahap dan tak disadari. Ini mungkin memerlukan waktu beberapa dasawarsa sebelum kita menyadari keadaan yang buruk telah benar-benar terjadi dan bahwa kondisi pada tahun-tahun sebelumnya jauh lebih baik.

Untungnya, Indonesia sebagaimana negara-negara modern lainnya, dengan perkembangan teknologi yang tumbuh secara eksoponensial dapat membaca perubahan-perubahan statistik semacam itu, misalnya kondisi lingkungan, pertumbuhan penduduk, kondisi habitat dan sumber daya alam, dengan lebih dini sehingga pemerintah dapat mengambil kebijakan untuk perlindungan, pencegahan serta perbaikan lingkungan maupun populasi manusia.

Bagiamana dengan faktor keruntuhan lainnya? Indonesia tidak sedang berperang dengan negara tetangga dan hubungan dagang dengan negara-negara lain berjalan dengan baik, kita tidak sedang mengalami penurunan populasi dalam skala yang besar atau kerusakan habitat dalam wilayah yang luas dalam jangka waktu yang Panjang. 

Indonesia tidak akan runtuh, terutama jika merujuk pada Analisa Martin Jacques yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu super power pada tahun 2025 hingga 2050, serta jika kita dapat mengantisipasi masalah, membangun hubungan yang baik dengan negara tetangga, mitra dagang, serta mengontrol populasi penduduk dan pengrusakan lingkungan.