Dulu, dan bahkan sampai sekarang, yang namanya istilah "Krisis Kepemimpinan" sangat menghantui hati dan pemikiran manusia Indonesia. Tak ada yang bisa diharapkan dari siapapun yang duduk di kursi pemerintahan.

Berbagai janji manis nan romantis sangat kita kenali dari mereka yang mengincar berbagai posisi sebagai kepala daerah dan wakil2 rakyat. Dan pada ujungnya tetap seperti itu. Terhenti pada janji manis, puitis, romantis, dan beberapa bagian bahkan menjadi iblis.

Beberapa bulan terakhir, hiruk pikuk pilkada serentak di beberapa provinsi di Indonesia masih mengiang di hati manusia Indonesia saat ini.

Dan klimaksnya hiruk pikuk itu adalah bagaimana pilkada DKI menjadi berita "terhangat" dan "terseksi" pada abad ini.

Beberapa masyarakat mungkin menaruh harapan dengan adanya sosok pemimpin yang benar2 memiliki integritas tinggi, melayani, membasmi budaya "keruk keuntungan" maupun "bagi2 proyek" oleh elit birokrasi busuk berhati iblis yang mencekik rakyat secara keji dengan jalan korupsi.

Berbicara mengenai kepemimpinan, sosok BTP (Ahok) menjadi ikon kepemimpinan nasional yang oleh beberapa manusia, sangat diakui kredibilitasnya sebagai pemimpin. Dan beberapa pihak lainnya sebaliknya, ia merupakan "ancaman" bagi Indonesia.

Entahlah, saya kurang paham ancaman seperti apa yang akan terjadi. Namun beberapa catatan  dan hikmah bisa kita petik dengan hadirnya BTP  pada dunia "seksi" politik di negeri ini. Semenjak ia menjadi wagub DKI sampai ia menjadi tahanan seperti saat ini, banyak cerita lucu nuansa politik di negeri "dagelan" yang kita cintai ini yang menerpa BTP.

Disaat beberapa harapan itu mulai tercium untuk merubah "negeri dagelan" ini, ternyata berbagai dagelan lain menyeruak masuk sehingga banyak hal yang tidak kita duga  terjadi.

Sebagai golongan minoritas, kita bicara soal pendukung ya, sangat tidak mungkin seorang BTP akan memperoleh dukungan yang baik dengan status minoritasnya. Ia pun menjadi gubernur DKI karena kebetulan bergandengan dengan Jokowi yang mencalonkan diri menjadi presiden RI.

Dagelan-dagelan negeri yang banyak tertata rapi menjadi banyak terekspos ke dunia realita, yang mana selama ini sudah mengakar pada jiwa busuk para tikus anggaran, satu persatu terbuka. Bukan hanya tentang BTP, tetapi semua elit birokrasi pemerintahan.

Kita jadi tahu mana saja mereka yang berperan besar pada aksi dagelan tersebut. BTP sebagai ikon kepemimpinan nasional, turut terombang-ambing dengan permainan di negeri dagelan meskipun bukan tak mungkin ia juga bagian dari wayang dagelan teraebut.

Kasus "Penistaan Agama" mencuat. Ternyata berbagai dagelan bermain dengan tensi tinggi dan gesit.

Bukan tentang kubu pro dan kontra, bukan tentang bumi datar dan bumi bulat, bukan tentang cebong atau sumbu pendek, dan juga bukan hanya tentang radikalisme dan komunisme. Tapi ini adalah tentang bagaimana para pendukung masing2 junjugannya menjadi terlibat aktif di dunia wayang dan dagelan negeri ini.

Caci maki, hate speech, umpatan kotor, serangan dan berbalas hinaan, saling membully, grup sosmed gosip, merasa menggenggam kebenaran dlsb menjadi bumbu-bumbu manis dan super lengkap untuk menjalan dagelan negeri ini.

Dan pada akhirnya, kita yang merindukan lenyapnya krisis kepemimpinan dan berbarengan dengan kredibel nya elit birokrasi yang dicontohkan BTP, malah menjadi pion2 dagelan-dagelan yang lebih dahsyat lagi.

Kita yang mengarapkan hadirnya pemimpin yang berkredibiltas tinggi, malah menjadikan bumi ini benar2 akan menjadi sarang "dagelan" tersebut.

Dulu Indonesia merindukan pemimpin hebat. Pas yang hebat muncul, ditolak dengan kasus yang hasilnya dinilai beberapa pihak sebagai "justice of subjectivity"

Permainan isu SARA, asupan energi finansial elit politik, kegiatan makar terselubung dan masih banyak lainnya.

Jika Tere Liye pernah menulis "Negeri Para Bedebah di Dunia Dagelan", maka pada hari ini Indonesia benar-benar sedang menjalani "Negeri yang benar-benar dagelan tersebut".


Ahmad Wardani.