Membaca novel komedi biasanya menimbulkan gelak tawa bagi si pembaca. Tapi apakah hanya gelak tawa yang bisa didapat pembaca saat membaca novel komedi? Tentu tidak, Edi AH Iyubenu memberi contoh dalam novel tipis terbarunya kali ini.

Balada Cito Citi, sebuah novel 132 halaman, memadukan komedi dan nilai-nilai keislaman -utamanya ushul fiqh- dalam ceritanya. Kaidah-kaidah ushul fiqh dijelaskan melalui dialog tokoh di dalamnya. Materi ushul fiqh yang biasanya terlihat ‘berat’ disajikan dengan renyah dan sederhana. Tak jarang gelak tawa muncul dari setiap dialog maupun tuturan.

Balada Cito Citi mengisahkan seorang laki-laki alumnus sebuah pondok pesantren di Kudus yang bekerja di Kafe Mainmain milik Mas Edi. Dengan umurnya yang sudah matang-pohon dan hampir jatuh Cito menjadi sosok yang rapuh. Hatinya mudah tergores, terutama oleh hal-hal yang menyangkut jodohnya. Seperti penggalan cerita berikut.

Anak itu beberapa hari lalu curhat sama aku, Mas,... Katanya kepikiran sama mamaknya yang rencana akan pulang dari Papua ke Demak dalam waktu dekat ini. Yang jadi Beban pikirannya ialah tuntutan mamaknya agar Cito segera menikah...” (hal. 15-16)

“Apa Cito segera kita nikahkan saja, ya, Mas Edi?” “Hah, dengan siapa? Bukankah itu masalah sejati Cito selama ini?” “Ya siapa saja. Misal sama Arko...” Aku ngakak . Mas Lord Tedjo pula. “Bajigur! Itu terus isi kehidupan rumah tangganya saling sabun-menyabuni gitu ya, bhaaa....” “Daripada tak kunjung dapat cewek, to, ya yang ada dulu sajalah solusinya, yang penting bersama kan, haaa....” (hal. 16)

Pertemuan antara Cito dan Citi terjadi di Kafe Mainmain. Setelah pertemuan itu, Cito merasa Dik Citi inilah jodohnya yang selama ini hilang. Tanda-tanda yang mengarah kepadanya banyak, misal saja nama panggilan mereka yang mirip Cito-Citi. 

Pun nama asli mereka, Muhammad Thoha bin Sulaiman bin Husein dan Siti Binti Thoha (bin Muhammad Thoha Bin Hasan). Walaupun mengarah pada asumsi cocoklogi, tapi Cito meyakini hal tersebut.

Tiga hari ini pikiran dan batin Cito morat-marit. Psikisnya tercabik-cabik. ... Makan, ingat Citi. Rebahan, ingat Citi. Ngudud, ingat Citi. Melipat baju, ingat Citi. Mau salat, ingat Citi. Saat salat, ingat Citi. Dzikiran, ingat Citi. Bahkan, doa pun ingat Citi. Saat mandi, ingat Citi. Apalagi pas sabunan dan pipis. (hal. 45)

Kekalutan pikiran yang menyelimuti Cito pada akhirnya membuat dirinya banyak berandai-andai. Termasuk soal menikah dengan Dik Citi.

Katanya, semalam Cito nangis sampai Subuh usai berjumpa Citi di kafe. Kata Cito pada Alfin, Citi belum clear. “Clear apanya ini, Fin?” “Itu ketidakjelasan Cito, Pak. Ia terlalu berandai menikah, padahal secara status jadian saja belum clear buat Citi. Haaa ...” (hal. 106).

Sementara itu, di balik kisah cinta Cito yang tragis, terselip beberapa dialog di mana pembaca tidak hanya di buat tertawa oleh tingkah Cito, tapi dibawa untuk menyelami nilai-nilai –meminjam istilah Kuntowijoyo- profetik dalam kehidupan. Misalnya saja nasihat-nasihat Mbahnyutz.

“Jadi gini, Cit. Hadirnya sayangmu pada Citi, ...yang lalu jadi masalah buatmu hingga kalut kisut kayak softeks bekas dipakai gorilla begitu ialah karena kamu tak menghadapkan semua itu kepada Allah Swt. ...umpama keinginanmu terwujud, kamu akan memandang dirimu sebagai sebab kehebatanmu belaka, tak ada karunia Allah Swt, jadinya kamu sombong. Jika gagal, karena juga tak ada Allah Swt dalam kejadian itu, kamu jadi kalut, depresi, stres, bahkan gila. Paham? (hal. 87-88).”

Dialog lain misalnya memperlihatkan ‘pelajaran’ ushul fiqh. Seperti saat Dik Citi menjelaskan terkait kaidah dar-ul mafasid mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih, menghindarkan keburukan-keburukan harus lebih diutamakan daripada mengejar kemaslahatan-kemaslahatan.

“Yaa, kan tujuan syariat itu sepenuhnya untuk mewujudkan kemaslahatan bagi hidup manusia, ...tujuan itu jelas seiring dengan semakin terkikis atau tiadanya kemudharatan, ya. Umpama kita dalam situasi yang bertentangan begitu, antara suatu kemadharatan dan suatu kemaslahatan, maka kita mesti mengutamakan mengambil penghindaran pada kemadharatan itu. Ini bukan hanya akan otomatis menegakkan kemaslahatan, tetapi yang paling utama mencegah terjadinya suatu mufasadah (hal. 124-125).”

Dari penjelasan Dik Citi tersebut lantas berlanjut pada penjelasan lain tentang penggunaan kaidah ushul fiqh dalam penyimpulan hukum. Bahwa dalam melakukan penyimpulan hukum tidak bisa hanya bersandar pada satu kaidah saja. Diperlukan dua, tiga, empat bahkan lebih kaidah, demi mendapatkan penyimpulan hukum yang baik.

Bagi kalangan awam –seperti saya- membaca novel ini tidak hanya berkutat pada kisah cinta tragis dan gelak tawa yang timbul. Melalui beberapa kaidah ushul fiqh yang disajikan memperlihatkan bahwa berislam tidak musti rigid. Ia dinamis dan bisa dipahami melalui dialog-dialog yang renyah.

Novel ini banyak menggunakan istilah dalam bahasa Jawa. Terdapat 121 catatan kaki yang menjelaskan arti dari istilah-istilah tersebut. Meskipun di bantu dengan penjelasan di catatan kaki, rasanya proses pembacaan akan lebih lancar dan mengalir apabila pembaca memang memiliki pengetahuan dasar tentang bahasa Jawa. Minimal bahasa Jawa dalam pergaulan sehari-hari.

Namun, kisah cinta Cito si lelaki yang psikisnya mudah tergores ini masih belum menemui titik terang. Setidaknya Citi masih belum jelas apakah ia jodohnya atau bukan. 

Meskipun kaidah al-yaqinu ya yuzalu bisysyak, suatu keyakinan tak bisa digugurkan oleh suatu keraguan, di pegang teguh oleh Cito. Akan tetapi, dar-ul mafasid mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih, menghindarkan keburukan-keburukan harus lebih diutamakan daripada mengejar kemaslahatan-kemaslahatan, menjadi kaidah yang di pegang Citi, termasuk dalam urusan merespons cinta Cito.