Usianya baru 16 tahun. Dia dengan gegap gempita presentasi online di depan pejabat eselon I, istri-istri pejabat eselon, petinggi bank, dan para peserta yang sebagian besar adalah ibu-ibu. 

Kaysan namanya, ia menyebut dirinya vlogger dan aktivis lingkungan di usianya yang masih sangat muda. Remaja itu diundang sebagai satu-satunya narasumber dalam sebuah webinar tentang permasalahan sampah yang diselenggarakan oleh organisasi wanita di sebuah kementerian besar. Dia bersanding dengan seorang keynote speaker yang merupakan pejabat eselon I.

Saya terhenyak ketika tanpa ragu dia berkata “kita harus menjaga lingkungan untuk generasi selanjutnya”. Ternyata ada anak remaja yang berpikir sangat jauh kedepan. Berpikir tentang generasi berikutnya. Saya yakin dibenak remaja itu belum ada bayangan untuk melanjutkan keturunan. Paling mentok naksir teman sekelas ataupun tetangganya. Itupun kalau dia tidak terlalu sibuk dengan segambreng kegiatan positifnya.

Saya terpukau dengan kisah anak itu. Tapi justru itu mengingatkan kepada diri saya sendiriDi usia yang sama dengannya saya masih sibuk mengejar nilai sekolah. Dan sudah merasa paling keren sedunia karena berhasil masuk kelas IPA. Receh sekali prestasi saya jika dibandingkan dengan remaja itu.

Kembali ke webinar. Salah seorang peserta bertanya tentang alasan yang melatarbelakangi remaja itu hingga memutuskan menjadi aktivis lingkungan. Saya berharap dia akan menjawab bahwa dia tergugah oleh salah satu film Hollywood ataupun buku bacaan di sekolahnya. 

Jelas terbaca, jika jawabannya demikian, saya pun akan terinspirasi untuk mengalihkan tanggungjawa saya. Sebagai orang tua, alih-alih berkaca atas kekurangan sendiri dan mencoba memperbaiki, saya akan menuntut para sineas ataupun penulis buku untuk menghasilkan karya yang lebih bermutu.

Dan seperti yang sudah saya tebak, harapan saya sirna seketika. Masih dengan nada bersemangat, remaja tersebut menjelaskan bahwa dia telah dididik sedemikian rupa oleh kedua orang tuanya, sehingga memiliki empati yang besar terhadap lingkungan. 

Dia yang merupakan anak Gen Z tidak mengenal kata malu ketika harus membawa bekal makanan kemana-mana. Untuk mengurangi sampah katanya. Dia juga tak ragu menolak selembar plastik yang diangsurkan oleh tukang sayur. Dan seperti yang kita tahu, dia sangat tergugah untuk membuat sekian karya video untuk kampanye lingkungan.

Nun jauh di Swedia, ada Greta Thunberg. Seorang gadis remaja berusia 15 tahun telah mengguncang dunia. Dia pertama kali mengenal perubahan iklim dari sekolahnya pada usia 8 tahun. 

Di usia yang masih seumuran dengan putri saya saat ini, dia telah memahami sebuah fakta penting. Bahwa perubahan iklim adalah akibat ulah manusia. Dan dia sangat marah mengetahui banyak pemerintah di dunia, termasuk pemerintah Swedia kurang memperjuangkannya.

Berbeda dengan Kaysan yang dididik oleh orang tuanya agar cinta lingkungan. Greta memilih menjadi pejuang lingkungan atas kehendaknya sendiri. 

Berkat kegigihannya dia berhasil menyentuh hati ibunya untuk meninggalkan karirnya sebagai penyanyi opera. Sebab utamanya sang ibu kerap menggunakan moda transportasi pesawat yang dianggap paling mengemisi untuk keliling Eropa.

Tak hanya menjadi pejuang lingkungan. Dia pun harus berjuang dengan penyakit asperger dan selective mutism yang dideritanya. 

Walaupun banyak pro dan kontra atas perjuangannya. Usahanya telah menjadikannya sebagai Time’s Person of the Year 2019. Serta menjadikannya sebagai Nominator Nobel Perdamaian.

Saya merenung kembali. Tak hanya nostalgia tentang masa lalu ketika saya masih anak remaja seusia mereka. Namun kali ini juga sebagai ibu beranak satu.

Saya merasa masih banyak tindak tanduk saya yang jauh dari ramah lingkungan. Saya kadang menyerah begitu saja ketika tukang sayur mengeluarkan bujukan mautnya agar saya bersedia menerima plastik keresek. Sambil dalam hati berkata, cuma ini aja kok. 

Walaupun saya tahu, keesokan hari bisa jadi saya kembali enggan mempertahankan argumen perkara kantong plastik dengan tukang sayur. 

Atau besok lagi saya akan kembali lupa untuk kesekian kalinya membawa kantong kain. Sehingga mau tak mau, kantong keresek harus saya terima dengan suka rela ketika berbelanja.

Permisifnya saya dengan enggan berargumen dan memelihara lupa ini, tentu berefek pada bertambahnya sampah yang seharusnya bisa dicegah. 

Sampah plastik yang tak dapat terurai puluhan hingga ratusan tahun pastilah bukan warisan yang diinginkan oleh anak saya. Warisan yang merepotkan ini adalah wujud nyata keegoisan saya.

Sebagai orang dewasa, saya merasa tergampar oleh aksi Kaysan dan Greta. Aksi mereka seolah mempertanyakan kegigihan dan keistiqomahan saya dalam merawat lingkungan. 

Duh jangan-jangan gara-gara menyepelekan hal-hal kecil dalam keseharian saya, saya telah berkontribusi mengundang serentetan bencana dikemudian hari. 

Lamunan saya buyar seketika karena Nifa, putri saya tiba-tiba bertanya “Ma, kata bu guru plastik itu bisa merusak lingkungan lho, kok kita masih pakai sih?"