There is a certain part of all of us that lives outside of time. Perhaps we become aware of our age only at exceptional moments and most of the time we are ageless. Milan Kundera (Immortality).

Banyak di antara kita yang takut menghadapi usia tua. Bahkan ada orang yang ketar-ketir setiap berhadapan dengan hari ulang tahunnya. Ia menyesali masa muda yang terlalu cepat meninggalkannya. Bukan hanya itu, semakin usia menua, ia juga semakin merasa dekat pada kematian.

Meski tidak semuanya berpikir sedramatis itu, tetapi masa tua merupa dalam bayangan paling angker di kepala banyak orang: sebuah fase ketika mereka akan mengalami banyak kehilangan.

Apalagi, sementara tahun semakin cepat bergulir, perubahan signifikan tak kunjung terjadi dalam hidupnya. Target-target yang dirancangnya penuh dengan bolongan yang tak terisi. Maka, hanya tubuh yang kian rapuh, daya ingat semakin melemah, dan orang-orang tercinta yang semakin menjauh. Lengkap sudah derita usia tua!

Rupanya untuk menutupi ketakutan itu, mengingat-ingat usia bukan menjadi pilihan banyak orang. Seperti kata Milan Kundera, akhirnya kita lebih sering lupa umur.

Meski detik demi detik terus mengalami penuaan, namun seringkali kita tak menyadarinya. Atau tak ingin menyadarinya. Dalam hal usia, kita lebih sering hidup di luar waktu. Peringatan tahunan itu hanya seremonial saja bagi sebagian orang. Bahkan banyak juga yang tak peduli dengan hari ulang tahunnya.

Tapi bukan gejala seperti itu yang dimaksud Kundera. Dalam novelnya yang jenaka itu, ia sampai pada kalimat tersebut melalui karakter utamanya, Agnes. Seorang perempuan setengah baya yang tengah memasuki fase puber kedua.

Bahasa tubuh Agnes yang menggelegak gairah, kerling manja matanya yang minta diperhatikan, persis seperti gadis mekar di usia 20an yang haus cinta dan pujian.

Agnes penuh dengan dorongan merasa cantik. Meski seluruh unsur kecantikan menyerah pada kulitnya yang tak lagi kencang. Gelambir lemak yang dengan sadis dipertontonkan oleh bikininya, kontras dengan senyum mesranya yang ditanggapi sorot mengejek dari sang pemuda.

Satir Kundera tentang manusia yang lupa usia itu bisa dipahami melalui berbagai penafsiran. Ia bisa saja merupakan sindiran keras terhadap manusia yang tak mau lepas dari unsur kekanakkan dalam dirinya, meski usia mengingatkannya untuk berbuat sedikit dewasa. Atau, bisa juga ditujukan untuk mereka yang masih genit-genitan, sementara banyak mata memandang was-was dan iba atas perilakunya itu.

Setiap jalan di mall atau nongkrong di cafe, saya sering menemukan bapak-bapak genit macam itu. Usianya beragam, tapi bisa diperkirakan antara 40-70 tahun.

Di cafe-cafe, biasanya banyak sosialita berkumpul pada jam-jam lewat makan siang. Gadis-gadis tajir yang kenes dan menggemaskan, para wanita karir yang tengah bertemu klien, ibu-ibu muda. Semuanya bening. Mereka inilah yang sering merebut perhatian bapak-bapak setengah baya yang terlambat puber itu.

Bapak-bapak ini (mungkin sebagian sudah uzur dan tak mampu bereproduksi), mereka bersikap seperti pemuda gagah yang siap memuaskan para perempuan bening itu. Matanya jelalatan, senyumnya seringkali mengundang.

Bukannya ingat umur, mereka malah seperti tertantang ketika perempuan yang dijadikan sasarannya hanya tersenyum simpul atau bersikap sedikit bengal.

Kalau kebetulan sedang berkumpul dengan teman sebayanya, bahan obrolan mereka kembali ke masa-masa saat di SMA: tentang perempuan. Tentang bagaimana menaklukkan perempuan (selalu yang muda yang mereka bicarakan), bagaimana cara bersenang-senang, bagaimana mendekati seorang bintang.

Di sosial media, bertebaran juga yang macam begini. Perempuan-perempuan (atau foto?) cantik, mereka add sebanyak-banyaknya. Begitu di-confirm, buru-buru deh kirim inbox. Kalau sudah kirim inbox, bahasanya selalu tendensius, penuh dengan puja-puji. Ujung-ujungnya minta ketemuan. Nah, lho!

Memang tidak perlu ditanggapi terlalu serius juga sih perilaku orang-orang yang oleh Anggun dalam lagunya disebut “Tua-Tua Keladi” itu. Mungkin akan jadi masalah kalau mereka mengarahkannya pada tindakan yang nyata. Selama sikapnya wajar-wajar saja, hanya sebatas memuji sembari memuaskan fantasinya tentang masa muda, tidak apa saya kira.

Lagipula, bisa jadi lewat ungkapan di atas Kundera tak bermaksud terlalu keras terhadap mereka yang lupa umur begitu berurusan dengan yang namanya gairah. Malah jika kita dekati lebih sabar, Kundera seperti ingin mengatakan bahwa tak apa selalu merasa muda. Tidak mengapa jika pada penghujung lima puluhan tahun Anda masih ingin merasakan jatuh cinta, atau sekedar mengenang-ngenang bagaimana rasanya dikagumi dan dipuja.

Hanya dengan begitu kita bisa mengambil jeda, menciptakan jarak dari kenyataan-kenyataan hidup yang seringkali tidak sesuai harapan. Dengan merasa dan “berusaha” muda, ketakutan-ketakutan akan masa depan yang blank itu (merenta dan akhirnya mati), bisa dihadapi lebih rileks pula.

Tapi ya, jangan terlalu kegenitan juga. Dan harus pandai memilih. Karena tidak banyak anak muda yang ingin diingatkan bagaimana rasanya menjadi tua, #eh.