Berangkat dari literatur yang baru saya tuntaskan, buku Tjokroaminto: Guru Para Pendiri Bangsa, buku bernas hasil riset jurnalistik Tempo dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) ini, saya merasa rugi, mengapa saya baru mengerti betapa agungnya kiprah pahlawan satu ini dalam merintis republik NKRI.

Demi menolak lupa, saya membuat catatan ringan di bawah ini. Kiranya mampu menambah manfaat sahabat semua yang mungkin “lupa”, atau belum membaca jasa pendahulu pendiri negerinya.

Masa Kecil Tjokroaminoto

Tjokroaminoto dilahirkan di desa Bakur, Madiun, Jawa Timur pada tanggal 16 Agustus 1882. Tjokro memiliki latarbelakang keluarga priyayi/bangsawan, kendati demikian, ia lebih memilih untuk menanggalkan watak kepriyaiyannya. Bahkan, dengan lantang ia berdiri di garda terdepan dan melawan pola pikir feodalisme yang telah berurat-berakar pada konteks masyarakat saat itu.

Tradisi laku kodok-berjalan jongkok di depan bangsawan-yang sudah mengakar di masyarakat ia hanguskan. Tjokro mengecam keras segala bentuk pendiskriminasian antara satu etnis dengan etnis lain. Dalam satu kesempatan ia menentang Belanda yang mengatakan bahwa masyarakat pribumi adalah seperempat manusia.

Tokoh yang oleh masyarakat di elu-elu kan sebagai ratu adil ini, oleh Takashi Shiraishi, dalam buku Zaman Bergerak : Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, disebut-sebut sebagai sosok yang dikarunai suara bariton yang mantap sehingga dapat didengar ribuan pendengarnya tanpa pengeras suara.

Tjokroaminoto dan SI (Sarekat Islam)

Haji Samanhoedi, sang pendiri Sarekat Islam, tak pernah menduga bahwa pemuda yang direkrut ke dalam kubunya kelak akan menumbangkannya dari organisasi yang ia rintis. Tjokroaminoto merupakan sosok yang begitu berwibawa dan mempunyai siasat pergerakan yang gemilang.

Terhitung sejak Kongres kedua SI di Yogyakarta pada 1914, yang berujung penetapan Tjokro sebagai ketua SI, Sarekat Islam mampu melejit dan kuasa menghimpun anggota hingga 2.5 juta orang.

Sarekat Islam yang bergerak memperjuangkan hak rakyat jelata mampu merebut simapti masyarakat. Segenap rakyat kecil maupun besar berduyun-duyun bergabung dengan Sarekat Islam dengan satu tujuan : Tegakkan Keadilan!

Boedi Otomo, komunitas pergerakan sebelum Sarekat Islam, pun kalah tenar. Pasalnya, komunitas yang berisikan priyayi tersebut dianggap lembek kepada Belanda dan masih kental dengan pembedaan etnis masyarakat. Amat bertolak belakang dengan SI yang mementingkan suara derita rakyat.

Rumah Ideologi dan Dialog

Demi penambahan dana keluarga, rumah Tjokroaminoto yang berada di Gang Peneleh VII, Surabaya, sebagiannya dijadikan kos-kosan. Sukarno, Kartosoewirjo, Musso, Herman Kartowisastro, Alimin, adalah penghuni kos-kosan tersebut. Orang yang tinggal di kos-kosan itu kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin pergerakan rakyat dan dengan identitas ideologi yang beragam.

Anhar Gonggong, sejarawan dan dosen Pascasarjana Studi Sejarah UI, menyebut Tjokroaminoto dan rumahnya sebagai Rumah Ideologi dan Dialog. Anhar Gonggong menceritakan, “Rumah Tjokroaminoto merupakan rumah ideologi-dialogis, tempat bertemunya tokoh-tokoh yang mempunyai ideologi yang berbeda.

Di rumah itu, berkunjung Semaon, Alimin, dan Tan Malaka yang berideologi Marxis Komunis. Bahkan juga di sana pernah tinggal Sukarno, yang di kemudian hari menjadi pimpinan utama partai yang berideologi nasioanlis. Pendiri Darul Islam/Negara Islam Indonesia, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirji, yang pernah jadi sekretaris pribadinya juga pernah di rumah itu.

Dengan demikian, rumah itu digambarkan baik oleh kawan maupun lawan sebagai pemimpin yang sangat sederhana dan ramah-menjadi rumah ideologis sekaligus rumah dialogis. Rumah tempat bertemunya sejumlah tokoh yang berbeda ideologi, tapi sekaligus sebagai rumah tempat berdialog di antara tokoh-tokoh yang berbeda ideologi itu.”

Tjokroaminoto ibarat sekolah politik yang pandai mengatur kebebasan berpikir murid-muridnya. Sebuah pelabuhan yang memberangkatkan kapal-kapal ke berbagai tujuan, itulah Tjokroaminoto.

Islam-Sosialisme ala Tjokroaminoto

Menyaksikan gairah Semaon sebagai ketua SI Semarang yang mulai condong kepada paham Marxis-Komunis, Tjokro gelisah. Tjokro tidak lantas melabeli paham kiri sebagai sesat. Ia seorang demokrat. Jalan dialog coba ia tempuh. Perpecahan, baginya, adalah petaka yang besar yang harus dimusuhi. Ia menjadi wakil-wakil dua aliran dan kemudian menggagas “Sosialisme Islam”.

Gagasan tersebut ia tuangkan ke dalam sebuah buku tipis berjudul Islam dan Sosialisme yang diterbitkan pada 1924. Tjokroaminoto menulis, “Cita-cita sosialisme di dalam Islam tidak kurang dari tiga belas abad umurnya dan bukan berasal dari pengaruh Eropa.

Ketika itu tidak ada propaganda sosialisme yang teratur seperti sekarang ini. Asas-asas sosialisme itu telah dikenal pada masyarakat zaman Nabi Muhammad dan asas tersebut lebih banyak dijalankan di Eropa dalam zaman manapun sesudah zamannya Nabi kita itu.”

SI dan SI Merah

SI Merah adalah Sarekat Islam berhaluan komunis yang didirikan oleh Semaon, tokoh bekas ketua SI Semarang penganut paham komunis dan kelak menjadi Ketua Partai Komunis Indonesia. sedang yang tetap setia pada sosialisme Tjokroaminoto adalah Sarekat Islam.

Pada 1914 Semaoen terpikat pada Tjokro yang sosialis, dan mulai menimba ilmu darinya. Tjokro bukanlah guru Semaoen satu-satunya. Di Surabaya, pada 1915, ia juga berguru kepada Sneevilet. Sneevilet merupakan sosok guru yang membawa paham komunis dari Belanda. Di Semarang ia dirikan ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging) untuk menyebar-luaskan paham komunisme di Indonesia.

Keakrabannya dengan Sneevilet membuahkan hasil. Ia terpengaruh paham komunisme Sneevilet. Sejak Semaoen resmi dilantik menjadi ketua SI Semarang ia gencar menyebarkan paham “anti-Tuhan”nya. Antara ia dengan Tjokro mulai tampak ketidakakuran.

Kerapkali terjadi perbedaan yang meruncing antara guru dan murid ini. Bahkan, pada suatu saat, ia lantang menyebut Tjokro sebagai antek Belanda akibat kesediaan Tjokro bergabung dalam Volksraad atau Dewan Rakyat besutan Belanda.

Tahun 1919 adalah titik kulminasi perselisihan Tjokro dan Semaoen dalam Sarekat Islam. Hal demikian karena Tjokro mengeluarkan peraturan bahwa kader partai dilarang untuk memiliki organisasi lain. Semaoen yang saat itu menjadi Ketua Perhimpunan Komunis Indonesia berang dan akhirnya memilih hengkah dari SI. Pada 1920, Semaoen mengambil alih ISDV dan mengganti namanya dengan Partai Komunis Indonesia.

Bung Karno Sebagai Representasi Tjokro

Sukarno, prokalamator kemerdekaan Indonesia, adalah murid didik Tjokroaminoto. Semasa nge-kos di rumah Tjokro, Sukarno banyak memperhatikan pola tingkah Tjokroaminoto, terutama soal kiat berpolitik.

Bukan hanya melalui diskusi dengan sederet tokoh muda yang lain di hadapan Tjokroaminoto. Setiap ada tamu yang datang menjumpai Tjokro, membicarakan ihwal politik, Sukarno muda mencuri dengan pembicaraan, menguras wawasan politik dari pertemuan tersebut.

Gaya tulisan Sukarno yang menggelora, model pidatonya yang menyala-nyala, disebut-sebut oleh banyak sejarawan sebagai representasi Tjokroaminoto saat menggalang kekuatan rakyat melawan kolonial dengan Sarekat Islam-nya.

Trilogi ajaran politik Tjokro

Setinggi-tinggi ilmu pengetahuan, sepandai-pandai siasat, semurni-murni tauhid, adalah trilogi ajaran Tjokroaminoto saat menapaki dunia pergerakan.

Setinggi-tinggi ilmu pengetahuan berarti serius memperhatikan kualitas pendidikan rakyat. Sepandai-pandai siasat bermakna cemerlang mempelajari taktik perpolitikan serta membersihkan motif  busuk di dalamnya. Semurni-murni tauhid yakni memahami agama dengan kearifan berpikir dan nalar yang matang.

Mempelajari Tjokroaminoto adalah suatu hal yang penting dalam rangka memajukan kualitas bangsa dan negara. Kita berdoa saja, semoga muncul Tjokro-Tjokro lain yang mampu menyemarakkan pesta demokrasi di Indonesia dan mampu membawa Indonesia menuju negara yang tinggi mengangkasa!