Selama beberapa dekade terakhir, Timur Tengah, khususnya Suriah, menjadi sorotan dunia internasional dengan berbagai konflik yang terjadi di dalamnya. Adanya intervensi dan kuatnya pengaruh sektarianisme membuat konflik yang terjadi sulit dihentikan meskipun beberapa kali dilakukan negosiasi.

Terbaru, invasi yang dilakukan oleh militer Turki pasca ditariknya pasukan Amerika Serikat telah menewaskan ratusan milisi Kurdi di Suriah Utara. Konflik Timur Tengah seolah tidak ada habisnya dan selalu menimbulkan gejolak baru.

Secara umum, konflik di Suriah bermula dari pecahnya gesekan antara pengunjuk rasa yang menuntut kebangkitan Arab dan rezim Bashar al-Assad. Perlakuan rezim yang menghalau pengunjuk dengan cara brutal mengakibatkan terbentuknya pasukan milisi pembebasan untuk menentang rezim Bashar al-Assad. Dari sinilah rentetan konflik Suriah dimulai.

Sebenarnya konflik di Timur Tengah sudah terjadi pada kurun waktu 1980 hingga 1988 yang melibatkan dua negara, yaitu Irak dan Iran. Perang ini bermula ketika pasukan Irak melakukan invasi ke wilayah Iran Barat pada 22 September 1980. Perang Irak dan Iran dilatarbelakangi permasalahan wilayah dan politik. Perang ini menelan hampir setengah juta korban jiwa dan kerugian hingga miliaran dolar.

Meskipun merupakan perang militer, namun salah satu faktor yang melatarbelakangi peperangan ini adalah sektarianisme. Saddam Husein yang merupakan penganut Sunni merasa khawatir dengan adanya pemberontak Syi’ah di negaranya. Sektarian memang menjadi salah satu faktor terjadinya polarisasi di dunia Timur Tengah selain pengaruh politik.

Selain sektarianisme, adanya intervensi dari negara lain, terutama Amerika dan Rusia, menambah panjang catatan konflik Timur Tengah. Amerika yang tidak sejalan dengan rezim Assad memberikan bantuan kepada SDF (Syrian Democratic Force) yang melakukan perlawanan kepada Assad selama hampir delapan tahun.

Konflik selama delapan tahun antara SDF dan Assad ternyata tidak menghalangi mereka untuk bersekutu. Amerika yang menarik pasukan bantuan untuk SDF beberapa bulan yang lalu memberikan celah bagi Turki untuk melakukan invasi ke Suriah. SDF yang ditinggal Amerika tentu harus mencari sekutu baru untuk menghadapi pasukan Turki dan tentara bayarannya.

Invasi Turki tersebut tentunya membuat Assad geram mengingat selama ini Turki mendukung pasukan Syrian National Army yang notabene menentang Assad. Akhirnya, mau tak mau, Assad harus memberikan bantuan kepada SDF untuk sama-sama memukul mundur pasukan Turki.

Pengaruh dari konflik Timur Tengah tidak hanya dirasakan di kawasan perang saja, namun lebih dari itu. Propaganda juga dilakukan di banyak negara untuk memicu permusuhan bahkan peperangan. Salah satu negara yang menjadi sasaran propaganda adalah Indonesia. Propaganda banyak kita temukan beredar di jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.

Propaganda juga bisa keluar dari para pemimpin kelompok sendiri, seperti Assad yang menyebut para penentangnya sebagai kelompok pendukung ISIS.

Di sisi lain, kelompok penentang Assad juga menyebut Assad sebagai pembunuh. Propaganda-propaganda seperti inilah yang seharusnya menjadi perhatian penting bagi rakyat Indonesia. Umumnya, propaganda yang banyak ditemukan di Indonesia adalah ajakan untuk melawan pemerintahan dengan cara-cara brutal.

Propaganda memang menjadi senjata ampuh untuk meningkatkan dukungan dan pengaruh. Bahkan pada perang dunia I pun tak luput dari isu propaganda yang dilakukan pemerintah untuk memengaruhi masyarakatnya. Selain itu, propaganda juga dilakukan dengan menargetkan negara lain sebagai upaya untuk mencari dukungan dan melemahkan dukungan musuh.

Di Inggris sendiri, propaganda dilakukan dengan menggunakan perempuan sebagai alatnya. Para perempuan dibuat seolah-olah sangat terancam oleh musuh. Pemerintah Inggris menggambarkan pasukan Jerman yang kala itu menjadi musuhnya sebagai pasukan yang menakutkan dan memiliki perlakuan biadab kepada perempuan.

Sebagai bangsa yang memiliki persatuan yang kuat, masyarakat Indonesia diharapkan tidak terpengaruh dengan isu-isu propaganda yang diembuskan. Propaganda yang dilakukan umumnya mengajak untuk memusuhi satu kelompok yang dianggap salah dan keharusan untuk melenyapkannya. Kecerdasan menyaring informasi tentunya sangat diperlukan mengingat isu-isu permusuhan sebagian besar beredar di dunia maya.

Konflik yang terjadi di Timur Tengah selama hampir satu dekade ini seharusnya menjadi catatan penting bagi bangsa Indonesia betapa pentingnya kedamaian. Permusuhan dan fanatisme buta hanya akan menciptakan polarisasi di tengah-tengah masyarakat dan berpotensi besar menimbulkan konflik. Selain itu, beberapa konflik yang terjadi di tanah air semestinya sudah cukup membuat kita jera untuk memupuk permusuhan dan fanatisme buta.

Satu hal yang perlu kita sadari bahwa kemajuan bangsa tidak akan pernah tercapai dengan kondisi negara yang terlibat konflik. Konsentrasi pembangunan akan terbagi bahkan hilang hanya untuk menghentikan konflik.

“Mata ganti mata hanya berakhir membuat seluruh dunia buta.” Agaknya kalimat dari Mahatma Ghandi inilah yang dapat kita pegang di tengah kondisi dunia yang sedang di ambang peperangan. Permasalahan tidak akan selesai dengan memupuk dendam dan kebencian. Kebencian akan sirna dengan perasaan cinta dan kasih sayang.